Berita Climate

BMKG Sebut Asap Karhutla Kalbar Berpotensi Menyeberang ke Malaysia

Foto : Mary Thomas - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Kondisi Kering Berlanjut, Asap Karhutla Kalimantan Barat Bisa Menjangkau Malaysia
  2. Related Reading

Kondisi Kering Berlanjut, Asap Karhutla Kalimantan Barat Bisa Menjangkau Malaysia

Kabarberita911.com – Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kekeringan yang melanda sebagian wilayah Indonesia berpotensi memperparah kebakaran hutan dan lahan. Dalam rilis resminya untuk periode 4 hingga 10 Agustus 2026, BMKG Sebut Asap Karhutla Kalbar Berpotensi Menyeberang ke Malaysia. Arah pergerakan partikel asap tersebut cenderung menuju barat laut, sehingga berpotensi menyentuh negara bagian Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat.

“Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak dengan pergerakan dominan ke arah barat laut,” tulis BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 4-10 Agustus 2026.

Monitoring Hari Tanpa Hujan Menunjukkan Tren Kekeringan

Hasil pemantauan pada Dasarian III Juli 2026 mengungkapkan bahwa sebanyak 1.657 stasiun pengamatan mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori Sangat Panjang, yakni antara 31 hingga 60 hari. Selain itu, terdapat 306 titik lain yang mengalami HTH Ekstrem Panjang dengan durasi lebih dari enam puluh hari. Kondisi ini menjadi indikator kuat bahwa musim kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya.

Wilayah-wilayah yang terdampak kondisi kering ini meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, bagian selatan Sumatra, Kalimantan selatan, Maluku Utara, serta sebagian wilayah Sulawesi. Catatan tertinggi untuk HTH terpanjang dicatat di Pos Hujan BPP Pajangan yang berlokasi di Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, dengan durasi mencapai 90 hari tanpa hujan. Angka ini menunjukkan betapa keringnya tanah dan vegetasi di berbagai daerah.

“Berlanjutnya kondisi tanpa hujan dalam durasi panjang perlu diwaspadai karena dapat mengurangi ketersediaan air serta meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran,” terang BMKG.

Sebaran Asap dan Kejadian Kebakaran di Berbagai Daerah

Indikasi memburuknya musim kemarau juga tercermin dari meningkatnya kasus karhutla di sejumlah provinsi. Daerah-daerah yang mengalami kebakaran antara lain Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Data citra satelit memperkuat temuan ini dengan mendeteksi sebaran asap yang cukup signifikan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Selatan.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas udara lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk menyebar ke wilayah tetangga. BMKG menekankan bahwa pergerakan angin dan pola cuaca saat ini mendukung penyebaran asap ke arah barat laut. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah.

“Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah,” tambahnya.

Potensi Hujan Lebat Secara Lokal Masih Terbuka

Meskipun dominasi cuaca kering masih mendominasi sebagian besar wilayah, peluang terjadinya hujan lebat secara lokal tetap ada. Selama periode 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, beberapa daerah mencatat curah hujan tinggi. Aceh mencatatkan 164,3 mm per hari, Sumatera Utara 144 mm per hari, Sumatera Barat 102,5 mm per hari, Kepulauan Riau 97 mm per hari, dan Kalimantan Utara 59 mm per hari.

Fenomena ini didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial, serta adanya anomali OLR negatif yang menandakan peningkatan tutupan awan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah. Meskipun demikian, hujan yang turun bersifat lokal dan tidak merata, sehingga tidak secara signifikan mengurangi risiko kebakaran di wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan panjang.

“Meskipun kondisi musim kemarau semakin menguat di banyak wilayah, peluang hujan lebat secara lokal masih tetap ada,” kata BMKG.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa yang dimaksud dengan Hari Tanpa Hujan (HTH)?

Hari Tanpa Hujan adalah jumlah hari berturut-turut tanpa curah hujan yang signifikan. BMKG mengklasifikasikan HTH menjadi beberapa kategori, yaitu Normal (1-10 hari), Pendek (11-20 hari), Panjang (21-30 hari), Sangat Panjang (31-60 hari), dan Ekstrem Panjang (lebih dari 60 hari).

Bagaimana dampak asap karhutla terhadap kesehatan?

Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, sesak napas, dan memperburuk kondisi pernapasan pada penderita asma atau penyakit paru-paru.

Apakah hujan dapat membantu meredakan kebakaran?

Hujan dapat membantu meredakan kebakaran, terutama jika turun secara merata dan dalam durasi yang cukup lama. Namun, hujan lokal yang singkat tidak selalu efektif untuk memadamkan api yang sudah membesar di area yang luas.

Bagaimana cara memantau kualitas udara secara real-time?

Masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui aplikasi pemantau kualitas udara yang tersedia secara online, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui media sosial dan situs web resmi mereka.

Leave a Comment