Mendag Minta UMKM Genjot Ekspor saat Rupiah Babak Belur
Main Agenda – Menjaga kinerja ekspor menjadi Main Agenda utama Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin signifikan. Dalam konferensi pers di 86 Coffee Bakery, Jakarta Pusat, Rabu (13/5), Mendag menyampaikan bahwa penurunan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS menjadi tantangan yang harus diatasi dengan meningkatkan partisipasi UMKM dalam perdagangan internasional. “Meningkatkan ekspor bukan hanya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, tapi juga untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri,” ujarnya.
Pertumbuhan Ekspor Meski Rupiah Turun
“Ekspor kita tetap tumbuh positif, mencapai 0,39 persen hingga bulan Maret lalu,” kata Budi.
Meskipun rupiah mengalami pelemahan, data menunjukkan bahwa sektor ekspor Indonesia masih menunjukkan kinerja yang stabil. Mendag mengatakan bahwa ini adalah bukti ketahanan sektor ekspor dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang fluktuatif. Ia menekankan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam memperkuat ekspor, karena jumlah pengusaha kecil dan menengah di Indonesia mencapai ratusan ribu, dengan potensi produk yang beragam.
Menurut Budi, pemerintah tetap optimis tentang potensi pertumbuhan ekspor Indonesia meskipun tekanan ekonomi global masih terasa. “Kami yakin ekspor bisa terus berkembang jika pelaku UMKM diberi dukungan dan akses yang tepat,” tambahnya. Dalam situasi rupiah yang melemah, UMKM harus beradaptasi dengan strategi yang lebih efektif untuk menjangkau pasar internasional. Hal ini tidak hanya penting untuk memperluas volume ekspor, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Program Dukungan untuk UMKM Ekspor
Kemendag aktif mendukung UMKM dengan berbagai program pelatihan dan pendampingan, seperti UMKM Bisa Ekspor. Budi menyebut, banyak pelaku usaha kecil yang memiliki produk unggulan namun belum memahami cara ekspor dan strategi menjangkau pembeli internasional. “Mereka punya produk tapi belum tahu caranya ekspor. Karena itu, kita bersama-sama mencari solusi agar ekspor tetap berjalan, bahkan meningkat,” ujarnya.
Salah satu upaya pemerintah adalah melakukan standardisasi produk UMKM agar bisa masuk ke pasar global. Termasuk produk rumah tangga dan ritel kecil, yang biasanya belum memiliki persyaratan internasional. “Kami bantu standarisasi agar produk-produk mereka bisa bersaing di luar negeri,” tambah Budi. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan teknis dan sertifikasi yang diperlukan, sehingga UMKM dapat memenuhi standar ekspor internasional.
Dalam situasi ekonomi yang dinamis, Mendag mengungkapkan tantangan terbesar yang sering dihadapi UMKM adalah kesulitan menemukan pembeli di luar negeri. “Banyak yang keluhkan tidak tahu cara memasuki pasar internasional,” jelasnya. Untuk mengatasi ini, pemerintah memanfaatkan jaringan perdagangan di 33 negara melalui atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Budi juga menyebutkan program business matching yang dilakukan secara daring sebagai salah satu alat untuk mempermudah hubungan antara eksportir dan calon pembeli.
Umkm yang berpartisipasi dalam ekspor juga diharapkan mampu memanfaatkan peluang yang ada, seperti permintaan pasar luar negeri terhadap produk lokal. “Main Agenda kami adalah meningkatkan ekspor, jadi kami terus berupaya memperkuat kerja sama dengan negara-negara mitra,” imbuh Mendag. Dengan ekspor yang meningkat, sektor UMKM diharapkan mampu memperbaiki kondisi ekonomi nasional, termasuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Kelancaran Main Agenda peningkatan ekspor juga ditunjang oleh kebijakan pemerintah dalam memastikan kondisi pangan dalam negeri tetap stabil. Ia mengatakan bahwa pemerintah terus memantau harga kebutuhan pokok bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan. “Saya bersama Pak Menteri Pangan Zulkifli Hasan tadi pagi ke pasar, dan harga kebutuhan pokok justru berada di bawah harga eceran tertinggi (HET),” ungkapnya. Stabilitas harga pangan memberikan kepastian bagi konsumen, sehingga mendorong permintaan terhadap produk lokal, termasuk dalam sektor ekspor.
Bank Indonesia (BI) menyebutkan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh memanasnya konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan kenaikan harga minyak global dan penguatan dolar AS. Saat ini, rupiah mencapai Rp17.514 per dolar AS dalam perdagangan hari Rabu (13/5). Kendala ini memaksa UMKM untuk berpikir kreatif dalam menghadapi perubahan pasar. “Main Agenda kami adalah meningkatkan ekspor, jadi kita harus terus berinovasi,” tegas Budi. Dengan mendukung UMKM, pemerintah berharap dapat memperkuat perekonomian nasional dan mengurangi tekanan inflasi yang terjadi akibat pelemahan rupiah.
