Berita Climate

Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA, Kabut Asap Makin Tebal

nasa-rilis-kebakaran-lahan-gambut-meredupkan-langit-di-indonesia-1788491039782_169
Foto : Thomas Hernandez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Kalimantan Nyaris Hilang dari Pandangan Satelit: Asap Karhutla 2026 Mencapai Tingkat Mengkhawatirkan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kalimantan Nyaris Hilang dari Pandangan Satelit: Asap Karhutla 2026 Mencapai Tingkat Mengkhawatirkan

Kabarberita911.com – Pulau Kalimantan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu paru-paru terbesar di planet ini, kini nyaris tak dapat dikenali dari orbit bumi. Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar permukaan pulau itu telah tertutup lapisan asap pekat hasil kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini bukan sekadar gangguan visual dari angkasa luar — ia menandai bahwa siklus kebakaran tahunan di Indonesia telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dibanding perkiraan awal musim.

Data dari Orbit: Apa yang Terekam Satelit

Potret tersebut direkam pada Selasa, 1 September 2026, oleh instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang terpasang di satelit Aqua milik NASA. Selain menangkap gambaran visual kabut asap yang membentang luas, satelit tersebut juga mendeteksi sejumlah titik panas (hot spot) tersebar di berbagai bagian Kalimantan. Data ini menjadi bagian dari rangkaian pemantauan yang dilakukan pemerintah Indonesia bekerja sama dengan lembaga antariksa Amerika Serikat dan NOAA melalui sensor MODIS serta VIIRS, guna melacak aktivitas api secara near-real-time.

Platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan, misalnya, mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026. Angka tersebut mencerminkan skala kebakaran yang telah berlangsung sekitar satu bulan penuh dan terus meluas seiring memburuknya kondisi cuaca.

El Nino Kuat Memperparah Skenario Terburuk

Robert Field, peneliti di Columbia University yang juga mengembangkan instrumen Global Fire Weather Database untuk prakiraan cuaca kebakaran secara real-time, menilai bahwa fenomena El Nino kategori kuat yang sedang berlangsung menjadi pemicu utama eskalasi kebakaran kali ini. Ia memprediksi bahwa kondisi 2026 berpotensi melampaui kejadian serupa pada 1997 dan 2015.

“Indonesia baru berjalan sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kita sudah melihat aktivitas api melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015,” ujar Field.

“El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering di daerah-daerah yang rawan kebakaran dan memperparah situasi, persis seperti yang sudah kita perkirakan,” tambahnya.

Sebagai konteks, pada musim kebakaran 2015, setelah api membakar lahan selama lebih dari tiga bulan, total emisi gas rumah kaca yang dilepaskan mencapai 1,75 miliar ton setara karbon dioksida — angka yang melampaui total emisi tahunan Jepang. Hingga Rabu, 2 September 2026, kebakaran yang baru berjalan sekitar satu bulan telah melepaskan emisi setara sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran 2015. Jika tren ini berlanjut hingga puncak musim, angka akhir tahun ini berisiko mendekati atau bahkan melampaui rekor tersebut.

Mekanisme Api Gambut: Mengapa Kebakaran Bawah Tanah Sulit Dipadamkan

Di bawah permukaan Kalimantan, Sumatra, dan Papua, terdapat lapisan gambut yang secara alami menyimpan volume air sangat besar. Dalam kondisi normal, kelembapan gambut ini membuat api sulit menyala dan menyebar. Namun ketika kekeringan ekstrem melanda, lapisan gambut mengering hingga menjadi bahan bakar yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan dengan cara konvensional.

Menurut BMKG, sekitar 90 persen wilayah Indonesia mencatat curah hujan sangat minim hingga nihil pada awal Agustus 2026. Indonesia saat ini berada di tengah cengkeraman kekeringan parah dan meluas yang memengaruhi hampir seluruh wilayah kepulauan.

“Kebakaran di permukaan sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api sudah menjalar ke bawah tanah, api tersebut sangat sulit dihentikan,” kata Field.

“Apinya akan terus membara sampai hujan turun di bulan Oktober atau November,” lanjutnya.

Artinya, selama beberapa minggu ke depan, emisi dari kebakaran gambut akan terus terakumulasi tanpa adanya mekanisme alami untuk memutus rantai pembakaran. Setiap hari tanpa hujan berarti tambahan emisi yang tidak dapat dihindari dengan teknologi pemadaman saat ini.

Keterbatasan Teknologi Pemantauan

Ironisnya, semakin parah kebakaran, semakin sulit satelit mendeteksinya. Sensor MODIS dan VIIRS memiliki batas kemampuan: api yang tertutup asap tebal, terhalang awan, berada di bawah kanopi hutan, atau menyala di bawah permukaan gambut tidak akan terekam. Akibatnya, ketika kebakaran mencapai puncak intensitasnya, jumlah titik panas yang dilaporkan justru bisa menurun secara artifisial.

“Peristiwa asap terparah, secara paradoks, justru menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS,” ungkap Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science.

Akar Masalah: Warisan Infrastruktur 1990-an

Cochrane menyoroti bahwa kerawanan kebakaran saat ini bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem, melainkan juga buah dari keputusan pembangunan yang diambil puluhan tahun lalu. Pada dekade 1990-an, pembangunan saluran irigasi dan pengeringan rawa gambut skala besar untuk proyek cetak sawah menurunkan muka air tanah secara drastis di kawasan lahan basah. Perubahan hidrologi tersebut membuat gambut yang semula selalu basah kini rentan mengering total setiap musim kemarau.

Di atas lahan gambut yang telah dikeringkan itu, perkebunan kelapa sawit dan konsesi hutan tanaman industri kini mendominasi bentang alam. Kombinasi antara gambut yang mudah terbakar dan aktivitas manusia di atasnya menciptakan kondisi di mana satu percikan kecil dapat memicu kebakaran yang membakar ratusan hektar dalam hitungan jam.

Dampak di Darat: Sekolah, Taman Nasional, dan Penerbangan

Kabut asap yang membentang dari Kalimantan kini mengganggu kehidupan sehari-hari di Indonesia dan negara-negara tetangga. Beberapa sekolah telah mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke mode daring. Sembilan taman nasional ditutup sementara untuk melindungi satwa dan pengunjung. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan karena jarak pandang di bandara turun drastis. Pejabat pemerintah telah mengeluarkan peringatan bahwa sebagian besar populasi terpapar partikel asap berbahaya, yang meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular terutama pada kelompok rentan.

Panggilan untuk Aksi Berkelanjutan

Cochrane menekankan bahwa pola respons masyarakat terhadap kebakaran hutan cenderung siklikal: perhatian melonjak ketika El Nino memunculkan asap, lalu mereda begitu musim hujan tiba. Ia menyerukan pendekatan yang berbeda.

“Orang-orang cenderung baru memberikan perhatian pada kebakaran ini saat El Nino terjadi, lalu melupakannya begitu saja setelahnya,” tuturnya.

“Kita membutuhkan fokus dan komitmen yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kondisinya tidak terlalu buruk, untuk benar-benar menyelesaikan masalah ini. Kebakaran ini menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar,” lanjutnya.

Di tengah musim panas 2026 yang kini memasuki fase paling kritis, setiap hari tanpa hujan berarti tambahan emisi yang tak terelakkan. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah kebakaran akan memburuk, melainkan seberapa cepat respons kebijakan dan teknis dapat diaktifkan sebelum dampak kesehatan, ekologis, dan iklimnya menjadi tidak dapat dipulihkan.

Frequently Asked Questions

What is Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA?

Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA matter?

Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment