Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Perut Makin Buncit? Waspadai Risiko Diabetes Tipe 2

Published Agustus 10, 2026 · Updated Agustus 10, 2026 · By kabarberita911

Perut Semakin Membuncit? Ini Tanda Bahaya Diabetes Tipe 2

Kabarberita911.com – Penumpukan lemak di bagian perut bukan sekadar masalah estetika. Kondisi ini ternyata memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko seseorang terkena diabetes melitus tipe 2. Menurut para ahli, akumulasi lemak di sekitar area perut dapat memicu terjadinya resistensi insulin, yang merupakan salah satu mekanisme kunci dalam perkembangan penyakit diabetes tipe 2.

Sidartawan Soegondo, seorang konsultan endokrin metabolik dan diabetes, menekankan bahwa obesitas seharusnya tidak hanya dilihat dari segi berat badan atau penampilan luar. "Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2," ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (10/8).

Sebagai Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital, Sidartawan menambahkan bahwa risiko ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama bagi individu obesitas yang memiliki penumpukan lemak di sekitar perut. Lemak di area tersebut membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, sebuah kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin.

Mekanisme Resistensi Insulin dan Perkembangan Diabetes

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas. Fungsi utamanya adalah membantu sel-sel tubuh menyerap dan memanfaatkan glukosa atau gula darah sebagai sumber energi. Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, pankreas harus bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulin agar kadar gula darah tetap terkendali.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin akan menurun. Di sisi lain, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga semakin berkurang. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah dapat terus meningkat dan pada akhirnya berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2.

"Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2," jelasnya, sebagaimana dilansir dari Antara.

Pengendalian Berat Badan dan Pilihan Terapi

Oleh karena itu, Sidartawan menilai bahwa pengendalian berat badan merupakan salah satu bagian penting dalam upaya menurunkan risiko diabetes tipe 2. Penanganan obesitas, menurutnya, tetap perlu diawali dengan perubahan gaya hidup. Dua hal yang perlu menjadi perhatian adalah pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.

Pola makan sehat dapat membantu mengontrol asupan kalori sekaligus menjaga kadar gula darah. Sementara itu, aktivitas fisik secara rutin dapat membantu meningkatkan kebugaran dan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Namun, perubahan gaya hidup tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap orang.

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat, terutama pada pasien obesitas yang juga memiliki penyakit penyerta seperti diabetes tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol. "Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif," ujarnya.

Perkembangan terapi diabetes juga menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah, tetapi juga dapat membantu pengelolaan berat badan. Salah satunya adalah kelompok obat GLP-1 receptor agonist dan terapi dual incretin. Terapi tersebut antara lain bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta membantu mengendalikan kadar gula darah.

Terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, terutama ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya. Sejumlah penelitian juga menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c. HbA1c merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk melihat pengendalian gula darah dalam jangka panjang.

Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup. Meski demikian, Sidartawan menegaskan bahwa penanganan diabetes dan obesitas tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada semua pasien. Hal yang pasti adalah, terapi penyakit metabolik yang berkaitan juga dengan obesitas, kini memiliki lebih banyak pilihan salah satunya dengan terapi Tirzepatide. Terapi tersebut hadir di Diabetes Connection Care.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Perut Makin Buncit Waspadai Risiko Diabetes?

Perut Makin Buncit Waspadai Risiko Diabetes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Perut Makin Buncit Waspadai Risiko Diabetes matter?

Perut Makin Buncit Waspadai Risiko Diabetes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.