Berita Bisnis

AS Tuduh 40 Negara Bantu China Akali Tarif Impor Trump

us-government-shutdown-looms-as-house-and-senate-disagree-on-fun-1759301756561_169-4
Foto : James Hernandez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. AS Tuduh 40 Negara Bantu China Akali Tarif Impor Washington
  2. FAQ: Pertanyaan Seputar Tuduhan AS terhadap 40 Negara
  3. Related Reading

AS Tuduh 40 Negara Bantu China Akali Tarif Impor Washington

Kabarberita911.com – Kantor Kepresidenan Amerika Serikat atau Gedung Putih resmi menuduh lebih dari empat puluh negara terlibat dalam skema membantu Tiongkok menghindari tarif impor yang diberlakukan Washington. Negara-negara tersebut meliputi Kanada, Meksiko, Jepang, serta blok Uni Eropa yang dinilai memanfaatkan jalur perdagangan alternatif untuk mengurangi beban pungutan. Berdasarkan laporan Financial Times yang terbit Kamis (13 Agustus), mekanisme transshipment ini menjadi kunci dalam upaya menghindari bea masuk senilai enam puluh miliar dolar Amerika Serikat.

Skema Transshipment yang Meluas

Dokumen resmi berjudul The Great Transshipment Scam mengutip pernyataan berbagai sumber pemerintah maupun swasta di AS. Dokumen tersebut memperkirakan total nilai perdagangan yang dialihkan melalui skema ini berkisar antara empat puluh hingga tiga ratus tiga miliar dolar. Peter Navarro, Kepala Kantor Kebijakan Perdagangan dan Manufaktur Gedung Putih, menjelaskan bahwa Tiongkok telah menerapkan metode canggih dalam melakukan transshipment sejak era Presiden Donald Trump pertama kali memberlakukan pungutan terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu pada tahun 2018.

“Selama bertahun-tahun, penipuan transshipment besar-besaran ini telah memungkinkan China mencuci ekspornya ke lebih dari 40 negara, merampok Departemen Keuangan kami hingga puluhan miliar dolar dan mencuri gaji pekerja Amerika,” kata Navarro.

Praktik ini terus berlanjut setelah kebijakan tarif Trump terhadap berbagai negara menciptakan perbedaan tingkat pungutan yang mendorong pelaku perdagangan mengalihkan rute pengiriman barang. Namun, menurut Navarro, Tiongkok bukanlah satu-satunya pihak yang melakukan hal serupa. Negara-negara lain yang juga terkena tarif tinggi dari AS mulai meniru pola yang sama untuk menghindari beban pungutan.

“Ketika kami memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap negara-negara lain, India, Vietnam dan negara-negara lainnya, mereka juga akan mencoba melakukan transshipment ini,” ujar Navarro.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kantor Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS atau CBP telah mulai mengimplementasikan sistem berbasis kecerdasan buatan yang dinamakan Detective Border. Platform ini berfungsi membantu identifikasi komposisi barang ekspor serta memastikan pelabelan asal produk dilakukan dengan benar untuk keperluan penetapan tarif. Navarro memproyeksikan langkah ini dapat meningkatkan penerimaan bea masuk hingga puluhan miliar dolar bagi Departemen Keuangan AS dan sekaligus membuka ribuan peluang kerja baru bagi masyarakat Amerika.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah menyisipkan ketentuan untuk menekan praktik transshipment ke dalam berbagai kesepakatan perdagangan yang sedang dinegosiasikan dengan negara lain. Hal ini dilakukan setelah Trump menerapkan kebijakan tarif global yang dikenal sebagai Liberation Day pada tahun sebelumnya. Hingga saat ini, USTR masih menyusun aturan asal barang atau rules of origin untuk menentukan negara tempat suatu produk benar-benar diproduksi sehingga tingkat tarif yang berlaku dapat ditetapkan dengan akurat.

“Agenda perdagangan Presiden Trump mencakup kesepakatan dan perjanjian tarif, dan manfaat dari kesepakatan tersebut seharusnya diberikan kepada negara-negara yang menyepakatinya,” kata Greer.

Greer menambahkan bahwa transshipment merupakan tindakan mengambil keuntungan secara cuma-cuma dari kesepakatan Trump dan dilakukan oleh eksportir yang beritikad buruk. Kondisi ini sering kali justru menjadi alasan utama pemberlakuan tarif. Laporan resmi Gedung Putih tersebut dirilis sekitar enam pekan sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan melakukan kunjungan balasan ke Washington setelah Trump mengunjungi Beijing pada bulan Mei lalu.

Tegangan Perdagangan yang Berlanjut

Hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok masih berada dalam kondisi tegang meskipun kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan perdagangan selama satu tahun. Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini mengungkapkan bahwa dirinya bersama Greer telah menyampaikan kekhawatiran kepada Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng mengenai komitmen Beijing untuk tidak memperlambat ekspor logam tanah jarang ke Amerika. Selain itu, Tiongkok juga sedang menghadapi sejumlah kebijakan baru AS terkait keamanan nasional, termasuk keputusan Federal Communications Commission yang melarang impor robot asal Tiongkok.

FAQ: Pertanyaan Seputar Tuduhan AS terhadap 40 Negara

Apa itu transshipment dalam konteks perdagangan internasional?

Transshipment adalah praktik pengalihan barang dari satu negara ke negara lain sebelum akhirnya diekspor ke tujuan akhir. Dalam kasus ini, barang dari Tiongkok dialihkan melalui 40 negara untuk menghindari tarif impor yang lebih tinggi di AS.

Berapa nilai perdagangan yang dialihkan melalui skema ini?

Berdasarkan dokumen The Great Transshipment Scam, total nilai perdagangan yang dialihkan berkisar antara empat puluh hingga tiga ratus tiga miliar dolar Amerika Serikat.

Apa solusi yang ditawarkan AS untuk mengatasi masalah ini?

AS telah meluncurkan sistem Detective Border berbasis kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi komposisi barang dan memastikan pelabelan asal produk dilakukan dengan benar. Selain itu, aturan asal barang juga sedang diperketat.

Kapan laporan resmi Gedung Putih dirilis?

Laporan tersebut dirilis sekitar enam pekan sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan melakukan kunjungan balasan ke Washington setelah kunjungan Trump ke Beijing pada bulan Mei lalu.

Leave a Comment