Special Plan: PSI’s Bestari Barus Mengungkap Megawati & Ganjar Pranowo Tidak Pernah Menang Usai Jokowi Meninggalkan PDIP
Special Plan – Dalam wawancara terbaru dengan CNN Indonesia, Ketua DPP PSI di bidang politik, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa kebijakan atau strategi khusus yang disebut “Special Plan” ternyata belum mampu membawa PDIP meraih kemenangan dalam pemilu setelah Presiden ketujuh RI Joko Widodo meninggalkan partai. Menurut Bestari, kekalahan dalam Pilpres 2024 tidak hanya memengaruhi Ganjar Pranowo, tetapi juga menimpa Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDIP, yang sejak lama tak pernah mampu menang dalam pemilihan umum atau presiden.
Analisis Kekalahan dan Dampak Pemecatan Jokowi
Bestari Barus mengatakan bahwa keputusan PDIP untuk memecat Jokowi sebagai kader partai memiliki dampak signifikan terhadap kinerja politik partai tersebut. Ia menegaskan bahwa kekalahan dalam Pilpres 2024 bukan sekadar akibat ketidakekspertisian kandidat, tetapi juga karena kehilangan strategi “Special Plan” yang dulu menjadi fondasi kemenangan. Meski begitu, Bestari percaya bahwa PDIP masih memiliki peluang untuk bangkit meski Jokowi tidak lagi menjadi bagian dari partai.
Sejak Jokowi meninggalkan PDIP, partai tersebut memang mengalami kekacauan dalam perencanaan politik. Keberhasilan “Special Plan” yang dulu memandu kemenangan dalam beberapa periode pemilu kini terasa semakin berkurang, terutama ketika kader utama seperti Megawati dan Ganjar Pranowo terus mengalami kesulitan mempertahankan dukungan pemilih.
Histories PDIP Tanpa Jokowi
Ketua DPP PSI itu juga mengungkapkan bahwa PDIP memang belum pernah meraih kemenangan signifikan dalam pemilu sejak Jokowi dipecat. Data menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, partai tersebut mengalami penurunan suara di berbagai daerah, termasuk dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden. Bestari menegaskan bahwa kebijakan “Special Plan” yang dulu berhasil menciptakan kekuatan politik PDIP kini mulai tergeser karena kurangnya koordinasi dan visi jelas.
Menurut Bestari, kehilangan Jokowi bukan hanya berdampak pada kepemimpinan, tetapi juga pada cara PDIP mengelola strategi nasional. “Special Plan” yang dulu mampu menjaga koherensi dan kekuatan partai sekarang terasa lebih sulit dijalankan, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dari partai-partai lawan.
Bestari Barus menambahkan bahwa kekalahan PDIP dalam Pilpres 2024 menjadi bukti nyata bahwa “Special Plan” kini tidak lagi cukup untuk memastikan kemenangan. Dalam konteks ini, ia menyebutkan bahwa Megawati dan Ganjar Pranowo tidak memiliki kekuatan cukup untuk menggantikan peran Jokowi sebagai pemimpin politik yang bisa mengarahkan partai ke arah kemenangan.
Perspektif Guntur Romli Tentang Dukungan Jokowi
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, membenarkan bahwa Jokowi memang tidak lagi menjadi bagian dari partai sejak dipecat. Namun, ia menegaskan bahwa dampak Jokowi terhadap elektabilitas PDIP masih bisa dilihat dalam hasil pemilu yang lalu. “Special Plan” yang dulu dibentuk bersama Jokowi tetap menjadi dasar keberhasilan PDIP, meskipun kini partai tersebut mencoba menyesuaikan strategi dengan situasi baru.
Guntur Romli menyebutkan bahwa Jokowi memberikan kontribusi yang signifikan selama 10 tahun memimpin negara. Meski hanya sekitar 1 persen dari elektabilitas PDIP yang berasal dari keberadaannya, kehilangan figur tersebut membuat partai menjadi lebih rentan terhadap perubahan arah kebijakan.
Menurut Guntur, PDIP saat ini sedang berupaya untuk mengembangkan “Special Plan” baru yang tidak lagi bergantung pada kekuatan individu Jokowi. Ia mengatakan bahwa partai masih optimis untuk menghadapi tantangan politik ke depan, tetapi keberhasilan ini memerlukan perbaikan dalam struktur kebijakan dan konsistensi dalam menghadapi pemilih.
“Special Plan” kini menjadi fokus utama PDIP dalam membangun kembali kekuatan. Meski ada perbedaan strategi, kader-kader partai tetap berharap bisa menciptakan momentum baru untuk menarik dukungan pemilih di berbagai wilayah.
Dalam konteks ini, Bestari Barus dan Guntur Romli sepakat bahwa keberhasilan “Special Plan” akan menjadi kunci bagi PDIP dalam memperbaiki prestasi politik. Meski kini ada kekhawatiran akan ketidakstabilan, kedua tokoh ini meyakinkan bahwa partai masih memiliki potensi untuk kembali ke puncak dalam pemilu berikutnya, selama bisa mengadaptasi strategi sesuai dengan dinamika politik saat ini.
