Berita Peristiwa

Kebakaran RSUD Dr Soetomo – RS Bantah Hidran Tak Berfungsi Optimal

Table of Contents
  1. Kebakaran RSUD Dr Soetomo – RS Bantah Hidran Tak Berfungsi Optimal
  2. Penyebab dan Penjelasan dari RSUD Dr Soetomo
  3. Korban dan Penjelasan Keluarga

Kebakaran RSUD Dr Soetomo – RS Bantah Hidran Tak Berfungsi Optimal

Kebakaran RSUD Dr Soetomo – Kebakaran yang terjadi di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo Surabaya pada Jumat (15/5) pagi menimbulkan perdebatan terkait efektivitas sistem pemadam api. Manajemen rumah sakit membantah klaim bahwa hidran di lokasi kebakaran tidak bekerja maksimal. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa tekanan air dari hidran mungkin kurang optimal, tetapi fungsinya tetap bisa diandalkan dalam mengendalikan kobaran api.

Penyebab dan Penjelasan dari RSUD Dr Soetomo

Menurut Wakil Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Ahmad Suryawan, sistem hidran di Gedung PPJT masih beroperasi dengan baik meskipun tekanan air terasa tidak sekuat biasanya. “Kita memastikan semua hidran dalam kondisi siap digunakan. Hidran dalam dan luar gedung mungkin tekanannya tidak seragam, tapi keduanya tetap efektif,” jelas Suryawan saat diwawancarai di lokasi kejadian.

Keselamatan dan Ketersediaan Hidran

Koordinator Red Code RSUD Dr Soetomo, Dwi K, menambahkan bahwa sistem pemadam api terdiri dari dua unit hidran: satu di luar dengan selang 2,5 inci dan satu di dalam dengan selang 1,5 inci. “Karena kebakaran terjadi di bagian dalam, hidran dalam menjadi utama. Tim Damkar membantu menambah tekanan dari luar untuk mengendalikan api di lantai 5,” katanya. Meski tekanan air tidak cukup untuk mencapai area yang terjauh, keduanya cukup efektif dalam memadamkan api di sekitar titik awal.

Dwi juga menekankan bahwa kejadian tersebut tidak mengubah efektivitas sistem keselamatan di RSUD Dr Soetomo. “Kita selalu memastikan alat pemadam terjaga dan bisa diakses dengan cepat. Hidran merupakan bagian integral dari protokol darurat,” tambahnya. Ia mengungkapkan bahwa proses pemadaman diatur secara terstruktur, termasuk koordinasi dengan pihak eksternal untuk memperkuat upaya membasmi api.

Korban dan Penjelasan Keluarga

Insiden kebakaran RSUD Dr Soetomo menyebabkan satu pasien meninggal, yaitu Sutaji (46), warga Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pasien tersebut dinyatakan meninggal setelah dievakuasi dari lantai 6 ruang ICCU. Menurut Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, kematian Sutaji disebabkan oleh kondisi medis yang kritis sebelum kejadian, bukan karena paparan asap atau kebakaran itu sendiri.

Evakuasi dan Kondisi Pasien

Keluarga Sutaji, Yuli, mengungkapkan kepanikan saat evakuasi berlangsung. “Saya cari sana-sini, ternyata masih ada dua orang di atas. Yang satu sudah turun, bapaknya yang terakhir,” kata Yuli, yang berusaha menenangkan emosi saat menceritakan kejadian. Ia menyebutkan bahwa listrik Gedung PPJT dipadamkan saat evakuasi, sehingga prosesnya harus dilakukan dengan tangga darurat.

Yuli menuturkan bahwa pasangan mereka dalam kondisi kritis sebelum kejadian, dengan kondisi jantung yang sudah lemah. “Saat kejadian, saya keluar dulu karena panik. Saya berharap suami bisa selamat, tapi kondisinya sudah tidak memungkinkan,” tambahnya. Menurut saksi, api menyentuh bagian jantung pasien, sehingga menimbulkan kecurigaan terkait keterlibatan faktor medis dalam proses kematian.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo juga memastikan bahwa sistem darurat gedung berjalan baik, termasuk mekanisme evakuasi yang telah diuji coba berkali-kali. “Kita memiliki rencana darurat yang terperinci. Setiap ruangan dilengkapi alat pemadam, dan petugas darurat selalu siap responsif,” ujarnya. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak mengubah kredibilitas sistem keselamatan di lingkungan rumah sakit.

Proses pemadaman dilakukan oleh tim internal dan dibantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya. “Kordinasi cepat antara pihak rumah sakit dan tim pemadam membuat api tidak menyebar ke area lain,” jelas Kepala Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo, Martha Kurnia K. Ia menambahkan bahwa kebakaran di PPJT tidak mengganggu operasional bagian lain di rumah sakit tersebut.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo juga meminta evaluasi terhadap sistem pemadam api di gedung tersebut. “Meski kita membantah bahwa hidran tidak bekerja optimal, kita tetap ingin memperbaiki sistem untuk mencegah risiko serupa di masa depan,” tegas Cita Rosita. Ia menyatakan bahwa rencana penguatan infrastruktur pemadam api sudah direncanakan, termasuk penambahan selang yang lebih panjang dan peningkatan tekanan air.

Kebakaran RSUD Dr Soetomo menjadi sorotan publik karena lokasinya yang strategis dan jumlah pasien yang tinggi. Manajemen rumah sakit menegaskan komitmennya untuk memastikan keselamatan pasien, termasuk penggunaan sistem pemadam api yang sesuai standar. Meski masih ada ruang untuk peningkatan, RSUD Dr Soetomo berharap kejadian ini menjadi pelajaran untuk memperkuat protokol darurat di semua unit gedung.

Leave a Comment