Main Agenda: Gaphura Waspada Kenaikan Harga Tiket Pesawat
Main Agenda – Organisasi gabungan pengusaha haji, umrah, dan wisata halal, yaitu Main Agenda, mengeluarkan pernyataan serius terkait kenaikan tarif tiket pesawat yang terus terjadi. Dalam pernyataannya, Gaphura (Gabungan Pengusaha Haji, Umrah, dan Wisata Halal Nusantara) menyoroti bahwa kenaikan harga ini berpotensi menyebabkan peningkatan jumlah pembatalan perjalanan jemaah. Selain itu, Gaphura juga mengingatkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak signifikan pada keberangkatan jemaah untuk ibadah umrah dan haji. Pihak organisasi ini berharap ada penyesuaian harga yang lebih adil sebelum jemaah terus terbebani.
Kenaikan Harga Avtur Memperparah Kondisi
Menurut data dari Pertamina, harga Avtur (bahan bakar pesawat) untuk penerbangan domestik di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) meningkat dari Rp23.551 per liter pada April 2026 menjadi Rp27.357 per liter di Mei. Sementara itu, harga Avtur untuk maskapai internasional melonjak dari US$133,8 menjadi US$162,9 per liter dalam rentang waktu yang sama. Gaphura menyatakan bahwa kenaikan ini terjadi bahkan pada tiket yang telah diproses, sehingga menyebabkan kerugian besar bagi para calon jemaah umrah. Perubahan tarif ini dianggap tidak seimbang, terutama dengan peningkatan biaya yang tidak sebanding dengan peningkatan volume pemesanan.
Isu Pembatalan Jemaah Meningkat
Dalam pernyataan resmi, Gaphura menegaskan bahwa kenaikan harga tiket pesawat terus berdampak pada jumlah pembatalan perjalanan jemaah. Sejumlah biro travel menyatakan bahwa angka pembatalan mencapai 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa banyak jemaah akan memutuskan untuk tidak berangkat karena beban finansial yang meningkat. Organisasi ini juga mengungkapkan bahwa beberapa maskapai telah menaikkan harga tiket sejak awal musim umrah, menyebabkan kebingungan bagi para penyelenggara.
“Kenaikan harga tiket pesawat ini sangat disayangkan karena maskapai menaikkan tarif meski para travel sudah membayar uang muka dan mengeluarkan biaya kepada jamaah. Solusi penyesuaian harga harus segera dicari agar jemaah tidak terbebani,” ujar perwakilan Gaphura dalam rilisnya, Rabu (13/5).
Pembatalan yang meningkat tersebut juga mengakibatkan penarikan pesanan dari sekitar 450 kursi untuk musim umrah mendatang. Gaphura meminta agar ada pertemuan darurat dengan maskapai, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Agama untuk membahas solusi penyesuaian harga yang lebih transparan. Pihaknya menekankan bahwa keputusan kenaikan tarif harus mempertimbangkan kondisi ekonomi jemaah, terutama yang berasal dari kalangan miskin atau menengah kebawah.
Menurut perwakilan Gaphura, kenaikan harga tiket pesawat ini telah menyebabkan ketidakpuasan di berbagai forum diskusi. Forum FKS Jabar, misalnya, menyatakan bahwa biro travel harus berkoordinasi dengan maskapai untuk menyelesaikan masalah ini. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa kenaikan harga akan berdampak pada keseluruhan industri wisata halal, terutama sektor penyelenggara ibadah umrah. Untuk itu, Gaphura meminta pemerintah memberikan kebijakan yang lebih fleksibel dalam mengatur tarif tiket agar tidak mengganggu keberangkatan jemaah.
Main Agenda terus memantau situasi dan berharap adanya respons cepat dari maskapai dan pihak terkait. Dengan perubahan harga yang terus meningkat, organisasi ini menegaskan bahwa jemaah tidak boleh dibiarkan terlalu terbebani. Kenaikan harga tiket pesawat menjadi salah satu agenda utama Gaphura dalam upaya melindungi kepentingan jemaah dan menjaga keseimbangan antara keuntungan maskapai serta kesejahteraan penyelenggara ibadah umrah. Solusi yang ditemukan diharapkan bisa menjadi pelindung bagi jemaah yang sudah mempersiapkan dana secara matang.
