Berita Bisnis

Danantara Bakal Bangun PSEL Rp3 T, Tuntaskan Polemik Sampah DIY

strategi-pengolahan-sampah-menjadi-energi-listrik-1757655375071_169
Foto : Karen Johnson - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Investasi Strategis Danantara Bakal Bangun PSEL Rp3 T untuk Selesaikan Krisis Sampah di Yogyakarta
  2. Related Reading

Investasi Strategis Danantara Bakal Bangun PSEL Rp3 T untuk Selesaikan Krisis Sampah di Yogyakarta

Kabarberita911.com – Permasalahan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta kini memiliki solusi nyata melalui proyek infrastruktur besar. Danantara Investment Management (DIM) berkolaborasi dengan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Proyek ini menjadi jawaban atas tumpukan sampah yang selama ini menjadi beban pemerintah daerah.

Proses penandatanganan nota kesepahaman dilaksanakan di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, pada hari Selasa tanggal 11 Agustus. Dalam acara tersebut, para pihak membahas kesiapan lahan, ketersediaan pasokan sampah, serta rencana pembangunan secara bertahap. Dokumen ditandatangani oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tahapan Konstruksi dan Jadwal Realisasi

Fadli Rahman, Director of Investments DIM sekaligus CEO Denera, mengonfirmasi bahwa proyek ini telah memasuki fase persiapan konstruksi. Tahapan yang sedang berjalan meliputi kajian lingkungan, desain teknik, dan pematangan lahan. Pembangunan fisik dijadwalkan dimulai pada Januari 2027 dengan target penyelesaian pada akhir 2028. Fasilitas ini diharapkan sudah mampu mengolah sampah mulai kuartal III atau IV tahun 2028.

Nilai investasi diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun sampai Rp3 triliun, yang tentunya nanti tergantung dari hasil desain itu sendiri pada tahun ini, kata Fadli.

Lokasi pembangunan PSEL berada di atas lahan milik Pemda DIY seluas 5,7 hektare di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Area ini berdekatan dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan yang saat ini sudah tidak beroperasi. Secara teknis, sampah akan masuk ke dalam bunker tertutup dan kedap udara untuk menjalani proses pengeringan selama lima hari. Air lindi yang dihasilkan akan diolah kembali, sedangkan sampah yang telah kering akan digunakan sebagai bahan bakar untuk memanaskan air hingga menghasilkan uap. Uap tersebut selanjutnya memutar turbin guna menghasilkan listrik.

Kapasitas Produksi dan Dampak Ekonomi

Pada tahap awal, fasilitas ini diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 18-20 megawatt. Energi yang dihasilkan diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan sekitar 15 ribu rumah tangga di wilayah DIY. Fadli juga menjelaskan bahwa kerja sama dengan PLN akan dilakukan melalui penandatanganan perjanjian jual beli listrik, serupa dengan lokasi PSEL lainnya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa pasokan sampah menjadi faktor kunci keberlanjutan operasional PSEL. Ia menyebutkan bahwa Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul telah menandatangani kesepakatan untuk memasok sampah. Total pasokan dari wilayah Kartamantul diproyeksikan mencapai 1.099 ton per hari. Pemda juga membuka peluang keterlibatan Gunungkidul dan Kulon Progo sesuai kebutuhan pengelolaan sampah masing-masing daerah.

Dua kabupaten (Gunungkidul dan Kulon Progo) masih bisa menanggulanginya sendiri, masih terbatas gitu. Jadi, tiga ini yang memerlukan partisipasi pihak lain untuk investasi, ujar Sultan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menambahkan bahwa PSEL merupakan bagian dari strategi penanganan sampah di DIY. Potensi timbulan sampah di wilayah ini mendekati 2 ribu ton per hari. Setiap pemerintah daerah telah melakukan pengelolaan melalui TPS, bank sampah, serta berbagai fasilitas pengolahan lainnya. Setelah melalui proses tersebut, masih tersisa sekitar seribu ton per hari yang akan dikelola melalui PSEL.

Selain berkontribusi pada transformasi energi, investasi PSEL juga memberikan manfaat ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Proyek ini diperkirakan menyerap antara 500 hingga 1.000 tenaga kerja pada tahap konstruksi dengan prioritas bagi tenaga kerja lokal. Saat beroperasi penuh, fasilitas tersebut membutuhkan sekitar 100 hingga 150 tenaga kerja.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Proyek PSEL Danantara

Berapa nilai investasi total proyek PSEL di DIY? Nilai investasi diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun sampai Rp3 triliun, tergantung hasil desain yang akan diselesaikan pada tahun ini.

Kapan proyek PSEL mulai beroperasi? Pembangunan fisik dimulai Januari 2027 dengan target selesai akhir 2028. Fasilitas diharapkan sudah mampu mengolah sampah mulai kuartal III atau IV tahun 2028.

Berapa kapasitas pengolahan sampah per hari? Pada tahap awal, fasilitas mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dengan potensi pasokan total 1.099 ton dari wilayah Kartamantul.

Berapa banyak listrik yang dihasilkan? Proyek ini diproyeksikan menghasilkan listrik sebesar 18-20 megawatt yang dapat memenuhi kebutuhan sekitar 15 ribu rumah tangga di wilayah DIY.

Siapa saja yang terlibat dalam proyek ini? Proyek ini melibatkan Danantara Investment Management (DIM), PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), PLN, serta pemerintah daerah DIY termasuk Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo.

Leave a Comment