Berita Sains

Latest Program: Dari Mana Uranium Berasal dan Berapa Lama Prosesnya Jadi Nuklir?

Dari Mana Uranium Berasal dan Berapa Lama Prosesnya Jadi Nuklir?

Latest Program – Sejak konflik antara Iran dan Amerika Serikat memanas, uranium menjadi bahan pembicaraan utama di tingkat internasional. Teheran mengakui kesepakatan untuk menurunkan jumlah uranium yang telah diperkaya serta mengirimkannya ke negara ketiga, sebagai respons terhadap usulan AS yang bertujuan menyelesaikan perang. Namun, pihak Iran menetapkan syarat ketat dalam negosiasi tersebut.

Sumber di Iran menyatakan bahwa pemerintah telah merespons proposal Amerika Serikat, meski belum merilis detailnya. Tuntutan Teheran mencakup jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika pembicaraan tidak berjalan lancar. Mereka juga menolak rencana penghancuran fasilitas nuklir.

Sebagai bahan dasar, uranium berasal dari kerak bumi. Di sana, bijih uranium ditemukan dalam jumlah yang terbatas. Meski tersebar di seluruh dunia, lima negara—Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, dan Rusia—menghasilkan sekitar dua pertiga dari pasokan uranium global. Proses awal mengubah bijih ini menjadi bentuk gas, yang selanjutnya diolah untuk meningkatkan kadar uranium-235 (U-235), isotop utama yang mudah bereaksi nuklir.

Sumber Uranium

Bijih uranium terdapat di kerak bumi, tetapi hanya dalam konsentrasi rendah. Untuk mencapai kegunaan nuklir, baik damai maupun militer, proses pengayaan diperlukan. Council Foreign Relations menjelaskan bahwa U-235 memainkan peran kritis karena relatif langka—hanya kurang dari 1% dari uranium alami.

Proses Pengayaan

Pengayaan uranium umumnya dilakukan melalui sentrifugasi gas. Setelah dipisahkan dari minyak dan kotoran, uranium berbentuk gas dimasukkan ke dalam alat yang berputar cepat. Pemisahan ini memanfaatkan perbedaan berat antara U-238 dan U-235. Proses ini menjadi langkah awal untuk memproduksi senjata nuklir.

Hasil pengayaan dibagi menjadi dua kategori: uranium rendah diperkaya (LEU) dengan kadar U-235 di bawah 20% dan uranium tinggi diperkaya (HEU) yang mencapai 20% atau lebih. LEU digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, sedangkan HEU lebih sering terlibat dalam program militer. Tingkat pengayaan 90% atau lebih disebut uranium senjata, yang memungkinkan pengembangan senjata dalam waktu singkat.

Menurut laporan, setelah mampu mengayai uranium, waktu untuk menghasilkan senjata nuklir bisa terbatas pada beberapa bulan. Hal ini menjadikan pemantauan proliferasi nuklir menjadi tantangan besar. Karena alasan tersebut, negara-negara yang mampu menguasai teknologi pengayaan bisa dengan cepat membangun kemampuan nuklir militer.

Leave a Comment