Berita Health

Mengenal HFRS – Infeksi Hantavirus yang Umum Ditemukan di Indonesia

Mengenal HFRS, Infeksi Hantavirus yang Umum Ditemukan di Indonesia

Mengenal HFRS adalah langkah penting untuk memahami bahaya penyakit yang merusak fungsi ginjal dan mengancam kesehatan masyarakat. HFRS, atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hantavirus. Di Indonesia, penyakit ini sering ditemukan terutama di daerah-daerah tertentu, seperti kawasan pedesaan atau kota-kota yang memiliki populasi tikus yang tinggi. Dengan sejumlah kasus yang terus meningkat, penting untuk mengenali cara penyebaran, gejala, serta langkah pencegahan yang bisa dilakukan.

Apa itu HFRS?

HFRS adalah penyakit infeksi yang termasuk dalam kategori hantavirus, yang bisa menyebabkan peradangan hepar dan gangguan pada sistem pernapasan. Selain itu, virus ini juga dikenal sebagai penyebab penyakit berdarah yang memengaruhi organ ginjal. Infeksi HFRS biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat, seperti tikus, yang menjadi reservoir utama virus. Menurut Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni, HFRS di Indonesia terutama disebabkan oleh virus Seoul, yang berbeda dari virus Hanta yang terdapat di kapal pesiar MV Hondius di Samudera Atlantik.

Virus hantavirus memiliki kemampuan menyebar secara cepat, terutama jika lingkungan tempat tinggal manusia berdekatan dengan habitat tikus. Infeksi HFRS dapat menyebar melalui udara yang mengandung aerosol virus, tetapi juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan sekresi hewan pengerat. Meski penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi, HFRS tetap menjadi perhatian khusus di Indonesia karena tingkat keparahan yang bisa sangat berbahaya jika tidak segera ditangani.

Gejala dan Progresi HFRS

Gejala HFRS biasanya muncul dalam 1-2 minggu setelah terpapar virus, meski dalam kasus tertentu bisa terjadi hingga delapan minggu. Awalnya, penderita sering mengalami demam tinggi, nyeri otot, dan kelelahan yang berat. Gejala ini mirip dengan flu biasa, sehingga bisa menyesatkan. Namun, jika tidak segera diatasi, penyakit ini akan berkembang menjadi gejala lebih serius seperti ruam kulit, tekanan darah rendah, dan kebocoran pembuluh darah.

Dalam tahap lanjut, penyakit HFRS dapat menyebabkan gagal ginjal yang mengancam nyawa. Dokter mengatakan bahwa gejala ini bisa memburuk dalam beberapa hari, terutama jika pasien tidak mendapatkan perawatan yang tepat. Untuk virus Seoul, yang dominan di Indonesia, tingkat kematian berada di bawah 5 persen, tetapi jumlah kematian bisa meningkat hingga 10 persen jika virus lain seperti Dobrava atau Hantaan menyerang.

Cara Penularan HFRS

HFRS menyebar melalui sekresi hewan pengerat, seperti air liur, urine, atau kotoran tikus. Penularan terjadi ketika manusia menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh benda yang tercemar virus. Tikus got cokelat, yang umumnya ditemukan di daerah terbuka, adalah penyebab utama infeksi HFRS di Indonesia. Menurut laman CDC, tingkat keparahan penyakit bergantung pada jenis virus yang menyerang.

Kasus HFRS juga bisa terjadi ketika tikus masuk ke rumah atau ruangan yang tidak terkontrol. Misalnya, dinding rumah yang retak, lubang kecil di lantai, atau tempat-tempat yang sering dihuni tikus dapat menjadi tempat berkembang biak virus. Seseorang dengan sistem imun yang lemah lebih rentan terhadap infeksi ini. Namun, HFRS tidak menular dari manusia ke manusia, sehingga penting untuk mengenali cara penyebaran yang lebih tepat.

Kasus dan Statistik di Indonesia

Dalam periode tahun 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026, Kemenkes mencatat adanya 23 kasus Hantavirus yang berpotensi menyebabkan HFRS. Situasi ini memicu kekhawatiran karena wabah di kapal pesiar MV Hondius menunjukkan bentuk infeksi yang berbeda dari yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Jumlah kasus ini menunjukkan bahwa HFRS tetap menjadi ancaman kesehatan yang signifikan, terutama di musim hujan atau wilayah yang rawan banjir.

Menurut data dari Badan Penyakit Menular, kasus HFRS di Indonesia terutama berada di daerah seperti Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Penyebab utama kenaikan jumlah pasien adalah karena pengelolaan lingkungan yang tidak memadai, sehingga tikus dapat berkembang biak secara bebas. Peningkatan kepadatan populasi hewan pengerat berpotensi meningkatkan risiko infeksi HFRS pada manusia, terutama jika tidak dilakukan upaya pencegahan.

Pencegahan dan Pengobatan HFRS

Untuk mencegah HFRS, penting untuk memastikan lingkungan tempat tinggal bersih dan bebas dari hewan pengerat. Pembersihan rumah, penutupan lubang masuk tikus, dan penggunaan bahan kimia untuk mengusir hewan dapat menurunkan risiko infeksi. Selain itu, memakai sarung tangan saat membersihkan area yang terkontaminasi juga dianjurkan.

Untuk pengobatan, pasien HFRS biasanya diberikan cairan intravena untuk menjaga volume darah, serta obat-obatan yang mengurangi gejala demam dan nyeri. Jika kondisi memburuk hingga gagal ginjal, pasien mungkin membutuhkan dialisis atau perawatan intensif di rumah sakit. Menurut ahli, infeksi HFRS bisa dicegah secara efektif jika masyarakat lebih waspada terhadap lingkungan dan kebiasaan hidup yang dapat meningkatkan risiko paparan virus.

Leave a Comment