Berita Climate

BMKG: Ratusan Wilayah Indonesia Tak Diguyur Hujan Lebih dari 2 Bulan

Foto : Mary Thomas - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Kondisi Kering Melanda Ratusan Daerah di Indonesia Selama Dua Bulan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kondisi Kering Melanda Ratusan Daerah di Indonesia Selama Dua Bulan

Kabarberita911.com – BMKG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sejumlah besar wilayah di Indonesia mengalami masa tanpa hujan yang cukup lama. Lebih dari dua bulan lamanya, hujan tidak turun di berbagai daerah. Bahkan, beberapa lokasi tercatat masuk dalam kategori ekstrem dengan durasi kering mencapai 90 hari. Berdasarkan prediksi BMKG, situasi kering ini diperkirakan akan terus berlangsung pada awal Agustus mendatang dan semakin meluas ke wilayah lain.

Data Monitoring Hari Tanpa Hujan

Hasil pemantauan yang dilakukan BMKG pada Dasarian III Juli 2026 mencatat sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) Sangat Panjang dengan durasi antara 31 hingga 60 hari. Selain itu, terdapat 306 titik lainnya yang mengalami HTH Ekstrem Panjang melebihi 60 hari.

“Hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH Sangat Panjang selama 31-60 hari,” kata BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 4-10 Agustus 2026.

“Sedangkan 306 titik pengamatan lainnya mengalami HTH Ekstrem Panjang lebih dari 60 hari,” lanjutnya.

Wilayah-wilayah yang terdampak HTH sangat panjang hingga ekstrem tersebar di berbagai pulau. Kawasan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta bagian selatan Sumatra dan Kalimantan menjadi salah satu yang terdampak. Maluku Utara dan sebagian wilayah Sulawesi juga mengalami kondisi serupa.

Rekaman menunjukkan bahwa wilayah dengan hari tanpa hujan terpanjang tercatat selama 90 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Dampak dan Risiko yang Muncul

Berdasarkan penjelasan BMKG, kelanjutan kondisi kering dalam durasi panjang perlu mendapat perhatian serius. Hal ini karena dapat mengurangi ketersediaan air dan meningkatkan kerentanan lahan serta vegetasi terhadap risiko kebakaran. Indikasi memburuknya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Hasil pemantauan citra satelit memperkuat temuan tersebut dengan mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bahkan berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak. Pergerakan asap ini dominan mengarah ke barat laut.

Menurut BMKG, fenomena ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah.

Potensi Hujan Lebat Masih Ada

Meskipun kondisi kering mendominasi sebagian besar wilayah, BMKG menyebutkan bahwa potensi hujan lebat secara lokal masih dapat terjadi. Pada periode 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di beberapa daerah. Aceh mencatat curah hujan sebesar 164,3 mm per hari, Sumatera Utara 144 mm per hari, Sumatera Barat 102,5 mm per hari, Kepulauan Riau 97 mm per hari, dan Kalimantan Utara 59 mm per hari.

Kondisi ini didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial serta anomali OLR negatif yang mengindikasikan peningkatan tutupan awan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

“Meskipun kondisi musim kemarau semakin menguat di banyak wilayah, peluang hujan lebat secara lokal masih tetap ada,” jelas BMKG.

Frequently Asked Questions

What is BMKG?

BMKG is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BMKG matter?

BMKG matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment