Kemenhut Tangkap Harimau Sumatera Terkam Ternak Warga di Sumbar
Kemenhut Tangkap Harimau Sumatera Terkam Ternak Warga di Agam, Sumatera Barat
Kabarberita911.com – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat berhasil mengevakuasi seekor Harimau Sumatera yang selama ini berkeliaran di kawasan permukiman dan fasilitas publik. Satwa langka tersebut akhirnya tertangkap setelah petugas memasang perangkap jebak di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Penangkapan ini dilakukan menyusul sejumlah laporan serangan terhadap hewan ternak warga setempat yang semakin meningkat frekuensinya.
Timeline Serangan dan Penangkapan
Laporan pertama mengenai serangan harimau diterima oleh Balai KSDA Sumbar pada Senin sore, tanggal 10 Agustus 2026. Menurut keterangan resmi yang dirilis Kamis (13/8), laporan masuk pukul 16.30 WIB menyebutkan dua ekor kambing milik warga menjadi korban. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan dan memastikan tidak ada ancaman bagi masyarakat sekitar.
Hasil investigasi menunjukkan satu kambing ditemukan mati di dalam kandang dengan luka gigitan di bagian leher. Sementara itu, kambing kedua berhasil diseret oleh harimau ke area semak belukar, hanya menyisakan dua kaki depannya. Kejadian ini menjadi perhatian serius mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan berbagai fasilitas publik dan permukiman warga.
Ristianto Pribadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, menjelaskan jarak lokasi kejadian dari fasilitas pendidikan dan ibadah. "Lokasi tersebut berjarak sekitar 50 meter di belakang SDN 10 Palimbatan, sekitar 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh, dan sekitar 150 meter dari Masjid Syukra," ujarnya. Kedekatan ini menjadi alasan utama mengapa masyarakat merasa khawatir dengan keberadaan harimau di wilayah tersebut.
Respons Cepat dan Mitigasi Konflik
Frekuensi serangan yang berulang menjadi pemicu tindakan cepat dari BKSDA Sumbar. Sebelumnya, pada 31 Juli 2026, tercatat juga interaksi negatif antara harimau dengan warga yang mengakibatkan anjing dan kambing menjadi korban. Mengingat harimau masih aktif berkeliaran di sekitar permukiman dan area sekolah, petugas memasang box trap pada Selasa (11/8) pukul 18.00 WIB dengan strategi yang matang.
Kurang dari dua jam kemudian, tepatnya pukul 19.45 WIB, penjaga SDN 10 Palimbatan melaporkan bahwa harimau telah masuk ke dalam perangkap. Tim BKSDA Sumatera Barat kemudian melakukan evakuasi dengan koordinasi bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses berjalan aman. Evakuasi ini melibatkan berbagai pihak termasuk petugas kehutanan, polisi, dan relawan lokal.
Tim Balai KSDA Sumatera Barat, saat ini telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatera tersebut dengan berkoordinasi bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa," kata Ristianto.
Kebijakan Konservasi dan Komitmen Nasional
Setelah berhasil dievakuasi, harimau tersebut dititipkan ke lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan medis dan penanganan lebih lanjut. Langkah penanganan cepat ini sejalan dengan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menempatkan mitigasi konflik manusia dan satwa liar sebagai prioritas dalam pengelolaan konservasi. Harimau Sumatera termasuk dalam kategori kritis menurut IUCN Red List, sehingga setiap upaya penyelamatan menjadi sangat penting.
Pemasangan box trap dinilai sebagai salah satu strategi mitigasi untuk mengurangi risiko interaksi berulang, terutama mengingat kedekatan lokasi dengan sekolah dan fasilitas umum. Ristianto menambahkan bahwa komitmen ini juga mencerminkan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap perlindungan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya coexistence dengan satwa liar.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penangkapan Harimau Sumatera
Apa yang harus dilakukan warga jika melihat harimau berkeliaran? Warga disarankan untuk tetap tenang, tidak mendekati satwa, dan segera menghubungi BKSDA atau petugas kehutanan terdekat melalui hotline yang tersedia.
Ke mana harimau akan dipindahkan setelah penangkapan? Harimau akan dititipkan ke lembaga konservasi terdekat untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai atau pusat rehabilitasi.
Berapa lama proses evakuasi biasanya berlangsung? Proses evakuasi umumnya memakan waktu 2-4 jam tergantung kondisi harimau dan fasilitas yang tersedia di lokasi.
Bagaimana cara melaporkan serangan satwa liar? Masyarakat dapat melaporkan melalui BKSDA Sumatera Barat atau melalui aplikasi pelaporan resmi Kementerian Kehutanan yang tersedia secara online.
Untuk informasi lebih lanjut tentang konservasi satwa liar di Indonesia, kunjungi CNN Indonesia Nasional atau CNN Indonesia Olahraga.