Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Marah, Israel Mau Copot Status Warga 2 Sutradara Film NAZA soal Gaza

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Foto : Elizabeth Wilson - kabarberita911.com

Kontroversi Film Gaza Memicu Seruan Pencabutan Kewarganegaraan Dua Sutradara Israel

Kabarberita911.com – Ketegangan politik di Israel kembali menguat setelah Menteri Kebudayaan Miki Zohar menyerukan pencabutan kewarganegaraan Yuval Abraham dan Rachel Szor. Keduanya merupakan warga Israel sekaligus sutradara dokumenter NAZA, film yang menyoroti penggunaan kecerdasan buatan oleh Israel dalam serangan ke Jalur Gaza, Palestina.

Seruan itu disampaikan Zohar melalui akun media sosial X pada Minggu, 13 September. Ia mengecam karya berdurasi 80 menit tersebut, yang mengangkat kesaksian tentang proses penentuan sasaran serangan dan dampaknya terhadap warga sipil Gaza.

“Sebagai menteri kebudayaan, saya akan segera bertindak untuk mencabut kewarganegaraan Israel dari para pembuat film tercela ini karena telah mengkhianati negara,” ujar Zohar.

Zohar menilai Abraham dan Szor telah melukai negara mereka demi mendapat penerimaan dari kelompok yang ia sebut anti-Semit di berbagai negara. Pernyataan tersebut memperlihatkan besarnya tekanan politik terhadap para pembuat film yang menyampaikan kritik terbuka atas operasi militer Israel di Gaza.

Film Dibangun dari Kesaksian 24 Informan

NAZA disusun melalui wawancara dengan 24 orang dari lingkungan militer dan intelijen Israel. Film itu menggambarkan dugaan penggunaan AI dalam serangan terhadap Gaza serta menempatkan isu perlindungan warga sipil sebagai pusat pembahasannya.

Karya Abraham dan Szor memperoleh penghargaan juri di Festival Film Venesia. Pencapaian tersebut justru diikuti gelombang kecaman dari sejumlah tokoh pemerintahan Israel, yang melihat dokumenter itu sebagai serangan terhadap citra negara dan institusi militernya.

Abraham pernah menjelaskan bahwa sumber anonim yang diwawancarai dalam film mengungkap dugaan bahwa pembunuhan massal di Palestina bukan semata akibat kesalahan di lapangan. Dalam pandangan sumber tersebut, tindakan itu berlangsung dengan perencanaan dan mengarah pada “dehumanisasi total warga Palestina.”

Militer Israel menolak keras pemakaian testimoni anonim dalam NAZA. Mereka menyatakan identitas para narasumber tidak dapat diperiksa, sehingga isi kesaksiannya juga tidak bisa dipastikan. Pejabat Israel dan pihak militer selama ini bersikeras bahwa warga sipil bukan target serangan, serta menyebut kematian warga terjadi sebagai akibat yang tidak disengaja.

Kecaman dari Menteri Lain

Kemarahan terhadap dua sineas tersebut tidak hanya datang dari Zohar. Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan, Itamar Ben Gvir, turut menyerang Abraham dan Szor dengan pernyataan bernada keras.

“Kalian adalah aib dan memalukan bagi seluruh rakyat Israel. Enyahlah!” kata Ben Gvir.

Abraham dan Szor sebelumnya telah dikenal melalui film No Other Land, yang meraih Oscar pada 2025. Dokumenter itu menampilkan kekerasan yang dialami warga Palestina di Tepi Barat dan menyoroti tindakan para pemukim Israel di wilayah tersebut.

Rangkaian kecaman ini memperlihatkan bahwa karya dokumenter dapat menjadi bagian dari perdebatan yang jauh lebih luas: bukan hanya soal sinema, tetapi juga soal kebebasan berekspresi, kritik terhadap negara, dan narasi mengenai perang yang sedang berlangsung.

Jalur Hukum Pencabutan Status Warga

Pencabutan kewarganegaraan secara hukum memang dimungkinkan di Israel, walaupun langkah tersebut jarang digunakan. Mahkamah Agung Israel pada 2022 menegaskan bahwa negara dapat mencabut status kewarganegaraan seseorang apabila ia tidak menunjukkan “kesetiaan”, termasuk dalam perkara seperti spionase atau pengkhianatan.

Aturan itu kemudian diperluas pada 2023 agar dapat diterapkan terhadap orang yang dijatuhi hukuman atas perkara “terorisme”. Namun, prosesnya tidak cukup dilakukan melalui pernyataan politik. Menteri dalam negeri harus mengajukan permohonan pencabutan kewarganegaraan, lalu permohonan tersebut memerlukan persetujuan menteri kehakiman dan pengesahan hakim.

Dengan mekanisme tersebut, seruan Zohar belum berarti kewarganegaraan Abraham dan Szor otomatis dapat dicabut. Setiap upaya formal akan menghadapi proses administratif dan peradilan yang menentukan apakah dasar hukum pencabutan benar-benar terpenuhi.

Gaza dalam Krisis Kemanusiaan

Kontroversi film ini muncul ketika Gaza mengalami kehancuran luas akibat agresi Israel. Lebih dari 73 ribu orang dilaporkan tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Sebagian besar wilayah Gaza telah rusak parah, sementara warga yang masih bertahan terus menghadapi pengungsian.

Dalam situasi seperti itu, perdebatan mengenai NAZA tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mendasar tentang akuntabilitas atas dampak perang. Film dokumenter kerap menggunakan kesaksian, rekaman, dan penelitian untuk membawa pengalaman yang sulit dijangkau publik ke ruang diskusi lebih luas. Namun, ketika isi film menyentuh dugaan pelanggaran serius oleh negara sendiri, pembuatnya dapat menghadapi konsekuensi politik dan sosial yang besar.

Bagi Abraham dan Szor, penghargaan internasional atas karya mereka kini berjalan beriringan dengan tekanan dari dalam negeri. Bagi publik, polemik ini menegaskan bahwa perdebatan tentang Gaza juga berlangsung melalui budaya, hukum, dan kebebasan untuk mengungkapkan kritik.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Marah Israel Mau Copot Status Warga 2?

Marah Israel Mau Copot Status Warga 2 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Marah Israel Mau Copot Status Warga 2 matter?

Marah Israel Mau Copot Status Warga 2 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.