Berita Hukum Kriminal

Solving Problems: Anggota TNI AL di Surabaya Diduga Ngamuk Hajar Polisi Sampai Pingsan

Anggota TNI AL di Surabaya Diduga Ngamuk Hajar Polisi Sampai Pingsan

Solving Problems menjadi perhatian publik setelah seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut (TNI AL) berinisial MOT, 40 tahun, diduga melakukan aksi kekerasan terhadap petugas kepolisian di kawasan Hensman Coffee and Spirit, Jalan Dr Wahidin, Surabaya, pada Sabtu dini hari, 24 Mei 2026. Insiden ini menimbulkan kekacauan karena MOT diduga menghajar Kanit Samapta Polsek Tegalsari Iptu Agus Mujiono hingga pingsan. Kejadian ini menyoroti tantangan dalam upaya menyelesaikan konflik antara anggota TNI dan masyarakat.

Proses Pemukulan dan Evakuasi Korban

Insiden dimulai sekitar pukul 01.00 WIB saat petugas kepolisian menerima laporan dari Call Center 110 tentang keributan di kafe tersebut. Warga menyebutkan adanya pria yang mengaku sebagai anggota TNI, membawa senjata tajam berupa parang. Kapolsek Tegalsari AKP Pandhu Bimantara dan Kanit Samapta Iptu Agus Mujiono langsung bergerak ke lokasi, berkoordinasi dengan Garnisun Tetap (Gartap) III/Surabaya untuk menangani situasi. Dalam proses tersebut, pelaku ditemukan berada di dalam mobil Toyota Innova Reborn bernomor W 1068 EH dan melarikan diri, menyebabkan kejar-kejaran yang berlangsung hingga pukul 02.10 WIB.

“Solving Problems dalam penegakan hukum menjadi prioritas, tetapi insiden ini menggambarkan ketika upaya itu berubah menjadi konflik langsung. Pemukulan terhadap Iptu Agus Mujiono terjadi pada pukul 02.15 WIB, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan dilarikan ke RS William Booth,” ujar Kasihumas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto, Jumat (29/5).

Detail Korban dan Saksi Mata

Solving Problems dalam konteks ini juga melibatkan korban sipil. Menurut saksi mata bernama GD, ia melihat seorang pria dikejar oleh pelaku dalam kondisi berlumuran darah. “Solving Problems dalam situasi darurat membutuhkan kecepatan respons, tetapi kejadian ini menunjukkan kurangnya pengendalian oleh pihak terkait,” terang GD. Korban sipil itu terus dikejar hingga Jalan MH Thamrin, lalu kembali dihajar di tempat kedua sebelum belasan aparat gabungan tiba untuk menenangkan suasana.

“Terduga pelaku hanya satu orang, sementara korban lari sampai ke gang sebelah. Waktu dikejar, korban sudah berlumuran darah. Maka, solving problems dalam kasus ini masih memerlukan evaluasi lebih lanjut,” tambah GD.

Penjelasan dari Kabagpen AAL

Kepala Bagian Penerangan Akademi Angkatan Laut (Kabagpen AAL) Letkol Laut (KH) Arief Kurnianto memberikan keterangan bahwa Mayor MOT berasal dari matra Angkatan Laut. Namun, berdasarkan pemeriksaan awal, AAL membantah narasi adanya pembacokan atau penggunaan senjata tajam terhadap korban. “Yang kami terima, tidak ada pembacokan, dan diperiksa tidak ada yang dibacok,” tegas Arief, Senin (25/5).

Arief menjelaskan bahwa pemukulan dilakukan oleh pelaku dengan tangan kosong, meskipun pihaknya masih menginvestigasi jumlah korban pasti. “Solving Problems dalam kasus ini sedang diproses internal, dan kita telah mendatangi korban untuk menyampaikan permohonan maaf,” tambahnya. AAL mengklaim pelaku telah mengakui perbuatannya, sementara korban menerima maaf secara langsung.

Konteks dan Dampak Insiden

Kasus ini memicu penelusuran lebih lanjut mengenai dinamika hubungan antara TNI dan polisi, serta respons masyarakat terhadap upaya solving problems yang dianggap tidak berjalan lancar. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Surabaya mengkritik tindakan anggota TNI AL karena dianggap melanggar etika dalam menjalankan tugas. Kejadian ini juga memperkuat wacana tentang pentingnya komunikasi yang efektif antara institusi militer dan kepolisian dalam menyelesaikan masalah konflik.

“Solving Problems sering kali diharapkan menjadi alat untuk mencegah eskalasi ketegangan, tetapi dalam kasus ini, terjadi kebalikannya. Kita perlu melihat apakah prosedur yang diterapkan sudah sesuai dengan standar operasional, atau ada faktor luar yang memicu aksi tersebut,” tambah Arief.

Langkah Selanjutnya dan Evaluasi

Sebagai langkah penyelesaian, kasus tersebut telah diserahkan ke Provos AL untuk ditangani secara internal. Pihak TNI AL menyatakan telah melakukan upaya menyelesaikan masalah dengan kunjungan ke RS William Booth untuk bertemu korban. “Kita berharap solving problems bisa berjalan cepat dan transparan, agar masyarakat tidak merasa tertinggal atau dirugikan,” ujar Arief. Dalam waktu dekat, pihak AAL akan mengungkap hasil investigasi lebih lanjut, termasuk alasan di balik tindakan pemukulan oleh MOT.

Leave a Comment