Jawaban Prabowo terhadap Kritik Ekonomi Indonesia dari Media Asing
Latest Program – Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan terhadap kritik yang muncul dari media asing terkait kondisi perekonomian Indonesia. Ia menyatakan bahwa kritik tersebut merupakan bahan pertimbangan untuk terus memperbaiki kinerja pemerintahannya. Artikel The Economist dengan judul “Archipelagoing Fast” yang terbit pada 16 Mei menjadi salah satu sumber kritik tersebut, lalu viral di berbagai platform media sosial.
Prabowo: Kritik Bukan Hal yang Mudah Dihindari
Dalam wawancara dengan The Economist, Senin (15/6), Prabowo mengatakan, “Kritik bisa dihindari jika kita tidak berbicara, tidak bertindak, dan tidak mencapai apa pun.” Ia menjelaskan bahwa kritik adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat, serta penting untuk memperkuat kebijakan pemerintah.
“Kritik adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan mudah, yaitu dengan tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa,” ujar Prabowo, dikutip dari situs The Economist.
Prabowo menegaskan bahwa selama berpuluh-puluh tahun berkiprah di militer, kehidupan publik, dan dunia politik, ia semakin mengerti makna ungkapan itu. Ia menambahkan bahwa kritik harus dilihat berdasarkan fakta, hasil yang tercapai, serta kondisi nyata masyarakat.
Politik dan Janji Kepada Rakyat
Prabowo juga mengingatkan bahwa legitimasi pemerintahannya diperoleh melalui kesabaran, kepercayaan rakyat, dan penghormatan terhadap kehendak masyarakat. Sejak 2004, ia telah mengikuti lima kali pemilihan presiden sebelum akhirnya terpilih dalam Pilpres 2024. Menurutnya, tanggung jawab sebagai pemimpin adalah kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya kelompok tertentu.
“Kami harus bekerja untuk masa depan bersama dan menjalankan program-program yang menjadi dasar kemenangan kami dalam pemilu,” tuturnya. Prabowo menekankan bahwa setiap pemerintahan demokratis wajib menunaikan janji-janji yang telah diberikan kepada masyarakat.
Program Kebijakan yang Dikritik
Salah satu program yang disebut-sebut oleh media asing adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski ada kritik, Prabowo menyangkal jika MBG disebut sebagai kebijakan radikal. Ia menjelaskan bahwa lebih dari 100 negara sudah menerapkan bantuan gizi atau program makan sekolah dalam berbagai bentuk.
“Indonesia tidak sedang menjalankan sesuatu yang radikal atau tidak lazim,” tambah Prabowo. “Kami berusaha mengatasi tantangan nasional yang secara langsung memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan daya saing rakyat di masa depan.”
Komitmen Terhadap Perekonomian
Di sisi lain, Prabowo menyatakan bahwa kondisi ekonomi dalam negeri dinilai cukup baik dibandingkan negara-negara G20. Defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara utang negara masih lebih rendah dibandingkan banyak negara maju.
Pemerintahannya juga telah memangkas belanja tidak efisien sebesar lebih dari Rp300 triliun, memperkuat digitalisasi perpajakan, meningkatkan tata kelola ekspor, dan memperketat pengawasan terhadap penyelundupan. Selain itu, Prabowo menyebut pemerintah terus berinvestasi untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan jangka panjang Indonesia, termasuk pengembangan energi surya, kendaraan listrik, serta pembangunan kilang baru dan cadangan bahan bakar strategis.
Program-Program untuk Rakyat
Prabowo membeberkan beberapa inisiatif pemerintah seperti revitalisasi sekolah, pembangunan Sekolah Rakyat untuk anak keluarga miskin, hingga pembentukan Danantara. Ia menegaskan bahwa semua program tersebut telah dijanjikan kepada rakyat Indonesia dan dijalankan secara konsisten.
“Kami bekerja keras untuk menunaikan janji tersebut,” pungkas Prabowo. “Setiap kebijakan harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.”
