Perjalanan Warga Indonesia ke Luar Negeri Turun Tajam pada April 2026
Important Visit – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah kunjungan warga negara Indonesia (WNI) ke luar negeri pada April 2026. Dalam periode ini, jumlah perjalanan mencapai 643.661 kali, menurun hingga 30,54 persen dibandingkan April 2025. Angka ini mencerminkan dampak dari Important Visit yang terjadi sebelumnya, yang menyebabkan penurunan signifikan dalam aktivitas wisatawan domestik.
“Tahun ini, kunjungan WNI ke luar negeri mengalami penurunan sebesar 30,54 persen secara tahunan,” jelas Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (2/6).
Secara bulanan, perjalanan WNI pada April 2026 juga mengalami penurunan 18,85 persen dibandingkan Maret 2026. Dalam bulan sebelumnya, jumlah kunjungan mencapai 793.158 kali, namun pada April mengalami penurunan hingga 643.661 kali. Penurunan ini terjadi meskipun sektor pariwisata dan ekonomi global mulai pulih setelah masa pandemi.
Kunjungan WNI ke luar negeri dari Januari hingga April 2026 mencapai 3,14 juta, turun 3,49 persen dibandingkan total 3,25 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski penurunan terjadi, BPS menegaskan bahwa perjalanan wisatawan domestik masih menjadi komponen penting dalam dinamika ekonomi Indonesia. Namun, Important Visit di bulan April diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi tren ini.
Dampak Important Visit pada Pariwisata Nasional
Pengunjungan ke luar negeri oleh WNI yang menurun tajam pada April 2026 berpotensi memberikan tekanan pada sektor pariwisata nasional. Important Visit tersebut, yang berlangsung di akhir Maret hingga awal April, mungkin memengaruhi keputusan wisatawan untuk melakukan perjalanan internasional. Dengan kondisi ekonomi global yang tidak stabil, banyak pemudik lebih memilih menghabiskan dana mereka di dalam negeri.
Menurut analisis BPS, perjalanan ke luar negeri WNI biasanya mencapai puncak pada bulan Mei dan Juni, saat liburan sekolah dan lebaran. Namun, kondisi pada April 2026 menunjukkan penurunan signifikan. Tren ini juga berdampak pada jumlah pendapatan dari sektor pariwisata, yang sebelumnya diprediksi akan mencapai angka tertentu tahun ini.
Perubahan Dalam Peningkatan Wisman
Di sisi lain, jumlah wisman yang datang ke Indonesia pada April 2026 meningkat 14,75 persen secara bulan ke bulan. Total kunjungan mencapai 1,25 juta, naik dari 1,16 juta pada Februari dan 1,09 juta pada Maret. Kumulatif Januari hingga April 2026, jumlah wisman mencapai 4,68 juta, naik 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari data masuk, jumlah wisman pada April 2026 tercatat sebanyak 1.080,08 ribu melalui pintu utama, sementara 168,57 ribu melalui pintu perbatasan. Transportasi udara masih menjadi moda dominan, dengan kontribusi sebesar 82,35 persen. Dua bandara utama, Ngurah Rai Bali dan Soekarno Hatta-Banten, menjadi pusat utama penerima wisman, berkontribusi hingga 87,78 persen dari total kunjungan melalui udara.
Dalam hal distribusi negara asal, wisman dari Malaysia tetap mendominasi, mencapai 207,96 ribu kunjungan atau 16,65 persen dari total. Diikuti oleh warga Australia (157,96 ribu atau 12,65 persen) dan Tiongkok (133,99 ribu atau 10,73 persen). Singapura menyumbang 111,44 ribu kunjungan atau 8,92 persen. Peningkatan wisman ini menunjukkan bahwa ekspor jasa pariwisata Indonesia masih memperlihatkan keberlanjutan meski ada tekanan dari Important Visit dalam perjalanan WNI.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa meskipun Important Visit menyebabkan penurunan kunjungan WNI ke luar negeri, sektor wisatawan asing tetap stabil. Ini menandakan bahwa daya tarik destinasi Indonesia tetap terjaga, bahkan dengan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Namun, BPS mengingat
