Berita Health

New Policy: Menkes Uji Kadar Gula, Minuman Favorit Ini Masuk Level Terburuk

Minuman Manis Dites Tes Gula, Level Terburuk Ditemukan

New Policy – Dalam rangka menerapkan New Policy terkait pengawasan gula di industri minuman, Kementerian Kesehatan Indonesia melaksanakan uji coba kadar gula untuk menilai komposisi nutrisi dalam minuman favorit. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil dari ‘blind test’ yang dilakukan terhadap berbagai minuman, sebagai bagian dari inisiatif pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak konsumsi gula berlebihan. Uji coba ini bertujuan memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami, agar konsumen dapat memilih minuman dengan kadar gula yang lebih terkontrol.

New Policy ini memperkenalkan sistem pelabelan Nutri Level, yang membagi minuman berdasarkan jumlah gula, garam, dan lemak dalam satu skala. Hasil uji coba menunjukkan bahwa minuman seperti ice americano tanpa tambahan gula masuk ke Level A, yang menggambarkan komposisi nutrisi terbaik. Sementara itu, es teh manis berada di Level B, kopi susu di Level C, dan minuman manis seperti matcha serta milk tea boba di Level D, yang merupakan kategori dengan kadar GGL (gula, garam, lemak) tertinggi. Sistem ini diharapkan menjadi panduan bagi masyarakat dalam mengambil keputusan sehat saat membeli minuman.

Detail Kebijakan dan Kategori Nutri Level

Pelabelan Nutri Level menggunakan warna-warna tertentu untuk memudahkan konsumen memahami kandungan nutrisi. Level A berwarna hijau tua, Level B hijau muda, Level C kuning, dan Level D merah. Setiap warna mewakili tingkat keburukan atau kebaikan dari komposisi gula, garam, dan lemak. Menurut Budi Gunadi Sadikin, sistem ini merupakan bagian dari New Policy yang dijalankan pemerintah untuk menangani masalah kesehatan masyarakat akibat konsumsi minuman manis secara berlebihan.

Uji coba ‘blind test’ ini dilakukan secara acak untuk memastikan keakuratan hasil pengukuran. Minuman dipilih berdasarkan popularitas dan frekuensi konsumsi di kalangan masyarakat. Dalam tes tersebut, panelis tidak mengetahui jenis minuman yang diuji, sehingga hasilnya lebih objektif. “Minuman ini tetap boleh dikonsumsi, tapi jangan sering-sering, sesekali saja ya,” kata Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa New Policy tidak menetapkan larangan mutlak, tetapi mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih minuman.

Sistem pelabelan Nutri Level juga mencakup minuman yang dibuat di rumah, seperti teh manis atau kopi dengan tambahan gula. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menyasar segala jenis minuman, baik yang dijual secara siap saji maupun yang dipersiapkan secara manual. Dengan New Policy ini, konsumen diharapkan lebih mudah mengenali mana minuman yang rendah GGL dan mana yang tinggi, sehingga dapat mengatur asupan nutrisi harian. Selain itu, Kementerian Kesehatan menyediakan panduan melalui aplikasi daring untuk mendukung keputusan konsumen.

Pelaksanaan New Policy ini juga menjadi langkah awal dalam mengurangi risiko penyakit terkait gula, seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Dengan memberikan label nutrisi yang jelas, masyarakat dapat membandingkan kandungan gula berbagai produk dan menghindari konsumsi yang berlebihan. Sistem ini diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menciptakan lingkungan konsumsi yang lebih sehat dan berkelanjutan. “Sistem ini bukan hanya untuk mengenalkan minuman, tetapi juga untuk membentuk kebiasaan sehat,” tambah Budi Gunadi Sadikin.

Hasil Uji Coba dan Reaksi Masyarakat

Dari hasil uji coba, beberapa minuman favorit ternyata masuk ke Level D, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kadar GGL terbesar. Es teh manis dan matcha manis, misalnya, memperoleh label merah karena mengandung gula yang cukup tinggi. Sementara itu, minuman seperti juice atau smoothie yang biasanya dikonsumsi tanpa tambahan gula, tetap berada di Level A atau B. Hasil ini memicu reaksi beragam dari masyarakat, mulai dari penyesalan hingga antusiasme untuk mengubah kebiasaan konsumsi.

“Setelah saya coba blind test nih, Ice Americano yang tidak ada rasa manisnya masuk di level yang paling bagus yaitu Level A. Es teh manis masuk di Level B. Kopi susu masuk di Level C. Sementara minuman yang rasanya manis banget seperti matcha manis dan milk tea boba masuk di Level D,”

Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan dalam wawancara media. Hasil ini menunjukkan bahwa kebanyakan minuman manis memiliki kadar gula yang melebihi batas aman, sehingga kebijakan pelabelan menjadi penting dalam meningkatkan kesadaran akan dampak kesehatan.

Dalam New Policy ini, Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa gula bukan hanya berasal dari minuman manis, tetapi juga dari makanan lain seperti kue dan camilan. Oleh karena itu, pelabelan Nutri Level tidak hanya fokus pada minuman, tetapi juga membantu konsumen mengontrol asupan gula secara keseluruhan. Dengan informasi yang terstruktur dan mudah diakses, harapannya adalah masyarakat akan lebih cermat dalam memilih produk dan mengurangi konsumsi gula yang berlebihan.

Leave a Comment