Berita Film

Main Agenda: Viral Berbahasa Indonesia, Backrooms Debut Impresif di Box Office

Viral Berbahasa Indonesia, Backrooms Debut Impresif di Box Office

Main Agenda menjadi perhatian utama dalam dunia hiburan global akhir-akhir ini, terutama setelah film horor psikologis Backrooms mencuri sorotan di pasar box office Amerika Utara. Dalam pekan pertama rilisnya, karya yang dikembangkan oleh YouTuber Kane Parsons dan penulis Will Soodik ini berhasil mengumpulkan pendapatan US$81,4 juta atau setara Rp1,45 triliun (US$1 = Rp17.870), mencatatkan penjualan awal yang mengesankan. Hasil ini mencapai puncak keberhasilan sekaligus menggeser posisi penonton baru dalam industri film, sebagaimana dikatakan oleh Jeff Bock dari Exhibitor Relations, seperti dilaporkan Variety.

Asal Usul dan Pengaruh Viral

Keberhasilan Backrooms dianggap secara signifikan dipengaruhi oleh keberadaan rekaman suara salam berbahasa Indonesia yang termuat dalam The Golden Records NASA tahun 1977. Suara dari Ilyas Harus, yang dipublikasikan oleh para peneliti, menjadi pelopor tren viral di media sosial, memperkaya persepsi masyarakat terhadap kisah creepypasta. Film ini muncul sebagai adaptasi dari serial web yang sama nama, dengan plot yang mengikuti cerita Clark, seorang pemilik toko furnitur yang jatuh ke ruangan tak berujung setelah menemukan pintu rahasia.

Kemunculan Backrooms dalam bentuk film menunjukkan kesiapan industri hiburan untuk menyerap tren digital. Dengan anggaran produksi hanya US$10 juta, karya ini mencapai posisi teratas di box office, menegaskan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam konten internasional bisa menjadi faktor penentu. Tidak hanya itu, film ini juga menjadi bukti kekuatan Main Agenda dalam menjangkau penonton dari berbagai belahan dunia.

Banyaknya Pengaruh Global

Pendapatan global Backrooms mencapai US$118 juta, yang terdiri dari US$36,5 juta di pasar luar negeri dan sebagian besar dari domestik. Angka ini mengilustrasikan bahwa Main Agenda tidak hanya memperkuat popularitas lokal, tetapi juga menembus pasar internasional. Dalam wawancara dengan Variety, Jeff Bock memprediksi bahwa keberhasilan film ini akan memberdayakan industri hiburan, mengingat minat penonton terhadap kisah yang melibatkan elemen misteri dan pengalaman menakutkan.

Main Agenda dan Backrooms adalah bentuk kolaborasi yang menarik. Ketika konten viral bersamaan dengan karya film, itu menciptakan momentum yang luar biasa,” tulis Jeff Bock dalam wawancaranya.

Keberhasilan film ini juga menunjukkan potensi Main Agenda sebagai strategi pemasaran yang inovatif, terutama dalam genre horor. Perusahaan produksi mungkin mulai mengeksplorasi ide-ide serupa untuk memperkuat posisi mereka di pasar global.

Kemudian, film Obsession karya YouTuber Curry Barker menorehkan prestasi yang mengikuti. Karya tersebut mengumpulkan US$26,4 juta di pasar domestik, menjadikan total pendapatan US$104,7 juta, dengan pendapatan global mencapai US$148 juta. Dengan anggaran produksi hanya US$1 juta, Obsession menunjukkan bahwa Main Agenda juga mampu menarik penonton untuk genre horor supranatural. Kedua film ini mencerminkan peningkatan peran media sosial dalam membentuk kesuksesan box office.

Pendapatan awal Backrooms menegaskan bahwa Main Agenda memiliki dampak yang luas, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Produksi yang berasal dari serial web Parsons ini juga membuktikan bahwa narasi lokal bisa menjadi titik awal untuk pengembangan film internasional. Dengan hanya US$10 juta anggaran, karya ini berhasil menorehkan kesuksesan yang melebihi ekspektasi, menegaskan bahwa Main Agenda bisa menjadi fondasi yang kuat dalam industri hiburan modern.

Leave a Comment