Dua Mahasiswa Tersangka Pembakaran Fakultas Pertanian USK Aceh
Konflik Mahasiswa Mengemuka Selama Proses Penyelidikan
What Happened During kejadian penyerangan dan pembakaran di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh telah memicu perhatian publik. Dua mahasiswa, WS (22) dan MAM (20), ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik Polresta Banda Aceh memeriksa 18 saksi. Keduanya tergolong dalam kelompok mahasiswa Fakultas Teknik, yang diduga memicu aksi kekerasan terhadap fasilitas kampus Fakultas Pertanian. Insiden ini menjadi bahan pembicaraan di lingkungan akademik dan masyarakat luas, karena menggambarkan konflik internal yang terjadi di kampus.
“Benar, dua mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka. Setelah pemeriksaan terhadap 18 saksi dan dilakukan gelar perkara, kami menetapkan WS dan MAM sebagai tersangka dalam perkara pengrusakan serta pembakaran Fakultas Pertanian USK dan fasilitas lainnya,” ujar Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, kepada wartawan, Sabtu (30/5).
Dizha menambahkan, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 262 juncto Pasal 308 juncto Pasal 521 juncto Pasal 522 KUHP, yang menyangkut tindak pengrusakan, pembakaran, serta keributan antar kelompok. Selain itu, penyidik juga mengumpulkan barang bukti seperti tiga sepeda motor rusak, dua pecahan botol yang diduga digunakan sebagai bom molotov, satu bom utuh, pakaian pelaku, serta DVR CCTV dari Fakultas Pertanian.
Perkembangan Konflik yang Memicu Insiden
Peristiwa ini bermula dari ketegangan antara mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik USK yang terjadi beberapa hari sebelum pembakaran. Pada 18 Mei 2026, mahasiswa Fakultas Pertanian dikabarkan melintas di depan gedung Fakultas Teknik sambil menggeber kendaraan. Ketegangan memuncak saat terjadi keributan di Sekretariat BEM USK, dengan seorang mahasiswa Fakultas Teknik mengalami luka dan harus dirawat di rumah sakit. What Happened During pemicu konflik ini menjadi pertanyaan utama bagi pihak kampus.
Setelah upaya mediasi yang dilakukan pihak kampus, ketegangan tidak berhenti. Pada 21 Mei sekitar pukul 00.20 WIB, sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian diduga melakukan penyerangan ke Fakultas Teknik, menyebabkan kerusakan dan korban luka ringan. Aksi tersebut memicu respons massa dari Fakultas Teknik, yang menyerang Fakultas Pertanian dengan melempar batu dan membawa bom molotov. Hasilnya, sejumlah bangunan dan laboratorium Fakultas Pertanian mengalami kerusakan dan kebakaran.
Proses Penyidikan Terus Berjalan
Penyidik Polresta Banda Aceh sedang mengumpulkan fakta lebih lanjut untuk mengungkap seluruh kronologi kejadian. Dalam waktu dekat, mereka akan memeriksa 18 saksi tambahan, sehingga total saksi yang diperiksa mencapai 36 orang termasuk dua tersangka. What Happened During kejadian tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi pihak universitas untuk mencegah konflik serupa di masa depan.
Pihak USK menyatakan insiden ini terjadi dalam rangka perdebatan antar fakultas yang memanas akibat kesenjangan pendapat dalam pengelolaan kegiatan kampus. Beberapa mahasiswa menyebutkan bahwa aksi pembakaran merupakan bentuk protes terhadap kebijakan yang mereka anggap tidak adil. Namun, pihak penyidik menegaskan bahwa aksi ini bersifat spontan dan tidak terencana.
Kerusakan dan Dampak pada Fasilitas Kampus
Kerusakan yang terjadi mencakup beberapa bangunan utama Fakultas Pertanian, termasuk laboratorium dan ruang kelas. Dalam laporan penyidik, ditemukan tiga sepeda motor yang rusak, dua pecahan botol yang diduga digunakan sebagai alat bom molotov, serta satu bom utuh. Selain itu, pakaian pelaku dan CCTV juga disita sebagai bukti. What Happened During insiden ini menimbulkan kekhawatiran tentang perlindungan aset kampus dan keselamatan mahasiswa.
Menurut pengakuan saksi, aksi pembakaran dilakukan secara terencana dengan menggunakan bahan bakar minyak dan bahan peledak. Dua pelaku, WS dan MAM, diduga berperan aktif dalam mengkoordinasikan serangan tersebut. Dizha menegaskan bahwa penyidik masih memburu saksi-saksi lainnya untuk melengkapi data. “Kami sedang menggali lebih dalam untuk memastikan tidak ada tersangka tambahan,” jelasnya.
Reaksi Masyarakat dan Upaya Penyelesaian
Insiden ini menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat Aceh. Beberapa keluarga korban menyampaikan kekecewaan, sementara mahasiswa lain meminta pihak kampus lebih transparan dalam menangani konflik. What Happened During aksi kekerasan ini dianggap sebagai bagian dari dinamika persaingan antar fakultas yang sering terjadi di kampus USK.
Kampus USK juga berkomitmen untuk mempercepat proses penyelesaian konflik ini. Mereka berencana mengadakan pertemuan khusus antar fakultas untuk mencari solusi bersama. “Kami ingin memastikan hubungan antar mahasiswa tidak terputus dan kampus tetap menjadi tempat belajar yang aman,” kata Wakil Rektor USK, dalam pernyataan resmi.
Dengan What Happened During pembakaran Fakultas Pertanian USK, pihak berwajib dan kampus berupaya menggali akar masalah agar insiden serupa tidak terulang. Selain itu, langkah-langkah pencegahan seperti pelatihan kesadaran keamanan dan mediasi lebih dini diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik. Proses hukum dan investigasi dianggap penting untuk menegakkan keadilan dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tinggi.
