Berita Peristiwa

What Happened During: Total 4 Jurnalis RI dalam Pelayaran Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel

What Happened During: 4 Jurnalis RI Dicegat Israel di Gaza

What Happened During menjadi perbincangan hangat setelah empat jurnalis Indonesia, termasuk Bambang Noroyono alias Abeng, Thoudy Badai, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo, terlibat dalam operasi pelayaran kemanusiaan ke Gaza yang dicegat militer Israel. Misi ini, yang dijalankan oleh Global Sumud Flotilla (GSF), bertujuan untuk mengirimkan bantuan logistik dan dukungan moral kepada warga Palestina yang terjebak dalam blokade yang berlangsung sejak 2007. Kini, peristiwa ini memicu ketegangan antara Indonesia dan Israel.

Detik-Detik Penangkapan di Perairan Internasional

Operasi pelayaran kemanusiaan yang berangkat dari Marmaris, Turki, pada Rabu (18/5/2026) terpaksa berhenti saat kapal-kapal militer Israel melakukan aksi pencegatan. Dalam pernyataan resmi Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, para relawan menyatakan bahwa mereka hanya membawa bantuan logistik, obat-obatan, dan suara nurani dunia. “Kami datang untuk memecah blokade yang telah menimpa rakyat Palestina selama bertahun-tahun,” tambahnya.

Kapal-kapal Israel, yang dikabarkan terdiri dari empat unit, menembakkan peluru kecil dan memerintahkan seluruh armada GSF untuk menghentikan mesinnya. Akibatnya, 9 WNI, termasuk para jurnalis, dan sekitar 100 aktivis internasional ditahan di Pelabuhan Ashdod, Israel. Dalam video SOS yang diunggah akun Republika, Abeng menyampaikan bahwa ia sedang dalam penculikan militer Zionis Israel dan meminta pemerintah Indonesia untuk membebaskan mereka.

Apakah Ini Pelanggaran Hukum Internasional?

What Happened During ini memicu pertanyaan tentang kelayakan tindakan Israel dalam menangkap kapal kemanusiaan. Koalisi GSF menyatakan bahwa pencegatan dilakukan secara brutal, dengan pasukan Israel menaiki kapal pertama rombongan di perairan internasional. “Ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan,” ujar Andi Muhyiddin dalam pernyataan terpisah.

Blokade Gaza yang telah berlangsung hampir satu dekade dikenal sebagai salah satu upaya paling kontroversial Israel dalam konflik dengan Palestina. Pelayaran kemanusiaan tahun ini dianggap sebagai bentuk aksi diplomatik dan kemanusiaan yang bertujuan untuk menunjukkan dukungan global terhadap rakyat Palestina. Namun, tindakan Israel dinilai sebagai upaya menghambat upaya tersebut.

Kapal-kapal militer Israel, yang terlibat dalam operasi ini, menegaskan bahwa mereka bertindak berdasarkan hukum perang dan kebijakan blokade. Tapi, para jurnalis dan aktivis menolak ini, menyebutkan bahwa bantuan yang dibawa tidak membahayakan keamanan wilayah Israel. “Kami hanya ingin menyelamatkan nyawa manusia, bukan memicu perang,” tutur salah satu relawan dalam pernyataan.

Respons Pemerintah Indonesia dan Perspektif Internasional

What Happened During ini juga menarik perhatian pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang masih menunggu laporan lebih lanjut. Sejumlah diplomat menyatakan dukungan terhadap upaya pelayaran kemanusiaan, sementara anggota Ombudsman menegaskan bahwa kejadian ini perlu diteliti lebih dalam untuk memastikan tidak ada pelanggaran hak asasi manusia. “Pelayaran ini mencerminkan semangat kebebasan sipil dan solidaritas internasional,” kata salah satu perwakilan organisasi nonpemerintah.

Selain itu, pihak internasional seperti PBB dan organisasi kemanusiaan memprotes tindakan Israel. Perwakilan UNRWA mengatakan bahwa blokade tersebut menyebabkan kesulitan logistik yang parah, termasuk kekurangan makanan dan obat-obatan. “Tanggung jawab mengatasi kesulitan ini adalah kewajiban semua pihak, termasuk negara-negara anggota PBB,” katanya. Sementara itu, beberapa negara Eropa mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran kemanusiaan.

Armada GSF terdiri dari 54 kapal, yang berlayar melewati perairan internasional menuju Gaza. Misi ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan blokade yang dikritik oleh banyak negara. Meski ada penangkapan, para jurnalis dan aktivis tetap bersikeras bahwa pelayaran kemanusiaan adalah tindakan yang sah dan penting untuk menyampaikan suara rakyat Palestina. “Setiap orang berhak memberikan bantuan tanpa dibatasi oleh kekuasaan militer,” pungkas Abeng dalam video terbarunya.

Leave a Comment