Berita Trends

Ramai soal Pasien BPJS Dicibir, Kenapa Orang Mudah ‘Julid’ di Medsos?

Foto : Sarah Moore - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Ramai soal Pasien BPJS Dicibir: Fenomena Julid di Media Sosial yang Perlu Dipahami
  2. Related Reading

Ramai soal Pasien BPJS Dicibir: Fenomena Julid di Media Sosial yang Perlu Dipahami

Kabarberita911.com – Ramai soal Pasien BPJS Dicibir menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial akhir-akhir ini. Kasus komentar negatif terhadap pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap bisa menjadi refleksi minimnya empati masyarakat saat ini, utamanya di media sosial. Dalam psikologi, psikiater dr Lahargo Kembaren menjelaskan bahwa terdapat konsep displacement yang terjadi saat seseorang mengalihkan emosi, terutama kemarahan, dari sumber masalah sebenarnya ke sasaran lain yang terasa lebih mudah dijangkau.

Dalam kasus ini, seorang tenaga kesehatan boleh jadi frustrasi terhadap sistem yang memiliki berbagai keterbatasan. Namun, emosi tersebut beralih dan dilampiaskan pada pasien yang menyampaikan keluhan. Dengan kata lain, kemarahan yang bersumber dari persoalan tertentu dialihkan pada orang yang sebenarnya bukan sumber masalah. Situs CNN Indonesia melaporkan bahwa fenomena ini semakin meningkat seiring dengan penggunaan media sosial yang masif di kalangan masyarakat Indonesia.

Mekanisme Displacement dan Online Disinhibition Effect

Kendati demikian, Lahargo tetap tak membenarkan mekanisme ini.

“Sayangnya, media sosial sering kali memperburuk situasi,” ujar Lahargo, Rabu (5/8), melansir detikhealth.

Dalam media sosial, ada fenomena yang dikenal dengan online disinhibition effect. Fenomena terjadi saat seseorang cenderung lebih berani berkata kasar saat berinteraksi di balik layar. Di media sosial, seseorang tidak berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran. Tak ada kontak mata, ekspresi wajah, maupun respons emosional secara langsung.

Akibatnya, rem sosial menjadi melemah, tambah Lahargo. Media sosial, lanjut Lahargo, juga mempermudah terjadinya dehumanisasi. Orang yang sedang sakit, misalnya, tak lagi dilihat sebagai manusia berperasaan, melainkan diberikan label tertentu. Kategori kesehatan di CNN Indonesia mencatat bahwa banyak pasien BPJS yang mengalami perlakuan serupa di berbagai platform digital.

Dampak Julid terhadap Pasien BPJS dan Masyarakat

“Korban tidak lagi dipandang sebagai seorang ayah, ibu anak, atau seseorang yang sedang kesakitan. Ia hanya dilihat sebagai ‘pasien BPJS’, ‘netizen yang mencari perhatian’, atau ‘orang yang suka mengeluh’,” ujar Lahargo.

Akibatnya, tak ada empati di sana. Yang ada hanyalah kemarahan yang sebenarnya salah sasaran. Ramai soal Pasien BPJS Dicibir ini menunjukkan bagaimana masyarakat cenderung menghakimi tanpa memahami kondisi sebenarnya yang dihadapi oleh pasien.

Fenomena julid di media sosial juga diperparah oleh algoritma yang mendorong konten-konten provokatif untuk mendapatkan engagement lebih tinggi. Ketika seseorang memposting keluhan tentang pasien BPJS, komentar-komentar negatif cenderung viral dan memperkuat stereotip negatif terhadap kelompok tersebut. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana pasien BPJS semakin sulit mendapatkan dukungan sosial yang seharusnya mereka terima.

Dari sisi psikologis, dr Lahargo Kembaren juga menjelaskan bahwa julid bisa menjadi mekanisme pertahanan diri. Ketika seseorang merasa tidak berdaya terhadap sistem yang lebih besar, mereka akan mencari target yang lebih kecil untuk dilampiaskan kemarahannya. Pasien BPJS menjadi sasaran empuk karena status mereka yang dianggap sebagai penerima bantuan pemerintah.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Fenomena Julid Pasien BPJS

Apa yang dimaksud dengan konsep displacement dalam psikologi? Displacement adalah mekanisme pertahanan diri di mana seseorang mengalihkan emosi dari sumber aslinya ke target yang lebih aman atau mudah diakses. Dalam konteks ini, kemarahan terhadap sistem kesehatan dialihkan kepada pasien BPJS.

Mengapa media sosial memperburuk fenomena julid? Media sosial memungkinkan orang berinteraksi tanpa kontak langsung, sehingga rem sosial melemah. Online disinhibition effect membuat orang lebih berani berkata kasar tanpa mempertimbangkan dampak emosional terhadap lawan bicaranya.

Bagaimana cara mengatasi julid terhadap pasien BPJS? Meningkatkan empati melalui edukasi publik, memastikan pasien mendapatkan ruang untuk menyampaikan keluhan tanpa dihakimi, dan mendorong masyarakat untuk memahami keterbatasan sistem kesehatan yang ada.

Apakah fenomena ini hanya terjadi di Indonesia? Tidak, fenomena julid terhadap penerima bantuan kesehatan terjadi di berbagai negara. Namun, di Indonesia hal ini semakin terlihat jelas karena tingginya penetrasi media sosial dan jumlah pengguna BPJS yang besar.

Bagaimana dampak jangka panjang dari julid terhadap pasien BPJS? Dampak jangka panjang termasuk penurunan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan, pasien yang enggan menyampaikan keluhan, dan semakin terstigmatisasinya kelompok pasien BPJS dalam masyarakat.

Leave a Comment