Kabarberita911
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kawasan Gunung Ijen Terbakar, Kobaran Api Meluas di Area Cagar Alam

Published September 4, 2026 · Updated September 4, 2026 · By Karen Johnson - kabarberita911.com

Foto : Karen Johnson - kabarberita911.com

Api Melahap Lereng Gunung Ijen: Tiga Hari Kobaran Tak Terkendali di Jantung Cagar Alam

Kabarberita911.com – Asap tebal dan jilatan api yang membentang di punggung lereng Gunung Ijen menjadi pemandangan yang tak lagi asing bagi warga permukiman di kaki gunung sejak beberapa hari terakhir. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan konservasi di kawasan itu telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dengan sebaran titik api yang kian melebar dan terlihat jelas dari sejumlah desa di lereng selatan Ijen. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 3 September 2026, dan hingga Jumat pagi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Malam yang Terbelah Cahaya Api

Berdasarkan keterangan resmi dari pihak konservasi, titik api pertama kali teridentifikasi menyala pada Kamis dini hari, sekitar pukul 00.00 WIB. Saat itu, nyala api tampak kontras membelah kegelapan malam di area puncak lereng, menciptakan siluet terang yang mudah dikenali dari jarak jauh. Lokasi awal kebakaran berada di bagian dalam sebelah atas kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, sebuah zona perlindungan yang menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna endemik Jawa Timur.

Purwantono, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Jember, membenarkan adanya kebakaran tersebut dan menjelaskan bahwa tim di lapangan masih dalam tahap mobilisasi untuk mengakses lokasi serta memulai upaya pemadaman.

"Informasi awal titik api berada di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, bagian dalam sebelah atas. Saat ini teman-teman di lapangan masih melakukan mobilisasi tim untuk mengakses lokasi dan melakukan pemadaman," ujar Purwantono pada Jumat, 4 September.

Hambatan di Lapangan: Komunikasi dan Akses Terbatas

Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai KSDA belum mampu memberikan rincian mengenai luas lahan yang telah terbakar maupun jumlah personel yang telah diterjunkan ke lokasi. Proses pendataan dan penanganan di lapangan menghadapi kendala serius, terutama karena jaringan komunikasi di kawasan Merapi Ungup-Ungup sangat terbatas. Sinyal telepon seluler nyaris tidak tersedia di bagian dalam cagar alam, sehingga koordinasi antar tim menjadi lambat dan informasi lapangan sulit ditransmisikan secara real-time ke pos komando.

Kondisi medan juga memperparah situasi. Lereng Merapi Ungup-Ungup memiliki kemiringan curam, jalur setapak yang sempit, serta vegetasi lebat yang menyulitkan pergerakan personel pemadam. Tanpa dukungan helikopter atau jalur akses yang memadai, setiap langkah menuju titik api harus dilakukan secara manual, memakan waktu berjam-jam dan meningkatkan risiko bagi petugas di lapangan.

Kemarau sebagai Pemicu Utama

Purwantono menegaskan bahwa kondisi musim kemarau merupakan faktor dominan yang membuat kawasan konservasi tersebut sangat rentan terhadap kebakaran. Selama berbulan-bulan tanpa curah hujan yang memadai, tumpukan vegetasi kering, dedaunan gugur, dan serasah di lantai hutan berubah menjadi bahan bakar alami yang mudah menyala. Ditambah embusan angin kencang yang lazim terjadi di dataran tinggi Ijen, sebaran api dapat meluas dalam hitungan menit setelah titik pemicu pertama muncul.

"Musim kemarau ini sangat rawan. Vegetasi kering jika terkena pemicu api dan tertiup angin bisa langsung menyebar dengan cepat," pungkas Purwantono.

Pola ini bukan hal baru bagi kawasan pegunungan di Jawa Timur. Setiap tahun, periode Juni hingga September membawa risiko kebakaran hutan yang meningkat secara signifikan. Gunung Ijen, yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, memiliki ekosistem pegunungan dengan kelembapan tinggi secara alami. Namun ketika curah hujan turun drastis dan suhu udara meningkat, keseimbangan itu terganggu. Lapisan humus yang biasanya lembap menjadi kering, dan vegetasi yang seharusnya terurai secara perlahan justru mengering menjadi bahan bakar padat.

Signifikansi Konservasi dan Dampak bagi Warga Sekitar

Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup bukan sekadar hamparan hutan biasa. Kawasan ini melindungi keanekaragaman hayati yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem Gunung Ijen, termasuk spesies burung endemik, mamalia kecil, serta vegetasi pegunungan yang tidak ditemukan di dataran rendah. Kebakaran yang meluas di area ini berpotensi merusak habitat jangka panjang, mengganggu siklus reproduksi satwa liar, dan mengubah komposisi vegetasi secara permanen jika tidak ditangani dengan tepat.

Bagi masyarakat di lereng Ijen, kebakaran ini juga membawa implikasi langsung. Asap dan partikel halus dari kebakaran hutan dapat menurunkan kualitas udara di permukiman terdekat, memicu gangguan pernapasan terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain itu, jika api merembes ke area perkebunan atau lahan pertanian warga di kaki gunung, kerugian ekonomi dapat terjadi dalam skala lokal. Warga yang menyaksikan kobaran api dari kejauhan selama tiga hari terakhir tentu menghadapi kecemasan tersendiri, mengingat ketidakpastian kapan dan bagaimana kebakaran akan berhenti.

Pihak berwenang diharapkan dapat mempercepat akses ke lokasi, memperkuat koordinasi lintas instansi, serta menyiapkan skenario penanganan darurat yang memperhitungkan keterbatasan komunikasi di kawasan pegunungan. Setiap jam keterlambatan berarti luas area terbakar yang bertambah, dan pemulihan ekosistem yang rusak membutuhkan waktu bertahun-tahun—jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan api untuk menghanguskannya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kawasan Gunung Ijen Terbakar Kobaran Api Meluas?

Kawasan Gunung Ijen Terbakar Kobaran Api Meluas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kawasan Gunung Ijen Terbakar Kobaran Api Meluas matter?

Kawasan Gunung Ijen Terbakar Kobaran Api Meluas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.