Historic Moment: Memori ’98 dan Imajinasi Andre Syahreza dalam Semesta Nekra
Historic Moment – Buku karya Andre Syahreza yang berjudul Semesta Nekra ini menjadi pengingat akan historic moment Indonesia pada tahun 1998. Dalam karya kelimanya, penulis mencoba menggabungkan kenangan masa lalu dengan imajinasi masa kini, memperlihatkan kisah-kisah yang menggambarkan perubahan sosial dan politik negara ini. Buku ini terdiri dari 30 cerpen yang dibagi dalam tiga babak, mengajak pembaca mengikuti perjalanan sebuah karakter utama dari era 1994 hingga 2033.
Refleksi Pemikiran Melalui Cerita Pendek
Historic moment pada tahun 1998 menjadi fondasi awal dalam penulisan Semesta Nekra, meski buku ini tidak hanya fokus pada peristiwa tahun itu. Andre Syahreza menjelaskan bahwa ia ingin menyoroti semangat reformasi yang terus relevan hingga saat ini. “Saya memakai ’98 sebagai pintu masuk, tapi yang saya ingin tampilkan adalah konsep reformasi yang lebih luas, karena terasa seperti gelombang yang kembali menghiasi peta sosial,” katanya.
Dalam babak pertama, tokoh-tokoh seperti pedagang asongan, prajurit, tukang gali kubur, dan teknisi mikrofon menunjukkan peran mereka dalam membangun narasi tentang masa depan. Karakter utama, Nekra Selabar, dianggap sebagai mahasiswa yang terlibat dalam gerakan perubahan, kemudian menjadi politisi dan pion politik masa kini. “Ini adalah eksplorasi tentang bagaimana historic moment pada ’98 masih menggema dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam tindakan-tindakan kecil orang biasa,” ujarnya.
“Kalau buku ini dideskripsikan ’98 sebagai ‘keyword’ sebenarnya agak misleading, karena novel ini enggak spesifik tentang ’98 atau kejadian pada ’98 kayak Laut Bercerita, tapi memang dimulai suasananya dari sana, 1994 hingga berakhir di 2033,” kata Andre saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Minggu (25/5).
Karakter-karakter dalam Semesta Nekra saling terhubung oleh tema utama yang menyentuh dinamika politik dan sosial. Andre mencoba menyampaikan kekhawatirannya bahwa gejolak sebelumnya, seperti oligarki dan inflasi, bisa muncul kembali. “Saya ingin pembacanya melihat kembali pertanyaan, ‘kok reformasi itu tidak berhasil?’ dan memikirkan bagaimana historic moment 1998 bisa menjadi cermin bagi perubahan masa kini,” terangnya.
“Saya lihat situasi sekarang mirip dengan masa ’98, jadi saya tergerak untuk menyampaikan pesan bahwa reformasi bisa terulang lagi,” tambah Andre. “Ini bukan sekadar kisah masa lalu, tapi juga pertanyaan-pertanyaan kontemporer tentang perubahan dan konsistensi nilai-nilai yang kita warisi.”
Sebagai lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Andre Syahreza mengakui bahwa Semesta Nekra adalah upaya menggabungkan dunia jurnalistik dan sastra. “Saya memulai dari eksperimen, tetapi justru menemukan jalan yang cocok untuk menyampaikan historic moment dalam bentuk yang lebih naratif,” katanya. Buku ini juga menggambarkan perjalanan pribadinya sebagai jurnalis di Bali Post dan TEMPO, serta perannya sebagai editor majalah djakarta!.
Kontribusi dan Relevansi Karya
Dalam penjelasannya, Andre menekankan bahwa Semesta Nekra bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang kehidupan saat ini. “Saya percaya historic moment bisa menjadi alat untuk mengenang masa lalu sambil menghadapi tantangan hari ini,” ujarnya. Buku ini diharapkan bisa memicu refleksi pembaca tentang perubahan politik dan sosial yang terus terjadi, serta mengingatkan mereka akan pentingnya partisipasi dalam proses reformasi.
Andre Syahreza juga pernah diundang ke Belanda untuk meneliti karya sastra Indonesia bertema politik, terutama dalam kaitannya dengan warisan sejarah. Pengalaman tersebut membantunya memahami bagaimana historic moment 1998 bisa disampaikan melalui narasi yang lebih global. “Ada kekhasan Indonesia dalam perubahan-perubahan sosial, tapi juga ada kesamaan dengan konteks internasional,” katanya.
Menurut Andre, Semesta Nekra adalah bukti bahwa sastra bisa menjadi medium untuk menyampaikan isu-isu politik secara lebih mendalam. “Saya ingin cerita-cerita ini bisa menjadi ruang diskusi, bukan hanya sekadar membaca,” ujarnya. Buku ini diharapkan mampu menggabungkan nostalgia akan perubahan tahun 1998 dengan harapan akan masa depan yang lebih baik, sekaligus menjadi karya yang relevan di tengah dinamika politik saat ini.
