Berita Health

BPOM Temukan Bahan Pyrimidenafil dalam 3 Produk Jamu Kuat Pria

ilustrasi-obat-tablet-3_169
Foto : Thomas Hernandez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. BPOM Temukan Pyrimidenafil pada Tiga Produk Herbal Stamina Pria
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

BPOM Temukan Pyrimidenafil pada Tiga Produk Herbal Stamina Pria

Kabarberita911.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengidentifikasi pyrimidenafil, bahan kimia obat (BKO) yang sebelumnya belum pernah ditemukan dalam pengawasan obat bahan alam (OBA) di Indonesia. Zat tersebut terdeteksi dalam tiga produk yang dipasarkan dengan klaim membantu stamina pria.

Tiga produk yang dimaksud ialah EXIE, YUBOKKI, dan DURAMAX. Seluruhnya diproduksi oleh PT Bintang Kupu-Kupu di Tangerang. Setelah hasil pengujian diperoleh, BPOM mencabut izin edar ketiga produk tersebut.

“Temuan pyrimidenafil menjadi perhatian serius BPOM karena merupakan jenis BKO yang baru pertama kali kami identifikasi dalam pengawasan obat bahan alam di Indonesia,” ujar Taruna Ikrar, Sabtu (12/9).

Penemuan ini menandai perkembangan dalam pola pencampuran bahan kimia obat secara ilegal ke dalam produk herbal. Produk OBA seharusnya tidak mengandung senyawa obat sintetis yang memerlukan pengawasan penggunaan, dosis, serta pertimbangan kondisi kesehatan penggunanya.

Pyrimidenafil dan efek farmakologisnya

Pyrimidenafil merupakan senyawa yang bekerja dengan menghambat enzim phosphodiesterase-5 atau PDE5. Mekanisme serupa juga dikenal pada obat yang digunakan untuk menangani gangguan fungsi ereksi, termasuk sildenafil.

Penghambatan PDE5 dapat meningkatkan aliran darah dan berpotensi memengaruhi fungsi seksual pria. Namun, keberadaan zat dengan aktivitas farmakologis seperti ini dalam produk herbal menjadi persoalan serius karena konsumen bisa menggunakannya tanpa mengetahui kandungan sebenarnya.

Dalam pengawasan OBA dengan promosi peningkatan stamina pria, BPOM selama ini lebih sering menemukan sildenafil dan tadalafil. Munculnya pyrimidenafil memperlihatkan perubahan pola adulterasi, yakni penggunaan senyawa dengan efek farmakologis sejenis tetapi struktur kimianya berbeda.

“Penggunaan senyawa yang berbeda dari BKO yang selama ini umum ditemukan diduga merupakan salah satu modus operandi pelaku yang tidak bertanggung jawab untuk mengelabui pengawasan dan pengujian produk,” kata Taruna.

Perubahan jenis senyawa dapat menjadi tantangan bagi pengawasan laboratorium. Karena itu, kemampuan untuk mengenali analog, turunan, maupun bahan baru menjadi penting agar produk yang tidak memenuhi ketentuan dapat segera ditindak sebelum beredar lebih luas.

Pengawasan terhadap obat bahan alam diperluas

BPOM menyatakan temuan pyrimidenafil menunjukkan peningkatan kemampuan pengawasan dalam menghadapi perkembangan pemalsuan produk OBA. Lembaga ini terus mengembangkan metode analisis, memperluas jenis pengujian, serta meningkatkan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi senyawa ilegal.

Langkah tersebut diperlukan karena peredaran produk herbal dengan tambahan BKO masih menjadi persoalan. Klaim yang menarik perhatian konsumen, terutama hasil cepat atau manfaat instan, kerap digunakan dalam pemasaran produk yang patut dicermati lebih jauh.

Selama Juli 2026, pengawasan BPOM juga menemukan 35 item OBA tanpa izin edar yang mengandung BKO lain. Sejumlah zat yang teridentifikasi mencakup sildenafil, sibutramin, deksametason, parasetamol, serta beberapa bahan kimia obat lain yang pernah ditemukan sebelumnya.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa praktik penambahan BKO ke dalam produk obat bahan alam belum berhenti. Produk tanpa izin edar yang ditemukan akan ditangani sesuai ketentuan hukum, sementara tindakan pencabutan izin telah dilakukan terhadap tiga produk yang mengandung pyrimidenafil.

Hal yang perlu diperhatikan konsumen

Masyarakat perlu berhati-hati terhadap produk herbal yang menawarkan manfaat sangat cepat atau berlebihan. Klaim seperti meningkatkan stamina secara instan maupun mengatasi pegal linu dalam waktu singkat perlu menjadi tanda untuk memeriksa produk dengan lebih teliti.

Produk yang menjanjikan efek kuat dalam waktu segera tidak selalu berarti aman. Konsumen juga perlu mempertimbangkan bahwa kandungan yang tidak dicantumkan pada kemasan dapat menimbulkan risiko, terlebih bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menggunakan obat lain.

Pembelian sebaiknya dilakukan melalui sumber yang tepercaya, baik toko fisik maupun kanal daring. Informasi pada kemasan, materi promosi, identitas produk, dan status izin edar perlu diperiksa sebelum produk digunakan.

Kehati-hatian bukan hanya diperlukan saat membeli jamu atau suplemen untuk stamina pria. Prinsip yang sama juga berlaku untuk berbagai obat bahan alam dengan klaim kesehatan yang terlalu menjanjikan. Konsumen berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai produk yang digunakan, termasuk kandungan dan legalitas peredarannya.

Penemuan pyrimidenafil menjadi pengingat bahwa istilah “herbal” tidak dengan sendirinya menjamin sebuah produk bebas dari bahan kimia obat. Pengawasan, pengujian laboratorium, dan ketelitian konsumen sama-sama berperan untuk membatasi peredaran produk yang berisiko.

Frequently Asked Questions

What is BPOM Temukan Bahan Pyrimidenafil dalam 3 Produk?

BPOM Temukan Bahan Pyrimidenafil dalam 3 Produk is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BPOM Temukan Bahan Pyrimidenafil dalam 3 Produk matter?

BPOM Temukan Bahan Pyrimidenafil dalam 3 Produk matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment