Berita Asean

Kapal Induk AS Tinggalkan Thailand Usai Singgah 5 Hari

as-tarik-kapal-induk-uss-gerald-r-ford-dari-timur-tengah-1774324311144_169
Foto : Karen Johnson - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. USS Abraham Lincoln Berlayar Meninggalkan Thailand, Menutup Babak Sembilan Bulan di Timur Tengah
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

USS Abraham Lincoln Berlayar Meninggalkan Thailand, Menutup Babak Sembilan Bulan di Timur Tengah

Kabarberita911.com – Pelabuhan Laem Chabang, yang terletak sekitar tiga puluh menit perjalanan dari kawasan wisata Pattaya, menyaksikan keberangkatan ribuan personel Angkatan Laut Amerika Serikat pada Minggu (6/9) sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang membawa kurang lebih 5.000 awak, akhirnya meninggalkan perairan Thailand setelah lima hari berlabuh. Singgahan ini menandai persinggahan pertama kapal tersebut sejak memulai penugasan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang berlangsung sekitar sembilan bulan. Bagi para pelaut dan marinir di atas kapal, lima hari di daratan Thailand menjadi jeda yang sangat dinanti setelah berbulan-bulan tanpa istirahat memadai di tengah ketegangan geopolitik di kawasan itu.

Dampak Ekonomi bagi Pattaya di Musim Sepi

Kehadiran ribuan personel militer AS di Pattaya tiba di saat yang tepat bagi sektor pariwisata kota pesisir tersebut. Pattaya, yang identik dengan garis pantai dan kehidupan malamnya, tengah memasuki periode sepi kunjungan wisatawan. Wali Kota Pattaya Poramase Ngampiches memperkirakan total pengeluaran para personel AS selama masa kunjungan mencapai hingga 100 juta baht, setara sekitar tiga juta dolar AS. Angka tersebut mencakup belanja kebutuhan pribadi, kunjungan ke berbagai destinasi wisata pesisir, serta pembelian oleh-oleh untuk keluarga di Amerika Serikat.

Yang menarik, sebagian belanja tidak hanya bersifat konsumtif. Para awak kapal juga membeli sejumlah perlengkapan dasar untuk dibawa kembali ke atas kapal. Poramase mengungkapkan bahwa penjualan kebutuhan pokok kapal bahkan menyentuh nilai jutaan baht. Konteks ini penting mengingat laporan sebelumnya menyebutkan bahwa selama penugasan panjang di Timur Tengah, para pelaut USS Abraham Lincoln sempat kekurangan perlengkapan mandi paling elemental, mulai dari pasta gigi, deodoran, hingga sabun. Dengan demikian, kunjungan ke Pattaya secara tidak langsung menjadi kesempatan bagi awak untuk mengisi ulang stok pribadi yang telah menipis.

“Ini menunjukkan bahwa mereka merindukan keluarga dan ingin membeli suvenir untuk mereka,” ujar Poramase, merujuk pada kebiasaan sebagian pelaut yang mengalokasikan waktu luang untuk berbelanja cendera mata.

Pengamanan Diperketat, Insiden Kecil Terjadi

Kedatangan ribuan pelaut asing tentu memicu peningkatan kewaspadaan aparat keamanan setempat. Kepolisian Pattaya memperketat pengawasan di sejumlah kawasan, termasuk penertiban terhadap pekerja seks yang beroperasi di sekitar area yang akan dilewati para awak kapal. Namun, Wali Kota Poramase membantah bahwa tindakan penertiban tersebut memiliki kaitan langsung dengan kunjungan kapal perang Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, kunjungan berlangsung relatif mulus. Kepala Kepolisian Pattaya Anek Srathongyoo menyatakan bahwa tidak ada penangkapan maupun perselisihan serius selama lima hari kehadiran para awak.

“Kejadiannya berjalan baik,” kata Anek Srathongyoo kepada AFP, seperti dikutip pada Minggu.

Walaupun demikian, hari pertama kunjungan mencatat satu insiden kecil. Pada Kamis (3/9) dini hari, dua pelaut terlibat keributan akibat pengaruh alkohol di sekitar Walking Street, kawasan hiburan malam yang menjadi magnet wisatawan di Pattaya. Warga sekitar menghubungi polisi agar perselisihan tidak meluas. Kedua pelaut kemudian dikembalikan ke USS Abraham Lincoln. Anek sendiri menyebut kejadian tersebut sebagai perkelahian kecil yang tidak berimplikasi lebih jauh.

Latar Politik: Sorotan Kondisi Awak dan Kebijakan Perang

Kunjungan ke Thailand tidak terjadi dalam ruang hampa politik. Beberapa bulan sebelumnya, kondisi para awak USS Abraham Lincoln menjadi bahan perdebatan di Kongres Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mendesak dilakukannya penyelidikan resmi terhadap situasi di kapal tersebut. Laporan yang beredar menyoroti kekurangan pasokan makanan, gangguan pada saluran air, serta persoalan kesehatan mental yang dialami sebagian personel setelah berbulan-bulan beroperasi di tengah konflik di Timur Tengah.

Sorotan publik itu muncul setelah kapal induk tersebut menjalani penugasan berkepanjangan di kawasan yang dilanda ketegangan. Sebagai pengganti, USS George Washington kemudian mengambil alih misi di kawasan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada kesempatan sebelumnya menepis kekhawatiran mengenai kondisi di atas USS Abraham Lincoln, menyebutnya tidak separah yang digambarkan. Namun, bagi para kritikus, persoalan tersebut menjadi bagian dari kritik lebih luas terhadap kebijakan pemerintahannya terkait perang dengan Iran, termasuk keputusan untuk mempertahankan kapal induk di kawasan konflik selama durasi yang dianggap berlebihan.

Dengan keberangkatan dari Laem Chabang, USS Abraham Lincoln kini memasuki fase berikutnya dalam rotasi operasinya. Sementara itu, Pattaya kembali ke ritme normalnya, menyisakan jejak ekonomi singkat namun berarti dari kunjungan ribuan pelaut yang, selama lima hari, mengubah dinamika kota pesisir itu menjadi pusat belanja dan rekreasi bagi personel militer Amerika Serikat.

Frequently Asked Questions

What is Kapal Induk AS Tinggalkan Thailand Usai?

Kapal Induk AS Tinggalkan Thailand Usai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kapal Induk AS Tinggalkan Thailand Usai matter?

Kapal Induk AS Tinggalkan Thailand Usai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment