Topics Covered: BKKBN Target 1 Juta Keluarga Cegah Stunting dengan Program GENTING
Topics Covered mencakup upaya Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) dalam menurunkan angka stunting melalui program GENTING. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mempercepat pengurangan kasus stunting, khususnya di kalangan keluarga rentan seperti keluarga miskin dan kelompok usia kritis. Dengan menetapkan target 1 juta keluarga untuk bergabung, BKKBN berupaya memperkuat pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama peran orang tua asuh.
Strategi Pemetaan Keluarga Berisiko
Sebagai bagian dari Topics Covered, pendataan keluarga menjadi dasar penting dalam menyusun program GENTING. Hasil Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan bahwa sekitar 41,4 juta keluarga memiliki anggota yang berisiko stunting, seperti ibu hamil, ibu menyusui, atau balita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,1 juta keluarga teridentifikasi sebagai keluarga risiko stunting (KRS). Angka tersebut dibagi lagi berdasarkan indikator seperti desil 1 dan kondisi ‘4 terlalu’—melahirkan terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, atau memiliki anak terlalu banyak.
“Dari 8 juta sekian, kemudian disaring untuk desil 1, artinya ini keluarga miskin, jumlahnya sekitar 1 juta,” ujar Yuni Hastuningsih, Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan di BKKBN, saat diskusi di Jakarta Timur.
Program GENTING mengandalkan pendekatan gotong royong dengan membangun kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. KRS yang menjadi prioritas utama, seperti keluarga tanpa akses air minum aman atau jamban layak, diberikan bantuan pendampingan untuk memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Dalam Topics Covered, penekanan pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sebagai masa kritis pertumbuhan memastikan intervensi diberikan tepat waktu.
Kolaborasi dan Implementasi Lokal
Sebagai bagian dari Topics Covered, program GENTING menekankan kolaborasi antarlembaga dan partisipasi aktif masyarakat. BKKBN bekerja sama dengan lembaga-lembaga lokal serta komunitas untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya nutrisi, sanitasi, dan perawatan kesehatan. Selain itu, pelatihan orang tua asuh menjadi komponen kunci, dengan fokus pada pembentukan kebiasaan sehat dan penguatan kapasitas keluarga dalam menjaga pertumbuhan anak.
“Keluarga miskin yang termasuk dalam desil 1, kira-kira 1 juta, akan mendapat perhatian lebih khusus karena faktor ekonomi sering memengaruhi kesehatan ibu dan anak,” tambah Yuni. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini memastikan bantuan berbasis kebutuhan, dengan pengukuran kemajuan dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan balita dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Stunting masih menjadi tantangan utama dalam kesehatan anak Indonesia. Meski angka stunting turun dari 2025, data menunjukkan prevalensi sebesar 18,8 persen. Dalam Topics Covered, BKKBN merancang strategi berkelanjutan agar target penurunan hingga di bawah 10 persen pada 2030 dan di bawah 5 persen pada Indonesia Emas 2045 tercapai. Kunci sukses terletak pada pengintegrasian layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi untuk memastikan keberlanjutan program.
Upaya Peningkatan Akses dan Kualitas Layanan
Program GENTING juga mencakup peningkatan akses ke layanan kesehatan, terutama di daerah terpencil. Dalam Topics Covered, BKKBN fokus pada penyebaran informasi melalui kegiatan edukasi dan pendampingan langsung. Misalnya, keluarga yang tidak memiliki jamban layak (2,9 juta) atau akses air minum yang tidak aman (1,7 juta) diberikan bantuan pembangunan fasilitas dan pelatihan manajemen lingkungan.
“Kita memperkuat intervensi di 1.000 hari pertama kehidupan untuk mengurangi risiko stunting secara sistematis,” tutur Yuni. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya mengurangi penyebab langsung stunting, tetapi juga membangun fondasi kesehatan jangka panjang untuk generasi mendatang.
Keluarga berisiko stunting sering kali menghadapi tantangan multidimensi, termasuk kurangnya pendidikan kesehatan dan keterbatasan sumber daya. Dalam Topics Covered, BKKBN menggandeng mitra seperti organisasi masyarakat dan pihak swasta untuk menyediakan pendekatan holistik. Misalnya, distribusi makanan tambahan, pengurangan makanan bergizi rendah, dan konseling kesehatan bagi ibu hamil menjadi bagian dari strategi yang diterapkan. Selain itu, peran media massa dan digital juga dimaksimalkan untuk memperluas jangkauan informasi.
