Berita Eropa Amerika

New Policy: Trump Dongkol Dicap Putus Asa oleh Mojtaba: Kalian yang Begitu!

Trump Marah Karena Dicap Putus Asa oleh Mojtaba: Kalian yang Begitu!

New Policy – Dalam konteks new policy terbaru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ia menunjukkan reaksi yang memicu perdebatan saat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei menyebutnya sebagai sosok yang putus asa. Tanggapan Trump ini terbit melalui akun Truth Social pada Jumat (19/6), menegaskan bahwa Iran justru yang seharusnya merasa kesulitan dalam proses perundingan, bukan dirinya sendiri. New policy ini bertujuan memperkuat posisi AS dalam negosiasi, tetapi juga menimbulkan ketegangan yang terasa dalam hubungan diplomatik antara dua negara.

Peran New Policy dalam Negosiasi AS-Iran

Trump menyampaikan bahwa new policy diluncurkan karena kebutuhan, bukan kehabisan strategi. “Mereka telah kehabisan pilihan,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa new policy bukan sekadar penyesuaian, tetapi juga perubahan strategis yang bertujuan mengembalikan kekuasaan AS dalam dialog dengan Iran. Mojtaba, dalam pernyataannya, mengkritik new policy sebagai akibat dari situasi yang memaksa Trump, menegaskan bahwa Iran masih memiliki postur kuat dalam perundingan.

“Kita akan jalankan dulu periode (perundingan teknis) 60 hari yang sudah ditetapkan. Mereka tidak akan dapat uang, bahkan sepuluh sen pun tidak!”

Kesepakatan awal (MoU) antara AS dan Iran terdiri dari 14 poin, termasuk komitmen AS untuk melepas dana Iran yang selama ini dibekukan serta mencabut sanksi terhadap negara itu. Selain itu, AS juga setuju memberikan kompensasi atas kerusakan yang terjadi dalam perang pada 28 Februari lalu. Namun, Trump bersikeras bahwa new policy tidak akan memperbolehkan Iran menerima uang dalam perjanjian akhir. Pernyataan ini memperlihatkan ketegangan antara keinginan AS untuk memperbaiki hubungan dengan Iran dan kecurigaan Iran terhadap kejujuran pihak Amerika.

Setelah MoU ditandatangani, kedua pihak harus melakukan perundingan teknis selama 60 hari untuk menyusun kesepakatan final. Fokus utama dari proses ini adalah program nuklir Iran serta masa depan uranium yang telah diperkaya. New policy ini menegaskan bahwa AS ingin mengarahkan diskusi ke arah pengurangan risiko nuklir Iran, sambil memastikan bahwa negosiasi tetap menguntungkan bagi kepentingan nasional Amerika.

Analisis dari para pakar menunjukkan bahwa new policy mengandung ambiguitas, terutama dalam menjelaskan komitmen AS terhadap kebijakan sanksi. Meskipun MoU menyebutkan pembekuan dana Iran akan dicabut, para kritikus mengkhawatirkan bahwa new policy tetap meninggalkan ruang bagi pengenaan sanksi khusus dalam kondisi tertentu. Hal ini dapat memicu perdebatan tentang keadilan dalam proses negosiasi antara dua negara yang memiliki sejarah konflik berkepanjangan.

Pernyataan Trump juga memicu reaksi dari pihak Iran, yang menilai bahwa new policy tidak cukup mengakui kontribusi Iran dalam memulai pembicaraan. Dalam wawancara terpisah, Mojtaba menyebutkan bahwa Iran siap beradaptasi dengan new policy asalkan kepentingan utamanya dalam program nuklir diakui. Namun, Trump menegaskan bahwa new policy akan dijalankan dengan penuh kehati-hatian, memperlihatkan kecemasan AS terhadap kemungkinan Iran memperluas program nuklirnya.

Leave a Comment