Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BMKG Ungkap Penyebab Gempa M5,9 Guncang Maluku

Published Mei 22, 2026 · Updated Mei 22, 2026 · By Michael Lopez

BMKG Ungkap Penyebab Gempa M5,9 Guncang Maluku

BMKG Ungkap Penyebab Gempa M5 9 Guncang - BMKG Ungkap Penyebab Gempa M5,9 Guncang Maluku – Pada Jumat (22/5) pukul 08.05 WIB, wilayah Laut Maluku mengalami gempa tektonik dengan magnitudo M5,9. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengungkap penyebab gempa tersebut, menegaskan bahwa aktivitas tektonik di daerah itu menjadi faktor utama. Dalam laporan resmi, BMKG menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menyebabkan gelombang tsunami, meskipun masyarakat tetap disarankan tetap waspada terhadap dampak sekunder seperti pergerakan tanah atau retakan di permukaan. Pusat gempa terletak di koordinat 1,17 derajat LU dan 126,14 derajat BT, dengan kedalaman 38 kilometer. Episenter gempa berada di laut, sekitar 117 kilometer ke arah tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dan dampaknya dirasakan di sejumlah daerah di sekitar wilayah tersebut.

Penyebab Gempa dan Mekanisme Seismik

Penyebab gempa M5,9 yang terjadi di Maluku, menurut BMKG, terkait dengan pergerakan lempeng tektonik yang mengalami deformasi. Aktivitas gempa ini terjadi akibat adanya pergeseran batuan di wilayah Lempeng Laut Maluku, yang merupakan bagian dari sistem lempeng aktif di Pasifik. Dalam pernyataannya, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk dalam kategori gempa dangkal, dengan mekanisme pergerakan geser oblique thrust. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran antara lempeng Eurasia dan Pasifik, yang secara alami terjadi setiap waktu dan dapat memicu getaran tanah.

"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya deformasi batuan di Lempeng Laut Maluku," ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam keterangannya, Jumat (22/5).

Analisis data seismik menunjukkan bahwa gempa ini tidak menghasilkan peringatan dini untuk gelombang tsunami, karena kedalaman gempa yang tidak cukup untuk memicu efek laut yang signifikan. Meski demikian, BMKG menekankan bahwa pengamatan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada aktivitas gempa susulan yang bisa berdampak lebih besar. Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Maluku dan sekitarnya memang mengalami peningkatan frekuensi gempa kecil, yang menjadi indikasi awal dari pergerakan lempeng yang lebih besar.

Dampak Gempa dan Daerah Terkena

Guncangan gempa M5,9 ini dirasakan oleh warga di beberapa daerah, terutama di Laut Maluku. Wilayah Batang Dua menjadi salah satu yang terkena dampak paling kuat, dengan skala intensitas III-IV pada skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Sementara itu, daerah seperti Sofifi, Halmahera Barat, Tidore, dan Manado hanya merasakan getaran dengan intensitas II-III. Getaran terasa cukup jelas, dengan beberapa warga melaporkan bahwa rumah mereka bergetar dan ada truk berat yang bergerak di jalan raya.

Berdasarkan data BMKG, gempa ini tidak berdampak signifikan terhadap infrastruktur atau permukiman. Namun, lembaga tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah, terutama jika ada indikasi pergerakan lempeng yang lebih intens dalam waktu dekat. BMKG juga menyebutkan bahwa seismogram menunjukkan pergerakan geofisika yang stabil, tetapi perlu diawasi untuk memastikan tidak ada perubahan drastis. Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir diminta untuk memperhatikan perubahan kondisi laut dan siap mengambil tindakan darurat jika diperlukan.

Langkah Pemantauan dan Penanggulangan

Setelah gempa M5,9 terjadi, BMKG langsung melakukan pemantauan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada peningkatan risiko bencana. Dalam waktu 20 menit setelah gempa utama, lembaga tersebut mencatat belum ada aktivitas gempa susulan yang terukur. Ini menjadi penilaian awal bahwa gempa tersebut bersifat lokal dan tidak menyebabkan efek berantai. Meski demikian, BMKG tetap menyarankan warga tetap menjaga kewaspadaan, terutama di daerah yang memiliki riwayat gempa sebelumnya.

Menurut BMKG, aktivitas gempa di Maluku sering terjadi karena lokasi tersebut berada di jalur pertemuan tiga lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Pergerakan lempeng ini memicu deformasi batuan yang akhirnya menghasilkan guncangan. Dalam laporan tambahan, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memantau informasi terkini dari lembaga tersebut, karena perubahan aktivitas seismik bisa terjadi secara mendadak. Pemantauan cuaca juga diperlukan, karena hujan ringan hingga sedang bisa memperparah kondisi jika terjadi gempa berulang.

Pengalaman Warga dan Penjelasan BMKG

Banyak warga yang mengungkapkan pengalaman mereka saat gempa M5,9 terjadi. Dalam wawancara, seorang warga dari Batang Dua mengatakan, "Guncangan terasa cukup keras, seperti ada truk berat melintas di dekat rumah. Kami langsung berhenti beraktivitas dan menunggu berita dari BMKG." BMKG juga memberikan penjelasan bahwa gempa ini terjadi karena tekanan akumulasi yang dilepaskan dari lempeng tektonik. Sejumlah pakar geofisika menyebutkan bahwa pergeseran lempeng Maluku adalah fenomena alami yang wajib diwaspadai, terutama dalam rangka meminimalkan risiko kerusakan.

Kemudian, BMKG mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak panik meskipun gempa terasa kuat. Lebih lanjut, lembaga tersebut menjelaskan bahwa data gempa akan terus diperbarui, termasuk monitoring terhadap kenaikan aktivitas seismik. Sementara itu, pemerintah setempat diminta untuk melakukan evaluasi terhadap infrastruktur di daerah terdampak, terutama di wilayah yang memiliki risiko kerusakan lebih tinggi. Dengan pemantauan yang terus dilakukan, BMKG memastikan bahwa gempa M5,9 ini tidak mengancam kehidupan masyarakat secara besar-besaran.

Analisis Terperinci dan Peringatan

Analisis BMKG terhadap gempa M5,9 ini menunjukkan bahwa getaran tidak berdampak signifikan terhadap permukiman. Namun, lembaga tersebut memberikan peringatan bahwa aktivitas gempa di wilayah Maluku bisa meningkat akibat tekanan lempeng yang terus berlangsung. Dengan kedalaman 38 kilometer, gempa ini masuk ke dalam kategori dangkal, yang biasanya menyebabkan getaran lebih kuat dibandingkan gempa yang terjadi di kedalaman yang lebih dalam. Peringatan ini menjadi penting karena wilayah Maluku memiliki sejarah panjang dalam menghadapi bencana alam, termasuk gempa besar yang pernah terjadi sebelumnya.

BMKG juga memberikan rekomendasi kepada masyarakat untuk mengenali tanda-tanda gempa susulan dan mempersiapkan diri dengan baik. Terlebih di wilayah pesisir, dimana potensi gelombang laut bisa meningkat jika gempa lebih besar. Dengan memahami mekanisme penyebab gempa M5,9 ini, masyarakat diharapkan bisa lebih siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi. Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi cuaca yang sering berubah drastis di wilayah Maluku, sehingga bisa mengambil langkah pencegahan sebelumnya.