Emoji Loud Crying Face Populer di Gen Z, Apa Maknanya?
Apa Arti Emoji Loud Crying Face Populer di Kalangan Gen Z?
Kabarberita911.com β Emoji Loud Crying Face Populer (π) telah melampaui emoji rolling-on-the-floor laughing (π€£) serta tears of joy (π) sebagai simbol digital paling sering dikirim oleh generasi Gen Z. Berdasarkan definisi dari Emojipedia.org, emoji ini merepresentasikan kesedihan yang begitu dalam hingga penderitanya menangis dengan suara keras. Berbeda dari emotikon wajah menangis biasa, air mata pada emoji ini digambarkan mengalir sangat deras, sehingga intensitas emosinya jauh lebih tinggi.
Google mengumpulkan data secara anonim dari sekitar 665 juta emoji yang dikirim melalui Gboard oleh pengguna di seluruh dunia pada tahun 2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa emoji ini tidak sekadar dipakai untuk mengekspresikan duka. Banyak pengguna Gen Z justru menyisipkannya dalam konteks humor, candaan ringan, atau sebagai penanda emosi yang meluap tanpa harus benar-benar sedang bersedih.
Laporan The New York Times yang menelaah unggahan Reddit serta mewawancarai sejumlah ahli bahasa menemukan bahwa remaja menganggap banyak emoji lain terlalu generik atau "pasaran". Data juga memperlihatkan bahwa remaja perempuan merupakan kelompok paling aktif dalam menggunakan emoji ini. Perempuan secara umum cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih luas dan kosakata emosional yang lebih kaya, sehingga mereka lebih leluasa dalam mengekspresikan perasaan melalui simbol digital.
"Remaja, khususnya remaja perempuan, selalu berada di barisan terdepan dalam perubahan bahasa," ujar Sali A. Tagliamonte, profesor linguistik dari University of Toronto, sebagaimana dikutip The Print pada Kamis (20/8).
Perbedaan Tren Emoji Antar Generasi
Google turut memetakan pergeseran peringkat penggunaan emoji lintas generasi. Beberapa simbol yang dulu dominan kini kehilangan popularitas, sementara simbol lain naik daun. Sebagai contoh, emoji thumbs-up (ππ½) semakin jarang muncul, sedangkan folded-hands (ππ») justru semakin sering dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Generasi Milenial ke atas cenderung memilih satu emoji tertentu secara konsisten untuk menyampaikan perasaan tertentu. Sebaliknya, Gen Z dan Gen Alpha jauh lebih variatif: mereka kerap menciptakan makna baru pada emoji yang sudah ada, atau mengganti simbol lama dengan alternatif yang dianggap lebih segar dan relevan. Emoji bunga mawar layu (π₯), misalnya, kini banyak dipakai remaja untuk menggambarkan rasa sedih, patah hati, atau kelelahan emosionalβperasaan yang sebelumnya lebih sering diwakili oleh hati retak (π).
Perbedaan serupa terlihat pada penggunaan emoji api, yang lebih diminati remaja dibandingkan emoji "100%" yang lebih lazim dipilih kelompok usia lebih tua. Emoji Moai (πΏ), yang menampilkan patung batu raksasa berwajah manusia, juga menjadi favorit Gen Z dan Gen Alpha untuk merespons dengan nada datar, memasang ekspresi lempeng, atau menyampaikan sindiran halus tanpa kata.
FAQ: Emoji Loud Crying Face Populer
Apakah emoji π hanya boleh dipakai saat benar-benar sedih?
Tidak. Data Google menunjukkan bahwa banyak pengguna Gen Z menyisipkan emoji ini dalam konteks humor, candaan, atau sebagai penanda emosi yang berlebihan secara ironis. Makna sebenarnya sangat bergantung pada konteks percakapan.
Kenapa Gen Z lebih memilih emoji π dibanding emoji menangis lainnya?
Menurut analisis The New York Times, remaja menganggap emoji-emoji menangis lain terlalu generik. Emoji Loud Crying Face Populer dianggap lebih ekspresif dan mampu menangkap intensitas emosi yang mereka rasakan, sekaligus memberi ruang untuk interpretasi humor.
Apakah tren penggunaan emoji akan terus berubah?
Ya. Setiap generasi menciptakan konvensi baru dalam penggunaan simbol digital. Gen Z dan Gen Alpha secara aktif mengganti atau memberi makna baru pada emoji lama, sehingga lanskap komunikasi digital terus bergeser dari waktu ke waktu.