Berita Health

Awas, Lemak Perut Bisa Picu Diabetes hingga Penyakit Jantung

ilustrasi-perut-buncit-3_169
Foto : Thomas Hernandez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Lemak Perut: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Metabolik
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Lemak Perut: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Metabolik

Kabarberita911.com – PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) baru-baru ini menggelar peluncuran Kampanye Edukasi Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta pada hari Jumat, 14 Agustus 2026. Dalam acara tersebut, para ahli menekankan bahwa penumpukan lemak di area perut bukan hanya masalah estetika, melainkan kondisi serius yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Karakteristik Khusus Lemak Perut

Em Yunir, yang menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni), menjelaskan bahwa lemak visceral memiliki sifat unik dibandingkan jaringan adiposa di bagian tubuh lain. Lemak ini aktif dalam proses metabolik dan mampu menghasilkan berbagai hormon yang memengaruhi keseimbangan tubuh.

“Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia bukan hanya lemak ngumpul terus beratnya jadi tinggi, tetapi dia mengandung banyak hormon lain,” ujar Yunir.

Oleh karena itu, penilaian obesitas tidak boleh hanya mengandalkan angka berat badan semata. Kondisi ini memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk memahami risiko kesehatan yang sebenarnya.

Risiko Kesehatan yang Mengintai

Penumpukan sel lemak, khususnya di sekitar rongga perut, menjadi pemicu berbagai gangguan metabolik. Resistensi insulin merupakan salah satu kondisi yang erat kaitannya dengan obesitas dan dikenal sebagai faktor risiko utama diabetes. Selain itu, kondisi ini juga berkontribusi terhadap hipertensi, ketidakseimbangan kolesterol, hingga penyakit kardiovaskular.

Risiko tersebut menjadi semakin kompleks ketika beberapa gangguan metabolik terjadi secara bersamaan. Hal ini terutama terlihat pada individu yang telah memasuki usia lima puluh hingga enam puluh tahun. Pada kelompok usia ini, mediator inflamasi terus bersirkulasi dalam tubuh, memperburuk kondisi kesehatan.

“Kalau sudah masuk usia 50-60 tahun, sudah muncul diabetes, tambah lagi dua, ada diabetes, ada kegemukan. Jadi ada mediator inflamasi yang terus bergerak di dalam tubuh kita,” jelasnya.

Lebih dari Sekadar Berat Badan

Em Yunir mengingatkan bahwa massa otot juga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Seseorang bisa memiliki berat badan tinggi tanpa disertai kelebihan lemak jika massa ototnya cukup besar. Karena itu, pemeriksaan komposisi tubuh menjadi sangat penting untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kondisi fisik.

Pemeriksaan ini membantu mengukur jumlah lemak sekaligus massa otot secara bersamaan. Dengan data yang akurat, penanganan medis dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap individu.

“Jangan-jangan otot kita kurang, karena berat badannya tinggi itu bukan karena komponen ototnya, tetapi karena lemaknya. Jadi artinya nanti kita bisa mengatur treatment-nya yang lebih tepat,” kata Yunir.

Indikator Lingkar Pinggang

Selain pemeriksaan komposisi tubuh, pengukuran lingkar pinggang merupakan indikator praktis untuk mendeteksi penumpukan lemak perut. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa dari Kementerian Kesehatan menempatkan parameter ini sebagai penanda risiko penyakit kardiometabolik.

Berdasarkan konsensus Asia Pasifik, batas lingkar pinggang untuk kategori obesitas ditetapkan pada angka lebih dari sembilan puluh sentimeter bagi laki-laki dan lebih dari delapan puluh sentimeter untuk perempuan.

Pentingnya Deteksi Dini

Em Yunir mendorong masyarakat untuk mulai melakukan deteksi dini sejak usia muda. Perubahan bentuk tubuh, berat badan, dan lingkar perut perlu dipantau secara rutin. Deteksi awal memungkinkan identifikasi penumpukan lemak sebelum berkembang menjadi gangguan metabolik yang lebih serius.

Upaya pencegahan ini harus didukung oleh perubahan pola makan dan gaya hidup. Jika diperlukan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dan pemeriksaan komposisi tubuh dapat membantu menentukan strategi penanganan yang optimal.

Obesitas sebagai Penyakit Kronis

Ay Lie Widjaya, Chief Operating Officer Commercialization PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), menyoroti bahwa obesitas masih sering dipandang sebagai masalah pribadi. Banyak orang menganggap kondisi ini sekadar akibat kurang disiplin atau malas berolahraga.

Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan dan dukungan yang tepat. Tidak ada individu yang mampu mengatasi kondisi ini sendirian tanpa bantuan profesional.

“Obesitas bisa dikelola dan ditangani dengan dukungan yang tepat. Tidak ada seorang pun yang bisa menangani sendiri,” kata Ay Lie.

Kampanye #BeraniBicaraBerat diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap obesitas. Dengan demikian, perhatian terhadap berat badan tidak hanya berfokus pada penampilan luar, tetapi juga menjadi bagian integral dari upaya menjaga kesehatan metabolik dalam jangka panjang.

Frequently Asked Questions

What is Awas Lemak Perut Bisa Picu Diabetes?

Awas Lemak Perut Bisa Picu Diabetes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Awas Lemak Perut Bisa Picu Diabetes matter?

Awas Lemak Perut Bisa Picu Diabetes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment