Rupiah Terpuruk, Pemerintah Berupaya Tingkatkan Produksi Minyak Nasional
Rupiah Loyo – Kurangnya daya tukar rupiah memaksa pemerintah mengambil langkah strategis untuk memperkuat sektor energi. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan kapasitas produksi minyak bumi dalam negeri. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa peningkatan produksi ini bertujuan untuk meminimalkan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM).
Teknologi Unconventional Jadi Fokus Utama
Yuliot menjelaskan bahwa pemerintah sedang mendorong penggunaan teknologi unconventional atau metode ekstraksi nontradisional di sejumlah wilayah migas. Teknologi ini dianggap potensial untuk meningkatkan produksi minyak dari cadangan yang sebelumnya sulit diakses. Saat ini, Blok Rokan dianggap sebagai lokasi paling optimal untuk implementasi teknologi tersebut.
“Wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah Rokan. Pertamina Hulu Rokan sudah melakukan kajian awal untuk pengembangan teknologi unconventional,” ujar Yuliot.
Menurutnya, pengalaman Amerika Serikat menjadi contoh yang menginspirasi. Negara tersebut mampu mengubah statusnya menjadi negara ekspor minyak setelah menerapkan teknologi unconventional. Yuliot juga menyebutkan bahwa pemerintah telah menerima beberapa teknologi dari pihak luar dan sedang dipertemukan dengan SKK Migas.
“SKK Migas ingin regulasi teknologi ini selesai akhir Juni dan bisa diterapkan awal Juli. Kita sedang berlari melawan waktu,” kata Yuliot.
Produksi Nasional Menuju Target 2029
Yuliot menegaskan bahwa peningkatan produksi minyak dalam negeri akan berdampak langsung pada pengurangan impor BBM. Dengan meningkatkan kapasitas, pemerintah berharap kebutuhan energi nasional bisa lebih stabil meski nilai tukar terus mengalami pelemahan.
“Jika produksi dalam negeri naik, maka impor juga akan berkurang, serta pengaruh fluktuasi mata uang bisa diminimalisir,” ucap Yuliot.
Sementara itu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa ada sumur minyak unconventional yang telah dioperasikan dan berhasil menghasilkan sekitar 500 barel per hari. Ia menambahkan bahwa produksi ini bisa meningkat hingga ribuan barel jika jumlah sumur diperbanyak.
“Kemarin, satu sumur dihasilkan 500 barel minyak per hari. Dengan banyak sumur, produksi bisa mencapai ribuan barel,” ujar Djoko.
Di samping teknologi unconventional, pemerintah juga mempercepat penerapan metode fracking dan Enhanced Oil Recovery (EOR). Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan volume produksi nasional hingga mencapai 900.000 hingga 1 juta barel per hari pada 2029. Target ini diharapkan bisa menciptakan keseimbangan energi dan mengurangi tekanan terhadap rupiah akibat impor BBM.
