Berita Timur Tengah

Kisah Teroris Yahudi yang Pernah Membuat Inggris Tak Berdaya

Foto : Sandra Hernandez - kabarberita911.com

Wes Streeting Pertahankan Sikap Soal Kejahatan Perang Israel di Gaza

Kabarberita911.com – Kisah Teroris Yahudi yang Pernah membuat Inggris kewalahan di masa lalu kini kembali menjadi sorotan. Hubungan antara Inggris dan Israel terus menunjukkan dinamika yang kompleks sepanjang sejarah. Menteri Pertahanan baru Kerajaan Inggris, Wes Streeting, konsisten dalam pendiriannya bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza. Posisi ini bukan hal baru baginya; sebelum ditunjuk menjadi menteri, ia sudah pernah menyampaikan kecaman serupa terhadap tindakan militer Israel.

Saat berbicara dengan wartawan di Pameran Dirgantara Internasional Farnborough, Streeting menekankan bahwa Israel harus dinilai menggunakan standar yang sama seperti yang diterapkan pada Inggris dan sekutu-sekutunya. Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa Israel tetap memiliki hak fundamental untuk membela diri. Pernyataan ini menunjukkan keseimbangan antara kritik dan dukungan terhadap negara Yahudi tersebut.

“Saya telah menyatakan dengan sangat jelas kekhawatiran saya tentang tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat. Komentar saya ada di sana. Komentar tersebut telah dipublikasikan. Komentar tersebut tercatat. Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya tidak membuat komentar-komentar tersebut,” kata Streeting dengan tegas.

Inggris Kewalahan di Masa Awal Kemerdekaan Israel

Pada tahun 1948, ketika negara Israel baru saja dibentuk, hubungan antara kedua negara berada pada titik kritis. Hal ini terjadi karena Inggris, yang saat itu menguasai Palestina, terus-menerus diganggu oleh para teroris Yahudi. Kisah Teroris Yahudi yang Pernah menjadi ancaman serius bagi kekuasaan kolonial Inggris di Timur Tengah ini masih sering dikaji oleh para sejarawan hingga kini. Sebelum menjadi warga Israel, komunitas Yahudi Palestina yang dikenal sebagai Yishuv telah menjadi mitra dekat bagi Inggris.

Dalam sebuah dokumen resmi tahun tersebut, pemerintah Inggris menyatakan bahwa “Rumah Nasional Yahudi”, sebagaimana dijanjikan dalam Deklarasi Balfour tahun 1917, merupakan kebijakan tetap. Mereka juga berencana untuk mengganti sistem pemerintahan langsung dengan pemerintahan demokratis untuk semua penduduk. Namun, rencana ini tidak pernah terwujud akibat perang dan perlawanan dari pihak Palestina maupun Zionis terhadap Inggris. Konflik ini menjadi salah satu bab paling penting dalam sejarah kolonialisme Inggris.

Awalnya, milisi Yahudi di Palestina yang dikenal sebagai Haganah atau “pertahanan” berfungsi sebagai pasukan pembantu bagi polisi dan tentara Inggris. Dinas intelijen mereka, yang disebut Sherut Hayediot atau Shay, juga telah mendukung Inggris dalam upaya perang melawan bangsa Arab Palestina. Dua tokoh penting yang memimpin gerakan tersebut adalah Menachem Begin dan Yitzhak Shamir, yang kemudian menjadi perdana menteri setelah Israel merdeka. Peran mereka dalam perlawanan terhadap Inggris menjadi fondasi sejarah modern Israel.

Ketika Ben-Gurion, pendiri Israel, mengetahui dari sumber di dalam kabinet bahwa Inggris akan mencegah para penyintas Yahudi Eropa memasuki Palestina, ia mengizinkan kelompok garis keras Yahudi untuk beroperasi. Kelompok-kelompok tersebut adalah Irgun yang dipimpin Begin dan Lehi yang dipimpin Shamir. Di mata otoritas Inggris, kedua kelompok ini dikenal sebagai “Geng Stern”. Kisah Teroris Yahudi yang Pernah membuat Inggris kewalahan ini menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan kendali atas wilayah yang menjadi mandat mereka.

Semakin lama, Geng Stern menunjukkan perilaku yang semakin brutal. Salah satu peristiwa paling terkenal adalah pengeboman Hotel King David di Yerusalem pada 22 Juli 1947. Serangan ini menewaskan lebih dari 90 orang, termasuk para intelijen dan tentara Inggris. Menurut sejarawan John Ferris, peristiwa ini disebut sebagai tindakan yang “menyelesaikan perceraian Inggris-Zionis”. Insiden ini menjadi titik balik dalam hubungan antara kedua negara.

Selama tahun 1947 yang kritis, Inggris berjuang untuk mendapatkan kembali akses terhadap gerakan perlawanan Yahudi. Pemerintah Inggris juga mencoba membawa orang Yahudi dan Arab kembali ke meja perundingan, tetapi gagal mendapatkan partisipasi resmi dari kelompok-kelompok Yahudi. Semenjak itu, karena melemah akibat perang dan menghadapi kekerasan dari komunitas Yahudi, menteri luar negeri Inggris, Ernest Bevin, menyerahkan konflik tersebut kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga meninggalkan mandat Inggris.

“Negara Israel dideklarasikan pada Mei 1948. Inggris seharusnya mengawasi pembagian wilayah, termasuk persatuan ekonomi antara kedua negara, tetapi sebagian besar lepas tangan,” tulis laman the Guardian. Israel dan bangsa Arab sebagian besar dibiarkan bertikai sendiri, dan sebagai akibat dari perang tahun 1948, sekitar 750.000 orang Arab mengungsi, dari total populasi 1.500.000 jiwa. Kisah Teroris Yahudi yang Pernah menjadi ancaman bagi Inggris ini meninggalkan warisan yang masih terasa hingga hari ini.

Leave a Comment