Empat Desa di Luwu Sulsel Terendam Banjir, 10 Hektar Sawah Gagal Panen
Empat Desa di Luwu Sulsel Terendam – Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali dihantam bencana banjir yang mengguncang empat desa di wilayah tersebut. Banjir ini terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan selama beberapa hari, memicu genangan air yang merendam puluhan rumah warga dan menyebabkan kerusakan signifikan pada lahan pertanian. Dari laporan terkini, 10 hektar sawah yang siap dipanen terkena dampak serius, dengan sebagian besar tanaman mengalami kerusakan parah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi para petani yang mengandalkan hasil panen sebagai sumber penghidupan utama.
Penyebab dan Dampak Banjir di Luwu Sulsel
Bencana banjir yang melanda empat desa di Luwu Sulsel, yaitu Rante Belu, Riwang, Temboe, dan Sampano, diduga disebabkan oleh curah hujan tinggi yang terus-menerus turun sejak Jumat (8/5). Menurut informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), fenomena ini terjadi karena kombinasi hujan lebat yang diiringi angin kencang, sehingga memperparah kondisi drainase daerah. Dampaknya, kawasan pertanian yang berada di dataran rendah terancam, sementara akses jalan trans Sulawesi terganggu, memperketat kesulitan logistik bagi warga yang terdampak.
“Banjir di Luwu Sulsel berlangsung sejak hari Jumat dan masih terus berlangsung hingga hari Minggu. Genangan air di beberapa desa mencapai tinggi 1-2 meter, mengakibatkan sebagian rumah warga terendam dan lahan pertanian rusak parah,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam pernyataannya.
Penanganan dan Upaya Pemulihan
Setelah bencana banjir melanda empat desa, pemerintah daerah dan BPBD setempat langsung bergerak untuk menangani situasi darurat. Tim relawan dan warga setempat turut serta membersihkan genangan air dan membantu pendataan kerusakan. Menurut data terbaru, total 95 unit rumah warga terkena dampak, sementara sekitar 10 hektar lahan pertanian di daerah tersebut kini menjadi lahan yang tidak siap dipanen. Dalam upaya pemulihan, pihak berwenang sedang mengumpulkan data kerusakan untuk menentukan besaran bantuan yang dibutuhkan.
“Kita masih memantau kondisi di lapangan. Banjir yang melanda empat desa di Luwu Sulsel tidak hanya menghambat kegiatan sehari-hari warga, tetapi juga mengganggu ketahanan pangan,” tambah Muhari. Ia menambahkan bahwa penanganan bencana ini memerlukan kolaborasi antara BPBD, instansi terkait, serta masyarakat setempat.
Di Kecamatan Larompong, dua desa terparah adalah Rante Belu dan Riwang, di mana kondisi genangan air memaksa warga mengungsi sementara waktu. Sementara di Kecamatan Larompong Selatan, Temboe dan Sampano juga mengalami kerusakan serupa. Petani di wilayah tersebut mengeluhkan bahwa tanaman padi yang sudah siap dipanen tergenang air, sehingga memicu kerugian besar. Seorang warga desa yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “Sawah kita hancur, hasil panen tahun ini jadi tak terwujud. Masa depan kita kini tergantung pada bantuan pemerintah.”
Bencana banjir ini juga mengganggu transportasi darat, karena jalan-jalan utama tergenang dan tidak bisa dilalui kendaraan. Menurut BPBD Luwu, upaya pengeringan lahan pertanian sedang dilakukan dengan menggunakan pompa dan alat bantu lainnya. Selain itu, pihak pemerintah mengirimkan bantuan makanan dan perbekalan dasar untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak. Dampak ekonomi bencana ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, terutama bagi para petani yang mengandalkan hasil pertanian sebagai penghasilan utama.
Kondisi cuaca yang masih lembap membuat peningkatan risiko banjir kembali terjadi jika hujan berlanjut. Menurut prakiraan BMKG, wilayah Luwu Sulsel masih diprediksi akan mengalami hujan lebat hingga Senin (12/5). Meski begitu, warga tetap berupaya mengeringkan lahan dan memulihkan kondisi rumah mereka. Pemerintah daerah juga berharap masyarakat bisa segera bangkit dari bencana ini dengan bantuan yang diberikan.