Jadwal Lampung Financial Festival: Ada Bankir Top hingga King Nassar
Penutupan Lampung Financial Festival 2026: Dari Ruang Diskusi Bankir hingga Panggung King Nassar
Kabarberita911.com – Novotel Hotel Lampung, Minggu 6 September 2026, menjadi saksi akhir dari dua hari intensitas intelektual dan hiburan yang dipadatkan dalam satu atap. Lampung Financial Festival 2026, inisiatif yang digulirkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), resmi menutup gelaran tahunannya dengan rangkaian acara yang membentang dari kebijakan makro hingga tawa penonton di barisan belakang.
Sebelum masuk ke detail agenda hari kedua, penting memahami mengapa sebuah lembaga penjamin simpanan memilih menggelar festival berskala regional. LPS, yang mandat utamanya melindungi dana nasabah hingga batas tertentu ketika bank gagal, memandang literasi keuangan masyarakat sebagai benteng pertama pencegahan krisis kepercayaan. Dengan menggelar forum di luar Jakarta, lembaga ini berupaya mendekatkan narasi kebijakan kepada pelaku usaha, akademisi, dan warga Lampung secara langsung. Festival semacam ini bukan sekadar seminar; ia dirancang sebagai ruang dialog dua arah di mana pertanyaan dari lantai bisa mengubah arah pembicaraan di panggung.
Pembukaan dan Dialog Kebijakan
Hari kedua diresmikan oleh Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, menandai kehadiran pemerintah daerah dalam ekosistem keuangan lokal. Kehadiran kepala daerah pada forum semacam ini kerap menjadi sinyal bahwa otoritas lokal memandang stabilitas sektor perbankan sebagai bagian dari agenda pembangunan kota, bukan sekadar urusan kementerian di ibu kota.
Sesi Policy Dialogue menghadirkan dua figur kunci dari regulator dan otoritas fiskal. Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membawa perspektif tentang bagaimana aset kripto dan teknologi baru menggeser lanskap risiko perbankan. Di sebelahnya, Herman Saheruddin selaku Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, menyoroti dimensi fiskal dari stabilitas sistem keuangan. Perpaduan dua sudut pandang ini—regulator mikro dan pembuat kebijakan fiskal—memberi peserta gambaran utuh tentang bagaimana keputusan di Jakarta berimbas pada operasional bank di tingkat daerah.
Panel "The Bankers": Lima Direktur di Satu Meja
Bagian paling ditunggu oleh kalangan industri perbankan adalah Business Talks bertajuk Panel Discussion 1 – The Bankers. Lima petinggi bank BUMN duduk bersebelahan dan menjawab pertanyaan moderator secara terbuka:
Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk; Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk; Hussein Paolo Kartadjoemena, Direktur Finance & Strategy PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk; Anton Sukarna, Direktur Sales & Distribution PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk; serta Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Negara Tabungan (Persero) Tbk.
Kehadiran lima bank sekaligus—empat konvensional dan satu syariah—dalam satu panel jarang terjadi di forum regional. Bagi pelaku usaha di Lampung, kesempatan mendengar langsung strategi distribusi kredit, arah transformasi digital, dan prioritas pembiayaan dari para pengambil keputusan tertinggi bank-bank tersebut memiliki nilai praktis yang sulit digantikan oleh siaran pers atau laporan tahunan.
Inspirational Talks dan Sesi Eksekutif
Dua sesi Inspirational Talks mewarnai agenda hari kedua. Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan RI, hadir membawa perspektif lintas sektor tentang peran budaya dalam membentuk etika ekonomi masyarakat. Sementara itu, Anggito Abimanyu, Ketua Dewan Komisioner LPS, menyampaikan pandangan tentang arah perlindungan simpanan dan peran LPS dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perbankan nasional.
Sesi 1on1 Executive mempertemukan peserta dengan Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara. Danantara, kendaraan investasi negara yang baru dibentuk, menjadi topik hangat karena mandatnya mengelola aset strategis pemerintah. Diskusi satu-ke-satu dengan COO lembaga semacam ini memberi peserta akses langka ke logika investasi negara di era pascapandemi.
Edukasi Finansial untuk Generasi Muda
Di antara sesi-sesi berat, agenda menyisipkan komponen edukasi yang ditujukan pada peserta usia lebih muda. Edu Class bertajuk "Cerdas Finansial Aman Menata Masa Depan" serta Financial Class bersama BNI dirancang agar peserta memahami dasar-dasar pengelolaan keuangan pribadi, risiko investasi, dan hak-hak nasabah secara aplikatif. Pendekatan ini sejalan dengan target nasional literasi keuangan yang terus didorong OJK dan Bank Indonesia, mengingat survei berkala menunjukkan tingkat pemahaman masyarakat tentang produk keuangan masih berada di kisaran menengah.
Hiburan: Dari Stand-Up hingga King Nassar
Setelah berjam-jam menyerap data dan kebijakan, panitia mengalihkan suasana dengan dua nomor hiburan. Marshell Widianto tampil membawakan Stand Up Comedy, menyisipkan lelucon bertema ekonomi dan kehidupan perkotaan. Penutupan malam kemudian diserahkan sepenuhnya kepada King Nassar, penyanyi dangdut yang dikenal dengan energi panggung tinggi. Pilihan menghadirkan musisi dangdut sebagai penutup festival keuangan bukan kebetulan: dangdut memiliki basis pendengar lintas kelas sosial di Lampung, sehingga momen penutupan mampu menyatukan ruangan yang sebelumnya terpecah oleh kepentingan profesional berbeda-beda.
Implikasi bagi Ekosistem Keuangan Lampung
Penyelenggaraan festival di luar pusat ekonomi nasional membawa efek berantai. Bank-bank yang mengirim direktur utamanya ke forum ini secara implisit mengakui bahwa Lampung dan wilayah Sumatra bagian selatan merupakan pasar yang memerlukan perhatian strategis, bukan sekadar cabang operasional. Bagi pelaku UMKM lokal, akses langsung ke pejabat bank membuka kanal komunikasi yang selama ini hanya tersedia melalui kantor cabang. Bagi masyarakat umum, paparan dua hari tentang perlindungan simpanan, risiko aset kripto, dan dasar pengelolaan keuangan pribadi berpotensi mengubah perilaku finansial dalam jangka menengah.
Dengan demikian, Lampung Financial Festival 2026 bukan sekadar agenda dua hari di sebuah hotel. Ia merupakan titik temu antara kebijakan nasional, kepentingan korporasi perbankan, kebutuhan edukasi publik, dan dinamika budaya lokal—semuanya dipadatkan dalam satu akhir pekan yang berakhir dengan dentuman musik dangdut di lantai Novotel.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Jadwal Lampung Financial Festival?Jadwal Lampung Financial Festival is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Jadwal Lampung Financial Festival matter?Jadwal Lampung Financial Festival matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.