Putin Tiba di China, Tiga Isu Strategis yang Diprediksi Disepakati dengan Xi Jinping
Main Agenda – Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa (19/5) sore, di mana ia disambut antusias oleh sekelompok besar anak-anak yang ramai-ramai menyampaikan sapaan hormat. Kunjungan dua hari ini diharapkan fokus pada tiga isu krusial yang akan dibahas dalam upaya memperdalam hubungan bilateral antara kedua negara. Menurut analisis CNBC, beberapa poin penting kemungkinan akan menjadi pusat perhatian selama pertemuan antara Putin dan Xi Jinping.
Pesan Diplomatik ke Amerika Serikat
Kedatangan Putin ke Tiongkok dianggap sebagai upaya untuk mengirimkan sinyal kekuatan kepada Washington. Analis senior non-residen dari Universitas New York, Ed Price, menilai bahwa kunjungan ini berfungsi sebagai “pengingat kepada warga Amerika” bahwa Rusia tetap merupakan mitra strategis Tiongkok. Meski hanya empat hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Beijing, ini bukan sekadar kebetulan.
“Selama Presiden Putin memiliki ambisi teritorial di sebelah baratnya, yaitu Ukraina, ia harus meraih kesuksesan diplomatik di sebelah timurnya, yaitu Tiongkok,” ujar Price, seperti dikutip CNBC International.
Dalam konteks pertarungan geopolitik antara Rusia dan NATO, China menjadi kunci untuk memastikan kestabilan ekonomi dan keamanan Rusia. Dengan mendekatkan Tiongkok, Putin menunjukkan kemampuannya menghadapi ancaman dari Barat sambil membangun solidaritas di Timur. Analis menekankan bahwa kehadiran Putin di Beijing pada saat yang tepat juga bertujuan untuk mengurangi tekanan politik yang dialami Rusia akibat sanksi internasional.
Penguatan Kerja Sama Energi
Salah satu agenda utama Putin dalam kunjungannya adalah memperkuat kerja sama energi. Sitao Xu, kepala ekonom Deloitte China, mengungkapkan bahwa ia ingin memastikan “suatu jaminan” dari Beijing mengenai hubungan bilateral yang kompleks, terutama dalam konteks konflik di Ukraina. “Rusia adalah tetangga terbesar Tiongkok, dan dengan perbatasan yang panjang, keberhasilan China dalam memastikan keamanan energi di sebelah barat akan menjadi penyangga penting bagi ekonomi Tiongkok,” jelas Xu.
“Kesepakatan utama yang ingin dibahas Putin dengan Xi tentu saja adalah jalur pipa gas,” kata Sergei Guriev, dekan London Business School. “Sekarang diskusinya adalah tentang ‘Power of Siberia 2,’ yang akan menggandakan ekspor gas Rusia melalui pipa ke Tiongkok.”
Proyek ini menjadi fokus utama dalam meningkatkan aliran energi dari Rusia ke Tiongkok. Namun, Beijing tampaknya masih bersikap hati-hati, mengingat ketidakpastian geopolitik yang terus mengancam. Guriev menyatakan bahwa Tiongkok secara konsisten menunda persetujuan proyek ini karena merasa telah memiliki keamanan energi berkat diversifikasi sumber daya. Meski demikian, kemitraan energi dianggap sebagai batu loncatan untuk stabilitas jangka panjang Rusia.
Ekspansi Relasi Perdagangan
Dalam konteks perdagangan, Putin diharapkan memperkuat ketergantungan Rusia pada Tiongkok. Ini terjadi setelah Rusia mengalami transisi signifikan dalam mitra dagang utamanya. Sebelumnya, Uni Eropa menjadi pihak utama yang membeli eksportasi minyak dan gas Rusia, tetapi konflik di Ukraina memaksa Moskow berpaling ke Tiongkok.
“Bagi Rusia, kunjungan ini sangat penting. Rusia bergantung pada Tiongkok dalam hal teknologi, barang konsumsi, dan barang manufaktur,” kata Guriev.
Data menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Rusia dalam empat tahun terakhir, dengan volume perdagangan mencapai level dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Penguatan hubungan perdagangan ini bukan hanya sekadar transaksi ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi Rusia untuk mengurangi ketergantungan pada sistem ekonomi Barat. Sementara itu, Tiongkok mencari keuntungan dari hubungan ini untuk memperluas pasar ekspor mereka di tengah persaingan global yang ketat.
Persaingan antara Rusia dan Tiongkok dalam mendominasi pasar energi dan barang dagang juga menjadi fokus utama. Dengan sanksi internasional yang membatasi akses Rusia ke Eropa, China menjadi pelabuhan utama untuk ekspor minyak dan gas. Hal ini sekaligus mengamankan sumber daya bumi Rusia dari ancaman ekonomi yang mungkin datang dari Barat. Analis memprediksi bahwa pembahasan ini akan melahirkan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak.
Di sisi lain, Tiongkok menginginkan peningkatan investasi dari Rusia di sektor ekonomi mereka. Xu menambahkan bahwa Putin kemungkinan akan menawarkan dukungan dalam pembangunan infrastruktur atau peningkatan kerja sama dalam teknologi. Ini menjawab kebutuhan Tiongkok untuk memperkuat posisi ekonominya di tengah tuntutan global terhadap keberlanjutan energi dan produksi barang.
Kunjungan Putin juga menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan bilateral Rusia-Tiongkok di berbagai bidang, seperti teknologi, pertahanan, dan kebijakan luar negeri. Dengan China sebagai mitra utama, Rusia berharap memperoleh dukungan dalam berbagai isu internasional, termasuk konflik di Ukraina. Sementara Tiongkok menilai bahwa kerja sama ini menguntungkan untuk keamanan energi dan kestabilan perekonomian mereka.
Analisis menyebutkan bahwa pertemuan ini akan menjadi bagian dari upaya jangka panjang Rusia untuk menciptakan “keseimbangan kekuatan” di tingkat global. Dengan menarik keuntungan dari Tiongkok, Putin mengurangi risiko isolasi yang dialami Rusia akibat perang di Ukraina. Di sisi Tiongkok, kehadiran Putin memberikan dorongan untuk melanjutkan keterlibatan mereka dalam ekonomi global, terutama di tengah tekanan dari AS dan negara-negara Barat.
Secara keseluruhan, kunjungan ini tidak hanya menggambarkan solidaritas antara dua negara, tetapi juga mewakili rencana strategis yang matang.
