Berita Gaya Lainnya

Usai Kehilangan Jabatan – Mengapa Rasanya Menyakitkan? Ini Alasannya

Usai Kehilangan Jabatan, Mengapa Rasanya Menyakitkan? Ini Alasannya

Usai Kehilangan Jabatan – Beberapa waktu belakangan ini, tak sedikit pejabat yang dipaksa turun dari posisi mereka karena terlibat kasus hukum. Mulai dari Kepala MBG dan dua mantan wakilnya yang ditahan oleh Kejaksaan Agung, hingga Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pertanyaan muncul, bagaimana perasaan seseorang ketika tiba-tiba kehilangan jabatan, dan mengapa hal ini terasa seperti trauma.

Penyebab Rasa Sakit saat Kehilangan Jabatan

Mengutip laman Kementerian Kesehatan, kondisi ini disebut sebagai post-power syndrome. Gejala-gejala seperti penurunan harga diri dan perubahan sikap sering muncul saat seseorang kehilangan kekuasaan atau status jabatan. Fenomena ini bisa dialami oleh siapa saja, terutama yang baru kehilangan pekerjaan.

Post-power syndrome adalah kondisi kejiwaan yang umum terjadi pada orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan. Kondisi ini biasanya disertai dengan penurunan harga diri.

Selain itu, sebuah penelitian oleh Janske H.W. Van Eersel et al. yang dipublikasikan di jurnal Front Psychiatry (2022) menjelaskan bahwa kehilangan jabatan atau karier bisa memicu reaksi kesedihan sekuat duka cita karena kehilangan orang terkasih.

Menurut laman Reach Link, kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan tugas, tetapi juga mengguncang identitas pribadi. Peran profesi seringkali menjadi bagian dari struktur diri seseorang.

1. Kehilangan Identitas Pribadi

Kehilangan identitas menjadi salah satu penyebab utama rasa sakit. Jabatan sering kali menjadi cerminan status sosial dan kepercayaan diri. Contohnya, seorang insinyur mungkin dianggap sebagai problem solver, sedangkan manajer dianggap sebagai pemimpin. Ketika peran ini lenyap, seseorang bisa merasa kehilangan bagian mendasar dari dirinya.

2. Kehilangan Interaksi Sosial

Interaksi sehari-hari yang selama ini terjalin dalam lingkungan kerja bisa berubah drastis. Mulai dari diskusi di grup chat hingga janji makan bersama, kehilangan akses ke rutinitas sosial ini seringkali membuat seseorang merasa terisolasi, terutama jika sulit membangun hubungan di luar pekerjaan.

3. Perubahan Struktur Harian

Posisi kerja memberi struktur yang jelas bagi kehidupan sehari-hari. Jadwal bangun, tugas, hingga waktu pulang membentuk pola hidup yang konsisten. Tanpa struktur ini, seseorang bisa merasa kehilangan arah, karena pekerjaan juga menjadi sumber tujuan dan rasa diperlukan.

4. Sistem Limbik Menganggap Kehilangan Jabatan Seperti Kehilangan Orang Terdekat

Kehilangan jabatan memicu respons emosional yang sama seperti kehilangan orang terkasih. Psychology Today menyebutkan bahwa sistem limbik di otak tidak bisa membedakan antara kehilangan pekerjaan dan kehilangan identitas pribadi. Keduanya mengaktifkan stres yang sama, termasuk peningkatan kortisol dan aktivasi area otak yang terkait rasa sakit.

5. Dopamin yang Dibangun dari Pekerjaan

Pekerjaan seringkali menjadi sumber penghargaan yang melibatkan pelepasan dopamin. Neurotransmiter ini menghasilkan perasaan senang dan kepuasan. Selama bertahun-tahun, otak terbiasa menghubungkan jabatan dengan sistem penghargaan ini. Ketika pekerjaan hilang, seseorang bisa merasa kehilangan motivasi.

Mengalami kehilangan jabatan atau pekerjaan bisa berdampak pada aspek psikologis, fisik, dan perilaku. Tiga kategori gejala ini seringkali muncul bersamaan, seperti kelelahan, kehilangan semangat, hingga sulit beradaptasi dengan kehidupan baru.

Leave a Comment