Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Cerita Bobby Nasution Tolak Proyek Markup OPD: Gila, Eggak Mau Saya

Published Mei 22, 2026 · Updated Mei 22, 2026 · By Sandra Hernandez

Latest Program: Bobby Nasution Tolak Proyek Markup OPD, Gila, Eggak Mau Saya

Pembangunan Gedung dengan Anggaran Rp484 Miliar

Latest Program menjadi topik hangat dalam pembicaraan terkini di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut). Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution mengungkapkan keputusannya menolak proyek pembangunan fisik yang diajukan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan anggaran mencapai Rp484 miliar. Menurut Bobby, keputusan menolak ini diambil karena proyek tersebut tidak disertai dengan penjelasan rinci tentang konsep dan penggunaan dana. "Saya belum dilantik, dinyatakan menang Pilgub Sumut oleh KPU saja sudah banyak yang menelpon selamat, lalu langsung mengajukan proyek. Gila ya, nggak mau saya tanda tangan," ujarnya di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (21/5).

Bobby menyoroti bahwa proyek yang diajukan tidak memperlihatkan strategi yang jelas dalam perencanaan. Ia menegaskan bahwa setiap program harus memiliki manfaat yang signifikan bagi masyarakat, bukan hanya untuk menghabiskan anggaran secara cepat. "Kadang ada OPD yang ajukan proyek tanpa dasar yang kuat. Mereka datang ke meja saya, ajukan nama proyek, dan langsung minta tanda tangan. Saya tolak karena prosesnya terlalu buru-buru dan tidak transparan," tambahnya.

Transparansi dalam Pengambilan Keputusan

Kebijakan Bobby dalam menolak proyek ini dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan transparansi dalam penggunaan anggaran daerah. Ia berharap semua OPD melakukan kajian mendalam sebelum mengajukan proyek, terutama yang memiliki nilai anggaran besar. "Kita harus hindari praktik permainan proyek. Semua harus masuk akal dan ada bukti bahwa proyek itu benar-benar mendukung pembangunan jangka panjang," jelasnya.

Menurut Bobby, terdapat beberapa OPD yang menilai bahwa proyek yang diajukan tidak perlu dijelaskan secara mendalam. Ia mengkritik sikap ini, karena dinilai lebih mengutamakan kecepatan daripada kualitas. "Kadang proyeknya sudah jadi, baru diungkapkan ke publik. Itu jadi masalah, karena masyarakat harus tahu apa yang mereka bayar," imbuhnya.

Respons Masyarakat dan Pemangku Kepentingan

Keputusan Bobby menolak proyek ini mendapat respons positif dari sejumlah masyarakat dan aktivis. Mereka mengapresiasi langkahnya dalam memastikan anggaran tidak digunakan secara boros. "Ini langkah berani, karena banyak OPD ingin cepat-cepata menandatangani proyek tanpa memikirkan dampaknya," kata seorang warga Medan yang mengikuti acara tersebut.

Dari sisi politik, Bobby menilai bahwa kebijakan ini mencerminkan komitmen Pemprov Sumut untuk berubah. Ia menekankan bahwa dalam era baru, semua keputusan harus berbasis data dan pertimbangan yang matang. "Latest Program ini bukan sekadar tentang proyek fisik, tapi juga tentang cara kerja yang lebih baik," tambahnya.

Proses Evaluasi yang Ketat

Bobby juga menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi ketat terhadap semua proyek yang diajukan. Ia meminta OPD memberikan rencana yang lengkap, termasuk analisis dampak sosial dan ekonomi. "Jika proyeknya nggak ada hasilnya, kita nggak mau menghabiskan anggaran daerah untuk proyek yang bisa langsung dibatalkan," ujarnya.

Langkah ini diharapkan menjadi contoh bagi OPD lainnya untuk lebih teliti dalam penyusunan proposal. Bobby menekankan bahwa keputusan menyetujui proyek harus didasarkan pada pertimbangan yang jelas, bukan hanya karena hubungan atau tekanan dari pihak tertentu. "Latest Program ini akan menjadi pilar dalam reformasi birokrasi di Sumut," pungkasnya.

Keterlibatan KPU dan Prosedur Pilgub

Proyek yang ditolak Bobby juga terkait dengan prosedur Pilgub Sumut yang baru selesai. Ia menyatakan bahwa beberapa OPD langsung memanfaatkan momentum kemenangan dirinya untuk mengajukan proyek tanpa disertai persiapan yang memadai. "Mereka berharap saya segera menyetujui proyek karena status saya sebagai Gubernur yang baru terpilih," kata Bobby.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara proses pilgub dan kebijakan anggaran. Bobby berharap ada mekanisme yang lebih ketat untuk mencegah proyek-proyek yang diajukan hanya dalam rangka mempercepat proses penandatanganan. "Latest Program ini seharusnya tidak terkait langsung dengan hasil pilgub, tapi diproses secara profesional," imbuhnya.

Komitmen untuk Reformasi Birokrasi

Dengan menolak proyek markup ini, Bobby menunjukkan komitmennya untuk reformasi birokrasi di Sumut. Ia berharap proses pengambilan keputusan menjadi lebih terbuka dan transparan. "Saya ingin semua OPD lebih proaktif dalam menjelaskan kebutuhan proyek mereka, bukan hanya meminta tanda tangan," jelasnya.

Kebijakan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam mengubah budaya kerja di Pemprov Sumut. Bobby menegaskan bahwa dalam tiga bulan pertama masa jabatan, ia akan terus memperketat proses pengajuan proyek. "Latest Program akan menjadi bukti bahwa Pemprov Sumut ingin berubah, bukan hanya mengulangi kesalahan masa lalu," pungkasnya.