Program Terbaru Pupuk Indonesia Edukasi Petani Jatim tentang Pemupukan Berimbang
Latest Program – Dalam rangka meningkatkan kualitas pertanian, Pupuk Indonesia meluncurkan program terbaru yang fokus pada pemupukan berimbang bagi petani Jawa Timur. Saat ini, stok pupuk bersubsidi di provinsi tersebut mencapai 142.711 ton, yang memastikan pasokan memadai untuk kebutuhan produksi sepanjang musim tanam. Program ini disampaikan oleh Regional CEO 3 Pupuk Indonesia, Eko Suroso, dalam acara “Media Gathering Regional 3” di Lamongan, Rabu (1/7). Eko menjelaskan bahwa selain memenuhi kebutuhan logistik, perusahaan juga berkomitmen memberikan edukasi agar petani menerapkan metode pemupukan optimal sesuai rekomendasi.
Program Subsidi Pupuk Terbesar di Indonesia
Eko menyatakan bahwa alokasi pupuk bersubsidi untuk Jawa Timur pada 2026 mencapai 2.038.387 ton, jumlah tertinggi di seluruh Indonesia. “Provinsi ini menjadi pusat pertanian nasional, sehingga kebutuhan pupuk terus meningkat,” ungkapnya. Menurut Eko, penggunaan pupuk berlebihan selama beberapa tahun terakhir berdampak pada peningkatan biaya produksi dan kerusakan tanah. Dengan program terbaru ini, Pupuk Indonesia ingin mengedukasi petani agar mengaplikasikan pemupukan yang seimbang, seperti rasio 5:3:2, yaitu 500 kg pupuk organik, 300 kg pupuk NPK, dan 200 kg pupuk Urea per hektare.
“Program terbaru ini juga melibatkan penggunaan mobil uji tanah untuk membantu petani mengetahui kondisi lahan secara langsung,” kata Eko.
Pemupukan Berimbang dan Teknologi Pendukung
Program terbaru Pupuk Indonesia tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menyediakan alat bantu seperti mobil uji tanah yang memudahkan petani menentukan jenis dan jumlah pupuk yang dibutuhkan. Teknologi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat pendekatan presisi dalam pertanian. “Dengan mobil uji tanah, petani bisa menyesuaikan pemupukan sesuai kebutuhan tanah, sehingga mengurangi pemborosan pupuk,” tambah Eko. Pemupukan berimbang yang dianjurkan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian.
Ketersediaan Stok dan Realisasi Penyaluran
Stok pupuk bersubsidi saat ini mencakup Urea 113.239 ton, NPK Phonska 21.026 ton, NPK Kakao 129 ton, pupuk organik 5.971 ton, ZA 1.540 ton, serta SP-36 806 ton. Total ini melebihi ambang minimum dan mampu memenuhi kebutuhan petani selama tiga minggu ke depan. Eko menyebutkan bahwa tingkat serapan pupuk telah mencapai 56 persen, atau sekitar 1.146.561 ton. Kemudahan distribusi, termasuk penyederhanaan regulasi dan penurunan HET (Harga Eceran Tertinggi), berkontribusi pada peningkatan serapan. Untuk memastikan distribusi merata, Pupuk Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pertanian Jatim memantau realisasi penyaluran di setiap daerah.
“Distribusi pupuk yang efisien adalah bagian penting dari program terbaru ini, agar setiap petani mendapatkan bantuan secara adil,” ujarnya.
Pendaftaran Petani dalam e-RDKK
Petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi wajib terdaftar dalam e-RDKK, dengan batas lahan maksimal 2 Ha. Program terbaru ini juga mengintegrasikan pendekatan digital untuk memastikan keakuratan data. Eko menjelaskan bahwa komoditas yang mendapat subsidi terbatas pada 10 jenis, seperti padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu. Tahun ini, pemerintah juga mengalokasikan subsidi untuk sektor perikanan, termasuk pembenihan dan pembesaran ikan.
Untuk pembenihan, pupuk bersubsidi diberikan kepada udang windu, vaname, bandeng, nila, mas, gurame, lele, dan patin. Sementara itu, pembesaran mencakup udang windu, vaname, bandeng, nila salin, serta lele. Pembudidaya ikan harus terdaftar di e-RPSP dan memenuhi batas lahan sesuai jenis budidaya, yaitu maksimal 0,75 Ha untuk air tawar dan 0,5 Ha untuk air payau. Program terbaru ini dirancang untuk menciptakan pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan, sejalan dengan target swasembada pangan nasional.
Kolaborasi dan Kebijakan Pemerintah
Kolaborasi antara Pupuk Indonesia dengan pemerintah daerah dan lembaga pertanian menjadi kunci sukses program terbaru ini. Selain memastikan pasokan pupuk terpenuhi, perusahaan juga terus berupaya menyebarkan pengetahuan tentang efisiensi pemupukan melalui berbagai media. Eko menekankan bahwa edukasi menjadi faktor utama dalam mengoptimalkan penggunaan pupuk bersubsidi. “Program terbaru ini bukan hanya tentang distribusi, tapi juga tentang transformasi cara berpikir petani dalam memupuk lahan,” jelasnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan pertanian Jatim bisa menghasilkan produksi yang lebih maksimal tanpa mengorbankan kualitas tanah.
