Berita Peristiwa

Gunung Dukono Dua Kali Erupsi Pagi Ini – Tinggi Letusan Lebih dari 2 KM

Gunung Dukono Mengalami Dua Letusan Pagi Ini, Kolom Abu Mencapai Lebih dari 2 KM

Gunung Dukono Dua Kali Erupsi Pagi – Gunung Dukono, yang berada di Provinsi Maluku Utara dan berstatus Level II (Waspada), kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Senin (11/5) pagi. Berdasarkan laporan terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terjadi dua kali erupsi dalam waktu singkat, dengan tinggi kolom abu mencapai lebih dari 2 kilometer di atas permukaan laut. Kedua letusan tersebut terjadi pada waktu berbeda, mengisyaratkan intensitas yang tetap stabil namun berulang, sehingga memicu peringatan bagi masyarakat sekitar dan pengunjung wisata.

Proses Erupsi dan Kondisi Cuaca

Dalam laporan harian yang dirilis oleh PVMBG, letusan pertama tercatat pada pukul 06.30 WIT atau setara 04.40 WIB, dengan tinggi kolom abu mencapai 2.700 meter di atas puncak Gunung Dukono. Kolom abu yang dihasilkan berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah utara. Erupsi kedua terjadi pukul 08.14 WIT atau 06.14 WIB, di mana tinggi abu mencapai lebih dari 2.000 meter. Dalam laporan tersebut, PVMBG menyebutkan bahwa aktivitas vulkanik ini memengaruhi kualitas udara sekitar kawah, terutama di wilayah yang lebih dekat.

“Erupsi Gunung Dukono pada pagi hari ini menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan letusan sebelumnya, namun ketinggian abu tetap mencapai lebih dari 2 km,” jelas PVMBG dalam laporan terbaru.

Analisis cuaca juga menunjukkan bahwa arah angin saat erupsi berlangsung menyebabkan abu menyebar ke sektor utara dan timur laut. Hal ini memperparah risiko terhadap area sekitar, terutama bagi pendaki yang tidak siap menghadapi kondisi udara yang berubah. Meski tidak ada laporan kerusakan infrastruktur, PVMBG tetap memantau secara intensif untuk memastikan tidak ada peningkatan yang signifikan.

Kondisi Aktivitas Vulkanik Sebelumnya

Sebelumnya, pada 8 Mei 2026, Gunung Dukono telah mengalami erupsi yang mengakibatkan tiga korban jiwa. Dua pendaki asing dari Singapura dan satu pendaki lokal ditemukan tewas setelah upaya pencarian yang berlangsung selama tiga hari. Kepala Kantor Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengungkapkan bahwa jenazah korban ditemukan di sekitar 13 meter dari bibir kawah, dalam kondisi yang memperlihatkan interaksi langsung dengan material vulkanik.

“Kedua korban berada dalam satu titik dengan posisi terhimpit batu besar. Keduanya saling berpelukan dan kondisi tubuh sudah tidak utuh,” tambah Iwan.

Erupsi yang terjadi pada 8 Mei menjadi pengingat bagi masyarakat sekitar akan risiko yang terus mengancam. Sebagai bentuk pencegahan, PVMBG telah memberikan peringatan untuk menghindari aktivitas mendaki dalam radius 4 kilometer dari kawah utama, terutama jika terjadi aktivitas vulkanik berulang. Sejumlah petugas juga telah memberikan imbauan untuk menggunakan masker pengaman saat berada di area yang terkena abu.

Erupsi pada hari ini menunjukkan bahwa Gunung Dukono masih aktif dan berpotensi mengalami fluktuasi. PVMBG mengatakan bahwa terdapat aktivitas gempa dangkal dan suara gemuruh yang terdengar di sekitar kawah. Meski tidak ada indikasi letusan besar, pihak terkait tetap memantau pergerakan kubah lava dan gas yang keluar. Fenomena ini selaras dengan pola erupsi yang sering terjadi di Gunung Dukono, yang dikenal sebagai satu dari beberapa gunung berapi di Indonesia yang memiliki frekuensi letusan tinggi.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa erupsi yang terjadi pada 11 Mei 2026 tidak berbeda jauh dari yang terjadi sebelumnya. Kolom abu mencapai ketinggian serupa, namun distribusinya lebih terbatas karena arah angin yang berbeda. Kepala Badan Geologi, Dr. Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa Gunung Dukono sudah dikenal sebagai gunung berapi yang memiliki sejarah letusan rutin, sehingga masyarakat di sekitarnya perlu siap menghadapi kondisi ini. PVMBG juga mengimbau untuk tetap memantau cuaca dan berita terkini mengenai aktivitas vulkanik.

Kondisi Gunung Dukono yang terus berkembang memicu kekhawatiran bagi wisatawan dan penduduk lokal. Meski erupsi tidak mengarah pada kejadian luar biasa, seperti letusan besar atau badai abu global, tetapi secara lokal tetap dapat memengaruhi kesehatan dan aktivitas harian. Untuk menghindari risiko, PVMBG memberikan rekomendasi agar masyarakat mengenakan alat pelindung diri, seperti masker, dan menghindari area yang berisiko tinggi.

Leave a Comment