Special Plan: Netanyahu Minta Trump Jangan Jual Jet F-35 ke Turki
Special Plan – Dalam upaya memperkuat posisi strategisnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan kekhawatiran terkait rencana pemerintahan Donald Trump untuk mengekspor jet tempur F-35 ke Turki. Hal ini disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (6/7), dimana Netanyahu menekankan pentingnya mempertahankan Special Plan sebagai alat untuk menyeimbangkan kekuatan di Timur Tengah. Ia menilai Turki, dengan mendapatkan teknologi canggih ini, akan menjadi ancaman yang signifikan bagi keamanan Israel.
Latar Belakang dan Tujuan Special Plan
Special Plan, yang diperkenalkan Netanyahu beberapa tahun lalu, dirancang sebagai strategi nasional untuk memperkuat dominasi Israel di wilayah kritis Timur Tengah. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa kehadiran militer dan politik Israel tetap terjaga, terutama menghadapi rival seperti Iran. Dalam konteks ini, keputusan Trump untuk menjual F-35 ke Turki dianggap sebagai ancaman besar karena Turki dianggap memiliki kepentingan politik yang tumbuh di wilayah tersebut.
Netanyahu menyatakan bahwa selama ini Turki sering mengecam tindakan Israel di Jalur Gaza Palestina. Namun, ia menambahkan bahwa hubungan antara Israel dan Turki tidak hanya dipengaruhi oleh isu politik, tetapi juga oleh perang melawan Iran. “Turki tidak lagi menjadi sekutu yang bisa diandalkan dalam menghadapi Iran,” tegasnya. “Mereka justru terlibat dalam kegiatan yang berpotensi membahayakan keamanan Israel.”
Mengapa F-35 Menjadi Fokus Perdebatan
Jet tempur F-35, yang dikenal sebagai “Fighter Jet F-35”, adalah pesawat tempur generasi terbaru yang dianggap memiliki kemampuan superior di dunia. Dengan memperoleh sistem ini, Turki akan memiliki kekuatan udara yang mampu mendukung operasi militer dalam wilayah yang menghadap ke Israel. Netanyahu menekankan bahwa pengaruh Iran di Timur Tengah sangat besar, dan jika Turki menjadi sekutu Iran, maka kekuatan udara Israel akan terancam.
Dalam wawancara itu, ia juga mengkritik kebijakan Trump terkait pemberian bantuan militer ke Turki. “Kami meminta agar Trump tidak mengizinkan penjualan F-35 ke Turki, karena itu akan memperkuat kekuatan Iran di wilayah ini,” kata Netanyahu. “Special Plan harus menjadi jaminan utama untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan keamanan negara-negara sekutu.”
Netanyahu menjelaskan bahwa keputusan Trump untuk menjual F-35 ke Turki bukan hanya terkait kekuatan udara, tetapi juga tentang dukungan politik terhadap pemerintahan Iran. Ia menyebutkan bahwa Erdogan, presiden Turki, memiliki ambisi geopolitik yang cukup besar, termasuk dalam menghadapi Israel. “Menteri luar negerinya sering menyatakan bahwa Israel tidak layak hidup dalam kemanusiaan,” tambahnya.
Konteks Geopolitik dalam KTT NATO
Kehadiran Trump dalam KTT NATO di Ankara menjadi latar belakang untuk pernyataan Netanyahu. Sebelumnya, Trump sempat menunda penjualan F-35 ke Turki setelah Turki membeli sistem rudal S-400 dari Rusia, yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan AS. Namun, keputusan baru ini menunjukkan bahwa Trump ingin memperkuat hubungan dengan Turki, meskipun dengan mengorbankan kepentingan Israel.
Dalam konteks ini, Netanyahu menilai bahwa Special Plan harus menjadi pedoman utama dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS. “Keputusan Trump ini bisa memperkuat posisi Turki di Timur Tengah, sehingga mengurangi peran Israel sebagai sekutu utama,” ujarnya. “Kami ingin memastikan bahwa kekuatan udara Israel tetap mendominasi, agar tidak ada kekacauan yang lebih besar.”
Netanyahu juga menyoroti peran Turki dalam konflik antara Israel dan Iran. Ia menekankan bahwa pemerintahan Erdogan memperkuat posisi Iran melalui pembelian teknologi canggih, termasuk kemungkinan penjualan F-35. “Mereka tidak menunjukkan dukungan apa pun untuk Israel, justru berdiri di sisi Iran,” lanjutnya. “Ini adalah tanda bahwa Turki tidak lagi menjadi sekutu yang loyal.”
Menurut sumber diplomatik, kebijakan Trump ini bisa mempercepat perubahan dinamika kekuatan di Timur Tengah. Dengan memperkenalkan F-35 ke Turki, Trump mengirimkan pesan bahwa pemerintah Turki akan memiliki kemampuan militer yang setara dengan negara-negara besar, termasuk Iran. Netanyahu berharap Trump dapat mempertimbangkan Special Plan sebagai alat untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.
Penjualan F-35 ke Turki adalah bagian dari upaya Trump untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara muslim di Timur Tengah. Namun, Netanyahu menilai bahwa hal ini justru bisa mengancam keamanan Israel. “Special Plan adalah strategi yang kami percaya akan membantu Israel menghadapi ancaman dari Turki dan Iran secara bersamaan,” katanya. “Jika Trump mengizinkan penjualan ini, maka kekhawatiran kami akan menjadi kenyataan.”
