Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo Sebelum Tewas

Published Agustus 11, 2026 · Updated Agustus 11, 2026 · By kabarberita911

Keluarga Sutrimo Mulai Curiga Setelah Komunikasi Terakhir dan Kejanggalan Sebelum Kematian

Kabarberita911.com – Kematian Sutrimo, seorang pria yang dikenal sebagai kepala rumah tangga (Karumga) dari mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, memicu kecurigaan di kalangan keluarganya. Pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas ini ditemukan dalam kondisi tewas di area depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Proses Pemakaman dan Kekhawatiran Awal

Kuasa hukum keluarga, Aan Rohaeni, menjelaskan bahwa saat jenazah pertama kali diterima, kondisi almarhum sudah bersih dan telah dikafani tanpa tanda-tanda mencurigakan. Jenazah langsung dimakamkan pada malam hari setelah tiba di rumah keluarga. Saat itu, tidak ada kecurigaan yang muncul.

Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya, ujar Aan saat dihubungi wartawan melalui telepon pada Senin (10/8).

Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan bahwa gula darah Sutrimo mencapai angka lebih dari 600. Pria tersebut memang memiliki riwayat penyakit diabetes.

Barang Pribadi Tidak Kembali dan Dilema Keluarga

Kecurigaan keluarga mulai tumbuh ketika barang-barang milik Sutrimo tidak kunjung dikembalikan. Awalnya, keluarga diyakinkan bahwa ponsel dan barang lainnya akan dikirim menyusul. Namun, setelah beberapa hari berlalu, tidak ada kabar yang jelas.

Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih, kata Aan.

Aan menambahkan bahwa keluarga berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka merasakan adanya kejanggalan, namun di sisi lain mereka takut menghadapi perkara besar yang melibatkan tokoh penting di Indonesia. Keluarga khawatir jika membuat laporan, mereka akan direpotkan.

Mereka ketakutan, karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan, jelas Aan.

Kecurigaan semakin meningkat ketika HP dan dompet Sutrimo tidak juga dipulangkan. Selain itu, keluarga mempertanyakan identitas orang yang mengantarkan jenazah, mengingat nomor telepon orang tersebut kini tidak aktif, padahal sebelumnya masih dapat dihubungi.

Keterbatasan Finansial dan Kondisi Emosional

Keluarga Sutrimo memiliki keterbatasan finansial untuk menjalani proses hukum yang panjang jika perkara ini dilaporkan. Mereka merasa tidak memiliki jaminan apa pun jika muncul masalah di kemudian hari.

Mereka merasa, saya ini siapa. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah, papar Aan.

Kondisi emosional keluarga, khususnya ibu Sutrimo, juga menjadi pertimbangan penting dalam mengambil keputusan.

Dokumen Kronologi yang Menyembunyikan Fakta

Persoalan baru muncul ketika Aan mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Ia terkejut mengetahui bahwa dalam dokumen tersebut disebutkan adanya busa yang keluar dari mulut dan hidung almarhum.

Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan, ungkap Aan.

Menurut Aan, formulir kronologi tersebut tidak pernah diserahkan kepada keluarga saat jenazah dipulangkan. Ia menduga pengantar jenazah secara sengaja menyembunyikan dokumen tersebut.

Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi, kata Aan.

Aan juga membandingkan tanda tangan dalam dokumen yang ia peroleh dengan dokumen milik keluarga. Ia menemukan kesamaan tanda tangan antara dokumen tersebut dengan yang dimiliki keluarga, khususnya tanda tangan Febrio (Adiono).

Komunikasi Terakhir dan Pengembalian ke Jakarta

Sebelum ditemukan tewas, Sutrimo sempat diminta kembali ke Jakarta oleh atasannya, Febrie Adriansyah. Polisi telah melakukan penggeledahan di kediaman Febrie pada 8 Juli. Berdasarkan keterangan keluarga, Sutrimo pulang sehari setelah penggeledahan tersebut.

Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya, jelas Aan.

Ketika itu, melalui telepon, Febrie meminta Sutrimo segera kembali ke Jakarta. Komunikasi terakhir ini menjadi salah satu titik penting yang mempertajam kecurigaan keluarga terhadap penyebab kematian Sutrimo.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo?

Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo matter?

Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.