Berita Eropa Amerika

Facing Challenges: Permaisuri Terakhir Iran Masih Hidup, di Mana Sekarang?

Permaisuri Terakhir Iran Masih Hidup, di Mana Sekarang?

Facing Challenges – Sebelum revolusi 1979, Iran dipimpin oleh Raja Shah Reza Pahlavi dan Permaisuri Ratu Farah Diba. Sebagai istri dari sang raja, Farah Diba sering disebut Shahbanou Iran. Ia dilahirkan di Teheran pada 14 Oktober 1938, putra tunggal dari Sohrab Diba dan Farideh Ghotbi. Kehidupannya berubah drastis ketika revolusi memaksa sistem monarki untuk runtuh, memaksa keluarga kerajaan untuk berada di luar negeri. Pada 16 Januari 1979, Permaisuri Farah dan sang raja meninggalkan Iran sebagai bagian dari proses pengasingan. Hal ini disebutkan dalam laman pribadi

“Pada 16 Januari 1979, Permaisuri Farah dan Shah meninggalkan Iran untuk mengasingkan diri,”

kata situs farahpahlavi.org.

Kehidupan di Paris dan Pemandangan Khas

Setelah meninggalkan Iran, Farah Diba Pahlavi memilih tinggal di Paris. Di kota ini, ia menikmati kehidupan yang tenang di apartemen mewah, lengkap dengan pemandangan luas yang menjangkau Sungai Seine dan landmark besar di seberangnya. Menurut laporan

“Permaisuri Iran tinggal sendirian di kemewahan yang tenang di sebuah apartemen Paris dengan pemandangan luas melintasi Sungai Seine dan landmark kota besar di seberangnya,”

tulis the Weekly. Meski memiliki lingkungan yang memanjakan, Farah mengungkapkan bahwa ia masih menginginkan kesempatan untuk melihat kembali negaranya. Ia menyatakan keinginan untuk menukar pemandangan Paris dengan sekali pandang ke kampung halamannya.

Selama ini, Farah tetap berada di Paris, memperhatikan perkembangan Iran dari jarak jauh. Terutama dalam bidang seni dan kebudayaan, ia tetap aktif, meski tak lagi menjadi bagian dari pemerintahan. Sebagai seorang yang memiliki passion terhadap seni, ia aktif dalam berbagai organisasi kultural sejak masa kecil. Dulu, ia memimpin lebih dari 26 lembaga pendidikan, kesehatan, olahraga, dan budaya, termasuk organisasi non-pemerintah. Kehidupan di Iran juga berisi kegiatan seni yang kaya, yang menjadi salah satu motivasi utama bagi keputusannya untuk tinggal di sana.

Jejak Kehidupan dan Keturunan

Farah Diba Pahlavi berasal dari keluarga aristokrat Iran yang terkenal. Sebelum menikah, ia menempuh pendidikan di Prancis, tepatnya di Ecole d’Architecture, pada tahun 1959. Di sana, ia bertemu dengan Mohammad Reza Shah Pahlavi, raja Iran saat itu, selama sebuah acara resmi di kedutaan besar. Pertunangan mereka diumumkan pada 1 Desember, dan pernikahan mereka terjadi tiga minggu kemudian, pada 20 Desember 1959. Dari pernikahan ini, Farah melahirkan empat anak: Putra Mahkota Reza pada tahun 1960, Putri Farahnaz pada 1963, Pangeran Alireza pada 1966, dan Putri Leila pada 1970. Kehidupan keluarga kerajaan Iran selama masa pemerintahan Shah sangat berpengaruh terhadap masa kecilnya.

Kehidupan Farah sebelum revolusi dikenal penuh kekayaan dan kesenangan. Namun, setelah 1979, segala keindahan itu tergantikan oleh kehidupan eksil yang penuh kesedihan. Meski demikian, ia tetap mempertahankan hubungan dengan Iran, terutama melalui pengamatan terhadap isu seni dan kebudayaan. Menurut laporan, Farah tak pernah benar-benar melupakan negerinya. Ia bahkan menyatakan bahwa keinginan untuk kembali adalah harapan yang tak pernah pudar.

Harapan dan Konsistensi dalam Keyakinan

Pasca-revolusi, Iran berganti dari sistem monarki ke teokrasi, yang memutus keterlibatan Farah secara langsung dalam pemerintahan. Namun, ia tak pernah benar-benar meninggalkan kepeduliannya terhadap negara. Meski tinggal jauh dari Teheran, Farah terus memantau perkembangan Iran, terutama dalam bidang seni. Hal ini karena minatnya yang luar biasa terhadap seni, yang ia banggakan selama masa tinggal di Iran. Kegiatannya dalam memajukan seni dan budaya menjadi salah satu ciri khas dari peran keluarga kerajaan yang ia tempuh.

Saat ini, memasuki tahun ke-47 sebagai warga pengasing, Farah Diba Pahlavi tetap yakin bahwa impian untuk kembali ke Iran akan tercapai. Ia menjalani kehidupan yang damai di Paris, tetapi tidak melupakan akar sejarahnya. Meski telah lama menjauh dari Iran, keberadaannya masih menjadi simbol bagi orang-orang yang menginginkan perubahan dalam politik dan kebudayaan negara itu. Harapan ini diungkapkan melalui pernyataannya bahwa ia akan dengan senang hati menukar kemewahan Paris dengan sekali pandang ke kampung halamannya.

Kehidupan Farah di luar negeri juga menjadi topik pembicaraan di berbagai media. Meski ia tinggal sendirian, kegiatan kultural dan kehidupan sosial di Paris tak pernah mengurangi minatnya terhadap Iran. Sebagai putri dari keluarga kaya, ia memiliki akses ke sumber daya yang memungkinkan ia berpartisipasi aktif dalam berbagai proyek seni. Dalam waktu 20 tahun masa jabatannya sebagai Permaisuri, ia menjadi pelindung bagi 12 lembaga seni dan memimpin sejumlah organisasi pendidikan serta budaya. Kegiatannya ini menjadi bukti bahwa ia memang lahir untuk membawa seni ke tengah masyarakat Iran.

Dari Teheran ke Paris, perjalanan Farah Diba Pahlavi adalah cerminan dari perubahan besar dalam sejarah Iran. Meski tinggal jauh, ia tak pernah berhenti memikirkan masa depan negaranya, khususnya dalam aspek kebudayaan. Dengan semangat yang tak pernah redup, Farah tetap menjadi bagian dari cerita Iran, meskipun hanya dari luar negeri. Impiannya untuk kembali akan terwujud, menurut keyakinannya, meski jalan untuk mencapainya masih panjang.

Leave a Comment