Berita Keuangan

Key Discussion: Anggota DPR Soroti Anjlok Rupiah Rp17.664 saat Ekonomi 5,61 Persen

Key Discussion: Rupiah Anjlok ke Rp17.664 Saat Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen

Key Discussion yang diungkapkan oleh anggota DPR RI, Primus Yustisio, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp17.664 per dolar AS di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen. Dalam sesi rapat kerja dengan Bank Indonesia, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyatakan bahwa kondisi pasar keuangan nasional sedang mengalami ketidakstabilan, meskipun pertumbuhan ekonomi tercatat positif.

Pertumbuhan Ekonomi vs Pelemahan Rupiah

“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendah terhadap dolar,” ujarnya.

Primus menekankan bahwa ada ketidaksesuaian antara performa ekonomi dan nilai tukar mata uang domestik. Meski sektor ekonomi mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, pelemahan rupiah terhadap semua mata uang utama, termasuk dolar AS, yen Jepang, dan won Korea Selatan, menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap stabilitas moneter. Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius, karena bisa berdampak signifikan pada inflasi dan daya beli masyarakat.

Kritik Terhadap Kebijakan Bank Indonesia

“Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust (kepercayaan), Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” kata Primus.

Politikus PAN ini mengkritik kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah. Ia menilai bahwa keputusan yang diambil dalam beberapa waktu terakhir telah kehilangan kredibilitas di mata investor dan masyarakat. Dalam Key Discussion, Primus menyoroti bahwa Bank Indonesia perlu segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk memperbaiki kondisi mata uang, terutama dalam menghadapi tekanan dari aspek geopolitik dan ekonomi global.

Key Discussion ini juga mengingatkan tentang pentingnya transparansi dan keberanian dalam mengambil keputusan kebijakan moneter. Primus menambahkan bahwa peran Bank Indonesia sebagai lembaga sentral sangat kritis, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berlanjut. Dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang, ia berharap ada kebijakan yang lebih tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi.

Nilai tukar rupiah terpantau hampir menyentuh level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan siang hari Senin (18/5). Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah tercatat di Rp17.664 per dolar AS pada pukul 13.20 WIB. Posisi ini mengalami penurunan 67 poin atau 0,38 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan tersebut juga memperkuat tekanan terhadap rupiah setelah pada pembukaan perdagangan pagi hari, mata uang domestik sudah ada di level Rp17.630 per dolar AS, turun 33 poin dari hari sebelumnya.

Key Discussion tentang pelemahan rupiah ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak hanya tergantung pada pertumbuhan PDB, tetapi juga pada kemampuan lembaga keuangan dalam menjaga keseimbangan nilai tukar. Primus mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ada kegagalan dalam mengelola kebijakan ekonomi yang bisa berdampak pada ketahanan perekonomian jangka panjang. Dalam Key Discussion, ia menyarankan bahwa Bank Indonesia perlu lebih responsif dalam menghadapi tantangan yang muncul.

Dalam kesimpulannya, Primus mengutip hadis tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya,” pungkasnya. Key Discussion ini menunjukkan bahwa keberhasilan perekonomian tidak hanya bergantung pada data statistik, tetapi juga pada kebijakan yang tepat dan implementasi yang konsisten. Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, kondisi rupiah yang anjlok menjadi sorotan utama dalam diskusi politik dan ekonomi nasional.

Leave a Comment