Mantan ART Laporkan Dugaan Perlakuan Kasar dan Kekerasan dari Erin
Mengungkap Peristiwa yang Diduga Terjadi di Rumah Mewah
Solving Problems – Pada akhir April 2026, Rien Wartia Trigina, mantan asisten rumah tangga (ART), mengungkap pengalaman buruk yang dialaminya bersama rekan-rekan di lingkungan mantan istri Andre Taulany. Dalam penjelasannya, Hera, salah satu korban, menyebutkan bahwa dirinya pernah mengalami memar dan rasa sakit yang mengganggu hingga sakit kepala akibat perlakuan kasar dari Erin. Ini menjadi bagian dari dugaan kekerasan yang dianggap sebagai bagian dari Solving Problems dalam mengatasi konflik di lingkungan kerja.
Sejumlah foto yang menunjukkan luka-luka juga ditunjukkan Hera kepada awak media saat ditemani oleh kuasa hukumnya, Ernest Hasibuan. Ernest menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil visum dari rumah sakit untuk memperkuat pernyataan klien. “Kalau dari upaya yang mereka sampaikan, entah mereka buat laporan, entah kirim somasi, sampai sekarang kami belum dapat panggilan, yang pertama. Yang kedua, kami juga belum dapat somasi apa pun,” tambahnya. Solving Problems dalam kasus ini juga menjadi fokus pembicaraan antara pihak korban dan pelaku.
“Di sini merah, punggung. Ini perih. Efeknya itu pusing kepala saya. Habis dipukul itu dua hari kliyengan terus pusing, enggak bisa apa-apa. Saya tiduran saja,”
Proses Hukum dan Bukti yang Diberikan Erin
Dalam kesempatan yang sama, Hera menjelaskan bahwa kekerasan puncaknya terjadi pada sore hari jam 3. Menurutnya, Erin menggunakan mukena salat ashar untuk menendang kepalanya hingga terjengkal. “Puncaknya dengan sapu lidi itu sore jam 3. Kemudian dilanjutkan lagi dengan tendang, ditendang. Dan itu dia pakai mukena salat ashar, nendang saya. Saya jongkok di depan dia terus ditendang kepala saya sampai saya terjengkal,”
Ernest menegaskan bahwa pihaknya tidak akan gentar meskipun Erin telah mengirimkan somasi dan melaporkan Hera ke polisi dengan tuduhan penyebaran data pribadi. Solving Problems dalam kasus ini terus berjalan, dan kuasa hukum Hera memastikan bahwa proses hukum tidak terganggu. “Kami tidak ada tawar-menawar. Sekarang proses hukum kami tetap terkait adanya dugaan tindak pidana penganiayaan, ini tetap berjalan dan berproses di Polres Jakarta Selatan,” jelasnya.
“[Dia bilang] ‘kamu ini kerja asal-asalan, kamu ini tolol, kamu ini bego’. [Saya jawab] ‘maaf Bu, tapi jangan main tangan dong Bu, jangan kekerasan Bu, sakit’. Saya bilang begitu kan, terus kata Bu Erin, ‘Ya kamu soalnya kerjanya tolol! Kamu tahu enggak ini tuh rumah mewah bukan kayak rumah kamu gembel’,”
Sementara itu, Erin membantah tudingan penganiayaan terhadap ART. Ia menegaskan memiliki bukti yang memperkuat pernyataannya. “Tidak benar sama sekali (dugaan penganiayaan terhadap ART), saya punya bukti CCTV-nya,” ungkap Erin. “Tidak ada itu (penganiayaan terhadap ART), saya bicara dengan percaya diri. Saya bisa buktikan, ya saya ikuti proses hukum, saya punya buktinya semua CCTV isi satu rumah, total ada 14 video,”
Dalam Solving Problems ini, keduanya terus berupaya memperjelas fakta. Hera mengklaim bahwa perlakuan kasar dari Erin bukan hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga melibatkan beberapa ART lain yang mengalami sikap serupa. “Mereka cuma dapat kasar saja,” kata Hera. “Semua ART digoblokin, ditololin.”
“Jadi, ini bukan sekadar kekerasan fisik, tapi juga sikap merendahkan. Mereka diperlakukan seperti orang tidak penting,”
Solving Problems dalam kasus ini diharapkan dapat memberikan keadilan kepada para korban. Selain itu, penjelasan lebih lanjut dari Hera kepada penyidik Polres Metro Jakarta Selatan juga menjadi bagian dari upaya mengungkap kebenaran. Pihak korban menekankan bahwa visum dari rumah sakit akan menjadi bukti penting dalam memperkuat klaim mereka. Proses hukum yang berjalan kini menjadi langkah penting dalam Solving Problems antara ART dan Erin.