Iran Penguat Situs Warisan Budaya di Bawah New Policy
New Policy – Dalam upaya mengantisipasi kemungkinan konflik kembali pecah, Iran meluncurkan New Policy yang berfokus pada pemulihan dan penguatan situs warisan budaya yang telah mengalami kerusakan. Kebijakan ini diumumkan setelah masa gencatan senjata yang berlangsung sejak 8 April, yang memberikan kesempatan bagi para konservator untuk mengevaluasi tingkat kerusakan yang terjadi selama perang. New Policy dirancang sebagai langkah strategis untuk melindungi aset budaya yang rentan, termasuk tempat-tempat sejarah yang berpotensi menjadi sasaran serangan musuh.
Penilaian Terperinci untuk Situs Warisan Budaya
Ali Omid Ali, seorang spesialis restorasi dan kepala departemen teknik di Istana Golestan, menjelaskan bahwa tim konservator sedang melakukan penilaian lebih mendetail terhadap situs-situs bersejarah yang terkena dampak perang. “Evaluasi kerusakan telah dilakukan di berbagai tingkat, namun penilaian lebih lanjut masih dalam proses,” katanya, seperti dilaporkan AFP. New Policy mengharuskan pemerintah memberikan prioritas pada perlindungan struktur yang rentan sebelum memulai proses pemulihan.
Menurut Ali, kebijakan ini mencakup upaya memperkuat infrastruktur seperti tembok, atap, dan fondasi bangunan bersejarah. “Tim kami fokus pada penguatan fisik dan pencegahan kehancuran lebih parah sebelum mulai memulihkan kondisi mereka,” terangnya. Hal ini penting karena beberapa situs warisan budaya di Iran, termasuk Istana Golestan, merupakan bagian dari warisan dunia UNESCO yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang sangat tinggi.
Situs Warisan Budaya yang Rusak Parah
Istana Golestan, yang terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO, menjadi contoh nyata dari kerusakan yang terjadi selama perang. Dalam wawancara, Jabbar Avaj, direktur museum Istana Golestan, menyebutkan bahwa sekitar 50-60 persen pintu dan jendela situs tersebut rusak. “Kerusakan juga terjadi di Aula Cermin, bagian istana yang terkenal dengan mosaik berkilauan di langit-langit dan dinding,” tambah Avaj. “Selain itu, Singgasana Marmer yang didukung oleh patung simbol mitologis kerajaan juga mengalami kerusakan parah.”
Bukan hanya Istana Golestan, sejumlah situs lain seperti Kuil Yazd dan Masjid Nasir al-Mulk juga mengalami kerusakan serius. New Policy berusaha mempercepat proses penilaian dan intervensi untuk mengembalikan fungsi serta keindahan situs-situs ini. “Meski kerusakan tidak bisa sepenuhnya diperbaiki, upaya ini bertujuan meminimalkan risiko lebih besar,” kata Ali. Pemerintah Iran berharap New Policy bisa menjadi kerangka kerja untuk menjaga integritas warisan budaya dalam situasi ketidakstabilan politik.
Kebijakan Pemulihan dalam Kondisi Perang
Hassan Fartousi, kepala Komisi Nasional Iran untuk UNESCO, menyoroti bahwa New Policy memperkuat fokus pada pemulihan infrastruktur dan peningkatan keamanan. “Bayang-bayang perang masih menghantui langit Iran, dan dalam kondisi ini, kita sulit merencanakan restorasi secara optimal,” ujarnya. Fartousi menegaskan bahwa restorasi membutuhkan waktu lama dan tidak bisa mengembalikan situs ke kondisi aslinya.
New Policy juga melibatkan kolaborasi dengan lembaga internasional seperti UNESCO dan organisasi pelestarian budaya lainnya. “Kita membutuhkan bantuan teknis dan finansial dari luar negeri untuk melanjutkan upaya ini,” kata Fartousi. Meski pemerintah belum mengumumkan anggaran secara resmi, New Policy diharapkan bisa menjadi dasar untuk pengalokasian dana dalam jangka panjang, terlepas dari tekanan ekonomi akibat blokade dari Amerika Serikat.
Pelaksanaan New Policy di Berbagai Daerah
Di samping Istana Golestan, New Policy juga berlaku untuk situs-situs budaya di kota-kota lain seperti Mashhad dan Shiraz. Tim konservator di daerah-daerah tersebut sedang melakukan inspeksi rutin dan memperbaiki struktur yang rentan terhadap serangan musuh. “Kita mengadakan program inspeksi musim semi untuk memastikan semua situs dalam kondisi terbaik sebelum musim panas tiba,” jelas Ali. Ini menunjukkan komitmen pemerintah Iran untuk menjaga kelestarian budaya meski dalam kondisi perang.
Menurut laporan terkini, New Policy juga mencakup penguatan sistem pengawasan di sekitar situs-situs bersejarah. “Ada kebijakan baru yang mengharuskan semua lokasi warisan budaya dijaga 24 jam sehari,” kata Fartousi. “Ini untuk mencegah aksi penyusupan atau penjarahan yang bisa merusak nilai sejarah situs tersebut.” Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kerja sama dengan komunitas lokal untuk membantu menjaga keamanan dan kebersihan situs warisan budaya.