Berita E Vehicle

Main Agenda: Daihatsu Rocky Hybrid Akan Diproduksi di Malaysia, Indonesia Kebagian?

Daihatsu Rocky Hybrid Akan Diproduksi di Malaysia, Indonesia Kebagian?

Main Agenda – Produksi Daihatsu Rocky Hybrid akan berpindah ke Malaysia, sebuah langkah strategis yang diharapkan memberi dampak signifikan pada pasar mobil Indonesia. Model ini, yang dikenal sebagai Perodua Ativa Hybrid di Malaysia, sekarang menjadi fokus perusahaan dalam upaya mengembangkan teknologi kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara. Spekulasi semakin kuat bahwa Daihatsu Indonesia akan mendapatkan pasokan impor dari Malaysia, mirip seperti model Sirion yang selama ini diimpor secara langsung dari negara tetangga tersebut.

Dikutip dari sumber media Malaysia, Paultan, CEO Perodua, Datuk Seri Zainal Abidin Ahmad, mengungkapkan bahwa perusahaan sedang memfinalisasi diskusi bisnis terkait rencana produksi lokal. Isu ini melibatkan pertimbangan mengenai waktu peluncuran dan harga yang akan ditetapkan. “Setelah kami menyelesaikan semua hal tersebut, kami akan membuat pengumuman resmi di kemudian hari,” jelas Zainal dalam wawancara pada Rabu (14/5). “Model Ativa hybrid ini akan diproduksi secara lokal,” tegasnya, menegaskan komitmen Perodua terhadap peningkatan produksi dalam negeri.

“Setelah kami menyelesaikan semua hal tersebut, kami akan membuat pengumuman resmi di kemudian hari. Yakinlah, model Ativa hybrid ini akan diproduksi secara lokal,” ucap Zainal pada Kamis (14/5).

Menurut informasi dari Global South Fund, Perodua telah menerima dana sekitar 1,5 miliar yen (sekitar Rp166 miliar, kurs Rp111,18) untuk mendukung pengembangan teknologi hybrid Jepang di Malaysia. Dana ini tidak hanya berperan dalam peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga untuk memperkuat riset dan pengembangan sistem penggerak listrik. Proyek produksi Ativa Hybrid termasuk dalam rangkaian pendanaan tersebut, yang menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pengurangan emisi karbon.

Perodua Ativa Hybrid sudah resmi diluncurkan sejak September 2022, namun pada awalnya hanya ditawarkan melalui program berlangganan. Model ini dibuat dengan skema impor completely built up (CBU) dari Jepang, yang membuatnya terlihat mirip dengan Rocky Hybrid yang dijual di Indonesia. Namun, perbedaan mendasar terletak pada strategi pemasaran: di Malaysia, Ativa Hybrid belum tersedia untuk pembelian langsung, sementara Rocky Hybrid telah mulai dijual retail sejak Juli 2025 dengan harga Rp299,8 juta. Dengan produksi lokal, harapan muncul bahwa model ini bisa lebih cepat mencapai konsumen di Indonesia.

Konsep produksi lokal di Malaysia bisa menjadi peluang besar bagi Daihatsu Indonesia. Saat ini, sebagian besar mobil Daihatsu yang dijual di negeri ini diproduksi dalam negeri, kecuali Sirion yang masih diimpor CBU dari Malaysia. Jika Ativa Hybrid benar-benar diproduksi secara lokal di Malaysia, ini akan memudahkan akses Daihatsu Indonesia untuk mendapatkan pasokan Rocky Hybrid dengan biaya lebih terjangkau. Selain itu, penggunaan teknologi hybrid range extender dalam kedua model ini menunjukkan arah yang sama dalam inovasi kendaraan ramah lingkungan.

Daihatsu Rocky Hybrid dan Perodua Ativa Hybrid memiliki desain mesin yang serupa, yaitu menggunakan mesin 3-silinder 1.200 cc sebagai generator, bukan untuk menggerakkan roda langsung. Motor listrik bertenaga 106 PS dan torsi 170 Nm menjadi penggerak utama, sehingga pengemudi hanya merasakan karakter mobil listrik. Teknologi ini memungkinkan mobil menghemat bahan bakar sekaligus mengurangi emisi, tetapi masih memerlukan bantuan bahan bakar konvensional untuk mengisi daya baterai. Meski demikian, sistem ini tetap dianggap lebih efisien dibandingkan mobil hybrid berbasis baterai yang memerlukan pengisian daya eksternal.

Peluncuran Ativa Hybrid di Malaysia pada September 2022 sejatinya merupakan langkah awal untuk mengeksplorasi pasar hybrid. Namun, ketersediaannya melalui skema berlangganan mengindikasikan bahwa produksi massal masih memerlukan waktu. Dalam hal ini, Perodua memanfaatkan impor CBU dari Jepang, yang selama ini menjadi pilihan utama hingga kini. Sementara itu, Daihatsu Indonesia mengimpor Rocky Hybrid langsung dari Jepang, tetapi kini ada kemungkinan produksi lokal di Malaysia akan mengubah pola distribusi ini.

Mengenai jadwal produksi Ativa Hybrid di Malaysia, tidak ada kepastian akhir-akhir ini. Namun, peluang ini bisa menjadi penopang signifikan bagi Daihatsu Indonesia. Dengan pasokan lebih dekat, perusahaan bisa mengurangi biaya logistik serta meningkatkan ketersediaan model di pasar lokal. Selain itu, keberhasilan produksi Ativa Hybrid di Malaysia juga berpotensi memperkuat citra Daihatsu sebagai merek yang inovatif dalam bidang transportasi berkelanjutan.

Konsep hybrid range extender yang digunakan oleh kedua model ini menunjukkan bahwa Perodua dan Daihatsu mengadopsi strategi yang berbeda dari produsen lain. Sebagai contoh, beberapa mobil hybrid di Eropa menggunakan baterai berkapasitas besar, sementara model ini fokus pada efisiensi energi melalui mesin bantu. Meskipun konsep ini masih memerlukan bahan bakar, teknologi ini bisa menjadi pilihan ideal bagi konsumen yang ingin mengurangi biaya operasional tanpa mengorbankan performa. Dengan pasar Malaysia yang mulai terbuka, langkah ini diharapkan mempercepat adopsi teknologi hybrid di wilayah Indonesia.

Peluncuran Rocky Hybrid di Indonesia pada Juli 2025 juga menunjukkan pertumbuhan permintaan terhadap kendaraan ramah lingkungan. Ketersediaan model ini secara retail sejatinya merupakan respons terhadap tren pasar yang semakin mendukung pengurangan emisi. Jika produksi lokal di Malaysia berjalan lancar, ini bisa menjadi acuan untuk mempercepat pengembangan model hybrid di Indonesia. Sebab, secara teknis, Ativa Hybrid dan Rocky Hybrid sangat mirip, hanya berbeda dalam aspek pemasaran dan distribusi.

Dengan pergeseran produksi ke Malaysia, Daihatsu Indonesia bisa memperkuat kemitraan strategis dengan perusahaan lokal. Selain itu, langkah ini juga memperlihatkan potensi peningkatan kapasitas produksi di kawasan Asia Tenggara, yang bisa menjadi basis untuk ekspor ke negara-negara tetangga. Jadi, meski saat ini Rocky Hybrid masih diimpor dari Jepang, jangka panjangnya, produksi di Malaysia akan memberi dampak lebih luas. Dalam konteks ini, teknologi hybrid range extender menjadi bukti bahwa kolaborasi antar negara bisa menghasilkan inovasi yang menguntungkan semua pihak.

Leave a Comment