Bupati Arief Dorong Pengembangan Pertanian Organik di Kabupaten Blora
Blora Bertekad Jadi Pusat Pertanian Organik di Jawa Tengah
Kabarberita911.com – Kabupaten Blora memiliki ambisi besar untuk menjadi salah satu sentra pertanian organik di wilayah Jawa Tengah. Visi tersebut diungkapkan oleh Bupati Arief Rohman dalam acara Muktamar Petani Nahdliyyin yang diselenggarakan di Pesantren Al-Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Semarang, pada Senin (10/8).
Sebagai daerah penghasil beras terbesar nomor enam di Jawa Tengah, Blora telah membuktikan dirinya sebagai lumbung pangan nasional. Dalam paparannya, Bupati Arief menyoroti peran Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama jaringan petani Nahdliyin dalam mendorong transformasi sektor pertanian lokal.
Data Produksi yang Mengesankan
Pencapaian pertanian Blora menunjukkan tren positif yang konsisten. Produksi Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2025 tercatat mencapai 530.818 ton. Angka ini melonjak 106.407 ton atau setara dengan 25,07 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar 424.411 ton.
Peningkatan tersebut tidak lepas dari naiknya produktivitas lahan menjadi 50,98 kuintal per hektare. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi kenaikan sebesar 0,96 kuintal per hektare atau 1,92 persen.
Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Kabupaten Blora pada tahun 2025 mencapai 530.818 ton, meningkat 106.407 ton atau 25.07 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 424.411 ton. Peningkatan produksi tersebut didukung oleh naiknya produktivitas menjadi 50.98 kuintal per hektare, atau meningkat 0,96 kuintal per hektare (1.92 persen) dibandingkan tahun 2024.
Sementara itu, produksi beras juga mengalami pertumbuhan signifikan. Tahun 2025 mencatatkan angka sekitar 305.252 ton, naik 61.190 ton atau 25,07 persen dari produksi tahun 2024 yang mencapai sekitar 244.062 ton.
Strategi Pengembangan Pertanian Organik
Bupati Arief menekankan bahwa pertanian organik merupakan solusi masa depan. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kesehatan konsumen, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya.
Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah setiap desa menyediakan lahan bengkok minimal satu hektare sebagai lokasi uji coba pertanian organik. Dengan jumlah 295 desa dan kelurahan di Blora, potensi pengembangan mencapai 295 hektare lahan organik.
Jika satu desa bisa menyediakan 1 hektare tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik.
Pemkab Blora juga sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan BUMN seperti Pertamina. Kolaborasi ini bertujuan mendukung pendampingan dan pembinaan petani secara lebih intensif.
Kami ingin NU, khususnya LPPNU, terus menggerakkan semangat petani organik di setiap desa. Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik.
Peran NU dalam Pertanian Berkelanjutan
Bupati Arief menjelaskan bahwa pertanian organik merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga tanah, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menghadirkan pangan sehat bagi masyarakat. Ia berharap kader NU sebagai petani binaan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan pertanian organik di Kabupaten Blora.
Ke depan, kami berharap kader NU sebagai petani binaan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan pertanian organik di Kabupaten Blora. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelopor, penggerak, dan teladan bagi masyarakat dalam menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sementara itu, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menyatakan bahwa forum Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan bersama atas kondisi petani, khususnya warga NU yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua yang ada di Jawa Tengah dan lainnya. Muktamar petani ini lisensi Jawa Tengah, bukan berarti untuk menunjukkan perlawanan atau tandingan. Merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka.
Menurut KH Ubaidullah, forum ini dimaksudkan sebagai ruang bagi petani Nahdliyin untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, serta memperjuangkan kepentingan mereka secara mandiri.
FAQ: Pertanian Organik di Blora
Apa target pengembangan pertanian organik di Kabupaten Blora? Target utama adalah menjadikan Blora sebagai kabupaten percontohan pertanian organik di Jawa Tengah melalui pemanfaatan lahan bengkok di setiap desa.
Berapa luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik? Dengan 295 desa dan kelurahan, Blora memiliki potensi 295 hektare lahan untuk pengembangan pertanian organik.
Siapa saja mitra yang mendukung program ini? Mitra utama meliputi LPPNU, PBNU, Pertamina, serta berbagai organisasi petani Nahdliyyin di Jawa Tengah.
Berapa produksi gabah Blora tahun 2025? Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Blora tahun 2025 mencapai 530.818 ton, meningkat 25,07 persen dari tahun sebelumnya.