Berita Eropa Amerika

AS Akui Pasang Senjata di Luar Angkasa, Seperti Apa Jenisnya?

donald-trump-1789610249487_169
Foto : Elizabeth Wilson - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. AS Mengungkap Penempatan Senjata di Orbit Bumi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

AS Mengungkap Penempatan Senjata di Orbit Bumi

Kabarberita911.com – Amerika Serikat menyatakan telah menempatkan senjata luar angkasa di orbit Bumi, sebuah pengakuan yang menandai semakin terbukanya dimensi militer dalam persaingan antariksa global. Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink menyampaikan pernyataan itu pada Senin, 14 September, dengan menekankan bahwa kemampuan tersebut disiapkan untuk mendukung pasukan AS menghadapi ancaman dari ruang angkasa.

“Kami terus memastikan bahwa kami siap menghadapi tantangan ancaman yang terus berkembang di mana pun ancaman itu berada,” kata Meink.

Meink tidak menguraikan wujud sistem persenjataan yang ditempatkan, lokasi orbitnya, jumlah aset yang digunakan, maupun kapan pengerahan itu dimulai. Ketiadaan rincian tersebut membuat perhatian tertuju pada kemungkinan jenis teknologi yang dimaksud dan dampaknya terhadap keamanan satelit di orbit Bumi.

Kemungkinan berupa pengacauan elektronik

Sejumlah pakar menilai sistem yang dimaksud lebih mungkin berupa perangkat peperangan elektronik atau pengacau komunikasi daripada senjata fisik yang menghancurkan satelit. Teknologi semacam itu dapat mengganggu sinyal radio, komunikasi, atau fungsi tertentu tanpa harus menciptakan ledakan dan serpihan baru di orbit.

Bleddyn Bowen, profesor madya astropolitik di Universitas Durham, Inggris, menilai mekanisme persenjataan tersebut belum dapat dipastikan. Namun, ia memandang penggunaan platform pengacauan elektronik sebagai kemungkinan yang lebih masuk akal dibanding pengerahan kendaraan penghancur kinetik.

“Kita tidak tahu persis apa mekanisme senjata itu. Saya memperkirakan akan ada semacam platform peperangan elektronik atau pengacauan radio. Ini akan menjadi jenis senjata anti-satelit yang tidak merusak, dan varian ini sudah ada di Bumi,” ujar Bowen.

Senjata anti-satelit nonkinetik dipandang berbeda dari sistem yang menabrakkan objek ke satelit lawan atau menembakkan proyektil. Serangan fisik berisiko memecah satelit menjadi ribuan fragmen yang dapat bertahan lama di orbit dan mengancam wahana lain, termasuk satelit komunikasi, navigasi, cuaca, serta pengamatan Bumi.

“Yang kurang mungkin adalah kendaraan pembunuh kinetik, jadi kendaraan yang akan melepaskan proyektil tertentu yang akan menabrak satelit dan menghancurkannya,” lanjutnya.

Orbit semakin dipandang sebagai arena strategis

Pengakuan Washington dipandang mengirim sinyal kepada China dan Rusia, dua negara yang juga memiliki kemampuan antariksa serta teknologi yang berpotensi digunakan dalam operasi militer. Victoria Samson, direktur utama Keamanan dan Stabilitas Ruang Angkasa di Secure World Foundation, menilai konsep pengendalian ruang angkasa berkaitan langsung dengan kemampuan untuk bergerak bebas sambil membatasi ruang gerak lawan.

“Doktrin luar angkasa menggambarkan ‘pengendalian luar angkasa’ sebagai sesuatu yang menghasilkan superioritas ruang angkasa, yang mereka definisikan sebagai kemampuan untuk beroperasi pada waktu dan tempat yang mereka pilih, sambil menolak hal yang sama kepada musuh,” kata Samson.

Militerisasi ruang angkasa sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak awal era antariksa, negara-negara besar telah memanfaatkan satelit untuk kepentingan pertahanan. Pada penghujung 1960-an, Uni Soviet menjalankan program Istrebitel Sputnikov atau IS, yang berarti Penghancur Satelit. Program itu menggunakan satelit yang dirancang melepaskan proyektil peledak sehingga pecahannya dapat mengenai jalur satelit lain.

Pada era sekarang, peran satelit jauh lebih luas dan terintegrasi dengan operasi keamanan modern. Satelit dipakai untuk pengintaian, komunikasi, deteksi peluncuran rudal, penentuan posisi, serta membantu penargetan secara presisi. Karena fungsi-fungsi tersebut penting bagi operasi militer dan layanan sipil, gangguan terhadap satelit dapat memiliki konsekuensi yang besar.

Peran US Space Force

Presiden AS Donald Trump membentuk US Space Force pada Desember 2019. Lembaga ini menangani pengaturan dan pelaksanaan operasi militer AS yang berlangsung di ruang angkasa maupun memanfaatkan ruang angkasa. Berbeda dari NASA yang menjalankan misi eksplorasi sipil, Space Force merupakan bagian dari Angkatan Udara AS dan berada di bawah Komando Ruang Angkasa AS yang berpusat di Pentagon, Arlington, Virginia.

Tugasnya meliputi pengoperasian dan perlindungan satelit militer, penyediaan komunikasi serta layanan penentuan posisi berbasis satelit, pengawasan benda-benda di orbit, identifikasi ancaman, dan dukungan bagi pasukan AS di Bumi. Dalam konteks ini, pengembangan kemampuan pertahanan antariksa dianggap berkaitan dengan perlindungan infrastruktur orbital yang telah menjadi bagian penting dari operasi pertahanan.

Risiko puing-puing orbital

Selain Amerika Serikat, Rusia, China, dan India telah lama mengembangkan beragam kemampuan anti-satelit. Rusia dan China juga menempatkan teknologi di orbit yang berpotensi mempunyai penggunaan ganda, yaitu dapat menjalankan fungsi sipil atau teknis sekaligus memiliki nilai militer.

Dalam satu dekade terakhir, kedua negara melakukan sejumlah manuver yang dikenal sebagai operasi pertemuan dan kedekatan atau rendezvous and proximity operations (RPO). Operasi ini memungkinkan satelit bergerak mendekati objek lain di orbit untuk berbagai tujuan. Akan tetapi, kemampuan mendekat tersebut turut memunculkan kekhawatiran karena secara teori dapat dipakai untuk mengganggu atau mendorong satelit lain keluar dari lintasannya.

“Secara teori, satelit RPO ini dapat menjadi satelit pemburu-pembunuh dengan cara bertabrakan secara fisik dengan satelit lain atau dengan mendorongnya keluar dari orbit,” kata Dr. Rod Thornton, dosen Studi Pertahanan dan Keamanan Rusia di King’s College London.

Bahaya terbesar dari senjata kinetik adalah munculnya sampah antariksa. Uji rudal anti-satelit China pada 2007 menjadi salah satu contoh yang sering disorot karena menghasilkan banyak puing yang bertahan lama di orbit. Fragmen-fragmen tersebut tetap berbahaya, sebab objek kecil yang melaju dengan kecepatan orbit dapat menimbulkan kerusakan serius ketika bertabrakan dengan satelit atau wahana lain.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa persaingan di orbit tidak hanya menyangkut penguasaan teknologi, tetapi juga keselamatan lingkungan antariksa. Semakin banyak negara membangun kemampuan anti-satelit, semakin penting pula upaya untuk menghindari tindakan yang dapat menciptakan puing jangka panjang dan membahayakan seluruh pengguna ruang angkasa.

Frequently Asked Questions

What is AS Akui Pasang Senjata di Luar?

AS Akui Pasang Senjata di Luar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does AS Akui Pasang Senjata di Luar matter?

AS Akui Pasang Senjata di Luar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment