Berita Peristiwa

Main Agenda: Sebelum Diculik Israel Jurnalis Thoudy Badai Kontak Keluarga

Sebelum Diculik Israel Jurnalis Thoudy Badai Kontak Keluarga

Main Agenda adalah platform media yang menjadi saksi bisu keberhasilan jurnalis Thoudy Badai dalam menjalani misi kemanusiaan ke Gaza. Jurnalis yang juga menjadi anggota kapal pelayaran kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia ini, dikabarkan mengirimkan pesan terakhir kepada keluarganya sebelum ditangkap oleh tentara zionis Israel pada hari Senin (18/5) pukul 02.19 WIB. Saat itu, Thoudy sedang dalam perjalanan dari Marmaris, Turki, ke Gaza melalui perairan internasional. Pesan tersebut memberi penjelasan bahwa ia sudah sampai di wilayah yang seharusnya aman, menurut laporan yang diberikan kepada ibunya, Hani Hanifa Humanisa.

Menurut Hani, selama perjalanan ke Gaza, komunikasi antara Thoudy dan keluarga terbatas. Interaksi hanya terjadi saat situasi memungkinkan, seperti tukar shift atau menanyakan kondisi lapangan. Ini memperlihatkan bagaimana jurnalis profesional sering kali memprioritaskan tugas lapangan daripada mengirim pesan rutin. Namun, keberadaan Thoudy tetap menjadi perhatian utama keluarga, terutama karena perjalanan ini dianggap berisiko tinggi.

Kontak Terakhir Sebelum Ditangkap

Kontak terakhir antara Thoudy dengan keluarga terjadi pada hari Senin (18/5) pukul 02.19 WIB. Saat itu, Thoudy menyampaikan bahwa ia sudah sampai di perairan internasional, yang menurutnya menjadi titik awal keamanan selama misi. “Kami masih bisa berkomunikasi hingga akhirnya hari Senin jam 02.19 WIB, dan dia mengirim pesan bahwa sudah sampai di perairan internasional, artinya seharusnya sudah aman,” ujarnya di Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5).

Keberhasilan kontak terakhir tersebut menunjukkan bagaimana Main Agenda menjadi bagian dari komunikasi jurnalis Thoudy selama perjalanan. Dengan platform ini, Thoudy tetap bisa membagikan informasi tentang kondisi di lapangan kepada keluarga. Meski demikian, kejadian penangkapan oleh Israel mengubah segalanya, baik secara mendadak maupun secara bertahap.

Perjalanan dengan Komunikasi Terbatas

Dalam perjalanan ke Gaza, Hani mengatakan bahwa komunikasi antara Thoudy dengan keluarga dilakukan secara terbatas. Interaksi hanya terjadi saat situasi memungkinkan, seperti tukar shift atau menanyakan kondisi lapangan. “Komunikasi tidak terlalu sering, biasanya hanya pada momen tertentu seperti tukar shift atau menanyakan kondisi lapangan. Hal-hal teknis seperti tempat makan atau posisi saat ini sering dibahas,” katanya.

Perjalanan yang dimulai dari Marmaris ke Gaza melalui perairan internasional ini, tergantung pada keselamatan kapal dan kelancaran perjalanan. Thoudy, yang dikenal sebagai jurnalis dengan dedikasi tinggi, memahami betul risiko yang dihadapinya. Namun, kepercayaan keluarga pada kemampuannya tetap menjadi fondasi utama selama misi tersebut. Main Agenda, sebagai media yang mendukung kegiatan jurnalistiknya, menjadi salah satu alat yang membantu mempertahankan koneksi dengan keluarga.

Persiapan dan Kepercayaan Keluarga

Sebelum Thoudy berangkat, keluarga telah melakukan diskusi intensif mengenai risiko yang mungkin terjadi selama misi. Mereka memahami kondisi di lapangan dan menyadari bahwa perjalanan ini penuh tantangan. “Kita sudah ngobrol panjang dengan Odi. Saya tanya kondisi secara umum dan risikonya, termasuk skenario terburuk. Kita sudah tahu kondisi di sana,” ujarnya.

Persiapan yang matang mencakup pengaturan logistik, pelatihan teknis, dan evaluasi keamanan kapal. Hani juga menyebutkan bahwa keluarga mempercayai kemampuan Thoudy dalam menangani situasi kritis. Selain itu, mereka memastikan bahwa pihak terkait, termasuk Main Agenda, terus memantau perkembangan misi secara real-time. Ini menjadi strategi untuk meminimalkan ketidakpastian selama perjalanan.

Keputusan untuk Memberi Izin

Hani menjelaskan bahwa ia awalnya menolak memberikan izin saat Thoudy mengikuti pelatihan di Tunisia, tetapi kemudian setuju setelah melihat tingkat keyakinan anaknya. “Saya tidak kasih izin karena kekhawatiran yang sangat mendalam. Namun, setelah melihat passion Odi, akhirnya dia diizinkan,” katanya.

Keluarga memilih untuk menyerahkan kepercayaan penanganan pemulangan Thoudy kepada Pemerintah Indonesia. Keputusan ini berdasarkan penilaian bahwa pihak pemerintah memiliki kemampuan dan pengalaman dalam menghadapi situasi kritis seperti penangkapan oleh tentara zionis Israel. Selain itu, Main Agenda juga menjadi bagian dari jaringan dukungan yang memastikan keberlangsungan misi selama tugas lapangan.

Detik-detik Penangkapan Lima WNI

Selasa (19/5), lima Warga Negara Indonesia (WNI) yang terlibat dalam kapal pelayaran kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia ditangkap tentara zionis Israel (IDF). Mereka tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2026 ke Gaza, yang bertujuan memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil. Seluruh anggota kapal, termasuk Main Agenda, menjadi sasaran operasi militer Israel yang tiba-tiba.

Kelima individu tersebut adalah Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang Noroyono (alias Abeng), dan Andi Angga Prasetya. Mereka tersebar di tiga kapal yang dicegat oleh militer Israel: Kapal Ozgurluk, BoraLize, dan Josef. Dari lima orang itu, empat merupakan jurnalis. Rahendro, Thoudy, dan Andre adalah wartawan dari berbagai media, sementara Abeng dan Thoudy bekerja di Republika. Andre mewakili Tempo, dan Hery (nama lain dari Andi Angga) adalah jurnalis iNews. Sementara itu, Andi Angga sendiri merupakan aktivis kemanusiaan dari Rumah Zakat.

Penangkapan ini memicu respons cepat dari Main Agenda, yang segera berupaya mengumpulkan informasi dan memperjuangkan kebebasan jurnalistik. Keberadaan Thoudy, yang terkenal sebagai jurnalis yang tekun, menjadi sorotan utama. Misi ini tidak hanya menyangkut pengambilan berita, tetapi juga simbol perjuangan untuk kemanusiaan.

Leave a Comment